18. Hanya Lolongan

1.7K 161 6
                                        

"Baik saudara Paul ataupun saudara Roni tidak memulai perkelahian, rekaman cctv dan keterangan saksi membuktikan hal itu."

Keesokan harinya, mamih menemui kembali Paul dikantor polisi begitupun dengan ibunya Roni. Kedua wanita itu duduk berhadapan menatap petugas yang sedang menjelaskan.

"Jadi, anak saya benar-benar tidak bersalah pak?" tanya mamih.

Petugas itu mengangguk, "Benar bu, saudara Paul dan Roni disini hanya sebagai korban."

Pada intinya, sekolah mereka juga tak bersalah karena rekaman cctv menunjukkan bahwa yang memulai perkelahian adalah sekolah lawan yang tak terima karena kalah tanding futsal, bukti ini berhasil membatalkan tuduhan terhadap mereka.

"Terima kasih pak," ujar mamah.

Anak-anak mereka menemui ibunya masing-masing, Roni memeluk mamah sedangkan Paul hanya memandang singkat moment yang membuatnya iri itu.

"Silahkan kalian boleh pulang, belajar yang rajin ya." bapak berseragam polisi itu tersenyum seraya menepuk pundak Roni dan Paul.

"Tuh, denger kalo kamu bandel, mamah masukin kesini lagi," ancamnya membuat Roni mengangguk tanpa protes, lebih baik ia mendengar omelan mamah seharian daripada harus tinggal dipenjara.

***

"Biar aku aja yang nyetir mih,"

"Gausah! Biar mamih aja, nanti kalo ada apa-apa mamih lagi yang turun tangan," ucapnya.

Paul menghela napas memilih menurut, keduanya masuk kedalam mobil. Mereka sudah berpisah dengan Roni sejak tadi, motor Paul yang tertinggal ketika tawuran juga sudah diurus.

"Untung aja tadi cuma salah paham, coba kalo kamu beneran ditahan, apa mamih harus bayar ke petugasnya?" disepanjang perjalanan menuju pulang, mamih terus mengoceh mengungkit kesalahannya.

"Makanya kalo habis pulang sekolah tuh langsung kerumah, gausah mampir kemana-mana, nurut sama mamih apa susahnya sih." wanita itu mendengus kesal, karena perbuatan sang anak kemarin membuat kerjaannya terganggu.

Paul berdecak, telinganya sungguh panas, ia menoleh pada sang ibu, "Aku baru kali ini lho dipanggil polisi dan itupun karena salah paham tapi respon mamih kayak aku berkali-kali buat salah,"

"Terus selama ini yang mamih liat itu apa? Piala, juara, prestasi mamih anggep apa?!" sarkasnya.

Mamih diam tak berkutik.

"Gak semua hidupku tentang uang mih!"

Bentakan sang anak membuat mata mamih berubah panas, buliran bening berada diujung pelupuk matanya berusaha ia tahan dan terus fokus pada jalannya.

"Kenapa aku harus beda sama Roni, senakal-nakalnya Roni, dia tetep punya ibu yang sayang sama dia sementara aku..." Paul berhenti sejenak, "Punya mamih yang hidupnya cuma kerja, kerja dan kerja!"

Tes.

Air mata mamih kini tumpah tak terbendung bertepatan dengan sampainya mobil mereka diperkarangan rumah. Perempuan itu masih memegang setirnya dengan kepala yang menunduk, kalimat Paul sungguh membuat hatinya terasa tercabik-cabik.

"Mamih pikir aku seneng punya rumah mewah, mobil, makanan enak, uang?" tanya Paul menggebu-gebu sembari menatap nyalang sang ibu. "Enggak mih enggak!"

"Aku lebih baik gak punya apa-apa kalo harus kayak gini!" ujarnya penuh penekanan.

PANAROMA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang