26. Pelukan Pertama

1.9K 176 5
                                        

Motor sport itu berhenti didepan rumah mewah, sang pemilik membuka helmnya ketika sebuah mobil asing terparkir manis disana. "Ada siapa ya?" gumamnya.

Mungkin rekan kerja atau teman sang ibu, pikirnya. Ia memarkirkan motornya disamping mobil tersebut lalu berjalan masuk kedalam, "Aku pul---mih?"

"Paul," kedua sejoli itu sontak menatapnya sedangkan Paul masih mematung didepan pintu melihat seseorang yang tak ia harapkan kehadirannya ada disini.

"Ck!" dengan wajah menahan kesal, Paul membalikkan badan dan pergi keluar rumah.

Papih yang terlihat ingin mengejar ditahan oleh mamih, "Biar aku aja." ucapnya yang diangguki oleh pria berjas itu.

Mamih berlari mencegah sang anak yang akan menaiki motornya, "Tunggu dulu dong nak,"

"Ngapain sih dia kesini mih?" tanya Paul tak bersahabat.

Terdengar hembusan napas dari mamih, wanita itu tersenyum lembut, "Semalem kamu lupa ya?"

Dahi Paul mengernyit, sejenak ia terdiam mengingat apa yang terjadi kemarin malam.

Flashback On.

"Lagi apa nak?"

Paul menoleh pada wanita yang memakai piyama merah itu, "Ngerjain tugas." jawabnya.

"Ada yang susah gak?" mamih ikut melirik pada soal-soal yang bertaburan rumus-rumus rumit tersebut.

"Masih bisa sendiri kok."

Mamih mengusap gemas puncak kepala anaknya, "Pinter banget jagoan mamih," pujinya membuat Paul melebarkan senyuman.

"Paul," panggil mamih.

"Iya mih," ia memutar seluruh badannya menghadap sang ibu yang tengah duduk dipinggiran kasur.

"Kamu sayang mamih gak?"

"Kok tanya gitu?" kata Paul heran.

"Jawab aja, mamih pengen denger,"

"Sayang bangetlah mih,"

Mamih tersenyum, "Jadi kamu mau nurutin permintaan mamih?"

"Hah? Permintaan apa?"

"Tapi kamu mau nurutin gak?"

"Aku pasti bakal penuhin semua permintaan mamih." ujar Paul dengan serius.

"Tanpa kecuali?"

"Iya."

"Janji?"

Paul mengangguk, "Iya mamih sayang, jadi apa?" tanyanya lagi.

Wanita itu mengambil napas sejenak membuat Paul memandangnya penuh penasaran. "Mamih pengen kamu maafin papih."

Mata Paul membulat, "Mih, yang bener aja!"

"Seenggaknya demi mamih, Powl."

Flashback Off.

"Aku kira semalem cuma bercanda,"

"Mana mungkin mamih bercandain soal ini," balasnya dengan raut serius.

"Ayolah nak," bujuk mamih, "Tuhan aja Maha Pemaaf masa kita enggak?"

"Yuk,"

Paul menghela napas, "Aku lakuin ini semua demi mamih lho ya." tuturnya membuat mamih mengangguk tersenyum, ia menggandeng tangan sang anak masuk kedalam.

PANAROMA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang