"Kenapa aku harus maafin dia, Mih?" tanya Paul dengan emosi yang memuncak.
Mereka sudah tiba dirumah karena Paul memilih pergi dari sana dan mengajak mamih pulang tanpa sempat membeli apapun.
"Dia udah ninggalin kita cuma karna kita gak punya apa-apa," ujarnya, "Terus dia dateng buat apalagi?"
"Gimana pun juga dia papih kamu nak," kata mamih berusaha meredam emosi Paul.
Lelaki itu tertawa sumbang, "Papih?" ulangnya meremehkan.
"Apa pernah dia dulu nengok aku?"
"Pernah biayain aku?"
"Atau pernah ngajarin aku belajar?"
"Gak pernah!" sarkasnya membuat mamih berkaca-kaca betapa menderitanya mereka dulu.
"Kemana aja mih dia selama ini? Dia hilang bahkan mamih juga terluka karna sikap dia, mamih banting tulang sana sini terus dia tiba-tiba muncul gitu aja,"
Paul terkekeh miris mengingat apa yang terjadi dimasa lalunya, "Lucu ya mih,"
Air mata mamih mulai mengalir membasahi pipi, yang diungkapkan Paul semuanya benar.
Mamih bukan tak mengerti perasaan anaknya tapi ia ingin mereka bisa kembali utuh, hatinya memang terluka tapi ia hanya ingin Paul bisa merasakan sosok ayah lagi, merasakan memiliki orang tua lengkap seperti anak-anak lain.
"Dia milih pergi buat cari kesenangannya sendiri dan setelah bertahun-tahun lamanya sampe aku sebesar ini dia baru muncul, apa masih pantes dia aku sebut papih?" kata Paul dengan menggebu-gebu.
"Kita lebih mirip orang asing mih," lanjutnya nyaris berbisik, sorot matanya memancarkan rasa kecewa yang dalam.
Paul menghembuskan napasnya, melihat tangis sang ibu membuat hatinya berdenyut sakit, tangannya bergerak menghapus air mata mamih. "Maaf mih, aku belum bisa nerima dia." lirihnya.
Tangis mamih semakin pecah, ia mendekap erat sang anak.
"Tolong jangan ngorbanin hati mamih lagi buat aku, mamih berhak bahagia. Ada mamih disamping aku itu juga udah cukup bikin aku seneng," katanya pelan.
Anak-anak lain memang di didik menjadi hebat oleh ayahnya sementara papih mendidik Paul menjadi hebat tanpa peran seorang ayah.
***
Tak terasa hari libur berlalu begitu cepat, mereka kembali masuk sekolah dan melaksanakan upacara pagi. Salma, Roni dan Nabila tengah berbincang santai didepan kelas seraya menunggu kedatangan seseorang.
"Tuh, yang diomongin datang juga," sahut Salma.
Terlihat Paul berjalan kearah mereka dengan kedua telinganya disumpal headset.
Nabila tersenyum, "Hai," sapanya.
"Hm." Paul berlalu masuk kekelas begitu saja membuat ketiganya menjadi heran.
"Kok sekarang dia jadi dingin ke kamu Nab?" tanya Salma yang dijawab gelengan oleh gadis itu.
"Apa aku punya salah ya?" batin Nabila.
Kedua gadis itu kompak menatap Roni meminta penjelasan, Roni yang tengah mengunyah permen karet itu sontak menggeleng cepat, "Suer dah gue juga gatau."
***
"Kenapa Nab? Laper kah?" Salma menatap khawatir gadis disamping yang tengah memegangi perutnya.
"Tadi kan kita makan bareng," Nabila menatap tak bersahabat.
Salma menyengir, benar juga. "Atau mau BAB ya?"
"Bukan." Nabila menggeleng menyudahi aktivitas menulisnya.
"Terus apa dong?"
Perutnya terasa sangat sakit, ia menggoyangkan lengan Salma, "Anter aku ke air yuk,"
"Tuhkan mau BAB," sahut Salma dengan mata yang masih menulis diatas buku.
"Dibilang bukan juga ih!" ketus Nabila sembari bangkit berdiri.
Salma menatap heran, "Hari ini Nabila sensian banget, ndak suka deh, lagi pms ya?"
"Enggak!"
Gadis itu terkekeh, pandangannya jatuh pada rok Nabila, dengan segera ia mendekat pada temannya dan berbisik pelan, "Rokmu merah Nab."
"Hah?" Nabila ikut melirik dan benar saja.
"Udah tanggalmu?" tanyanya pelan.
"Biasanya diakhir kok."
"Bawa jaket gak?"
"Enggak, kan belajarnya bentar."
Salma memperhatikan semua teman kelasnya, "Siapa ya yang bawa jaket," gumamnya, "Roni aja kali ya?"
Ia menoleh pada Nabila, "Yaudah kamu ke air duluan, biar aku yang pinjemin." ujarnya yang langsung diangguki gadis itu.
***
Menit demi menit berjalan, bel pulang yang ditunggu Nabila akhirnya berdering nyaring, suasana moodnya sedang menurun ditambah ia tak enak pada Roni karena memakai jaketnya untuk menutupi.
Ketika akan membereskan alat tulis, Roni menyadari sesuatu yang ganjal. "Lah lu gak jadi minjem jaket gue Sal?" tanyanya saat melihat jaket hitam itu masih nangkring manis diatas mejanya.
"Hah? Udah gue ambil kok, yang ada kupluknya kan?" Salma balik bertanya memastikan.
Sementara Nabila masih memperhatikan interaksi dua orang itu seraya memegang jaket yang entah siapa pemiliknya.
"Jaket gue yang ini nih," kata Roni sambil mengangkat baju yang bisa menghangatkan tubuh itu.
Salma melongo. "Lah, terus gue ngambil yang siapa dong?"
"WOI JAKET GUE DIMANA?" teriak Paul tiba-tiba.
"Hah, jadi?" kedua gadis itu saling pandang, Salma menatapnya tak percaya,
"Semesta emang suka ikut andil ya Nab."
***
Pagi harinya, Nabila datang kesekolah membawa sebuah totebag. Senyumnya melebar tatkala melihat seseorang yang tak asing dalam ingatannya, "Powl!"
Anehnya, lelaki itu terus mengabaikan panggilan dari dirinya membuat Nabila harus sedikit berlari.
"Aku mau ngasih jaket." ucap Nabila saat berhasil mensejajari langkah besar Paul, ia menyodorkan totebagenya yang langsung diterima.
"Maaf gak bilang dulu, aku gatau kalo ini jaket kamu," ungkapnya tak enak.
"Gapapa." balas Paul singkat.
"Tapi udah aku cuci kok, beneran," lanjutnya.
Paul mengangguk, "Makasih."
Nabila menghela napas melihat sikap dingin Paul yang semakin menjadi-jadi, "Yaudah aku keruang osis dulu."
"Hm."
Gadis itu berbelok kekanan sementara Paul terus berjalan lurus ke kelas tanpa sepatah katapun.
Saat sampai dikelas, Paul membuka dan mengambil jaketnya, ia menghirup jaket itu seperti wangi khas Nabila, ia jadi merasa bersalah pada gadis itu. "Maafin aku Nab."
KAMU SEDANG MEMBACA
PANAROMA (END)
RomanceNote: Cerita ini hanya fiksi! *** Naik ke kelas 11 seperti tak ada perubahan dalam diri Roni. Sikapnya masih sama, suka terlambat, tidur dikelas, bolos bahkan tak mengerjakan tugas. Paul yang digadang-gadangkan menjadi good boy pun ikut terbawa ajak...
