Keesokan paginya, Nabila sampai disekolah. Ketika dilorong matanya mendapati seseorang yang sangat dikenali, ia sedikit berlari menghampirinya. "Paul," panggilnya.
Hatchim.
Paul mengusap hidungnya lalu menoleh menarik senyum, "Eh, hai."
"Kamu sakit?" Nabila menatapnya, ia merasa bersalah pasti sebab ulahnya kemarin.
"Cuma bersin doang kok," balasnya tak mau Nabila khawatir.
"Aku minta maaf ya,"
Terdengar gelak tawa kecil dari Paul, "Lebaran masih lama."
"Aku serius Powl," ucapnya.
Lelaki itu tetap tersenyum, "Kamu gak ada salah Nab."
"Soal kemarin,"
"Iya, kemarin hujan kan," potong Paul cepat.
"Aku gak lagi bercanda!" ujarnya sungguh-sungguh, "Kemarin aku pulang gak bilang kamu dulu," lanjutnya pelan sedikit menundukkan kepala.
Mengapa jika seperti ini Nabila terlihat menggemaskan, ingin rasanya ia mengusap kepala gadis itu dan mencubit pipinya. "Gapapa Nab daripada nanti kamu ditinggal kan gak lucu," ujarnya sedikit terkekeh.
Baru ingin membalas ucapan Paul, seseorang memanggilnya. "Teh Nabila dipanggil kak Rafi ke ruangan,"
Kedua sejoli itu serempak menoleh pada gadis berseragam olahraga itu, Nabila mengangguk tersenyum, "Oh oke, makasih ya."
"Yaudah sana temuin dulu," suruh Paul, "Aku juga mau ke kelas."
"Kalo mau minta maaf nanti lebaran aja sekalian sama ampaunya," Paul tertawa bercanda seraya kembali berjalan tanpa menunggu balasan Nabila.
Sementara Nabila menghela napas, Paul memang orang baik dan hatinya tak pantas untuk disakiti oleh orang sepertinya.
Paul masuk kedalam kelas, lagi lagi ia bersin bahkan kepalanya kini terasa berat dan seperti berputar, ia langsung menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan.
"Sakit lo Powl?" Roni yang baru saja tiba menatap heran.
"Kurang tidur doang."
Roni mengangguk memilih menyibukkan dirinya bermain game online.
***
"Nad nanti mau bel---"
"Enggak." potong Nadin cepat.
"Oh... kamu bawa bekel?"
"Enggak."
"Tapi ke kantin kan?"
"Gatau."
Salma yang tengah duduk disebelahnya menatap bingung, "Kamu kenapa Nad? Lagi datang bintang ya?" guraunya terkekeh kecil.
"Ck, berisik!" Nadia melirik sinis.
"Sebenernya dia lagi kenapa sih?" batinnya bertanya, ia bangkit berdiri memilih pindah ke tempat duduknya, mungkin Nadin sedang tak mau diganggu.
"Sal, aku cari-cari ternyata dikelas," Nabila datang dengan wajah cemberutnya lalu duduk disamping gadis yang kini menyengir lebar.
"Nanti siang kata kak Rafi acaranya dimulai," ucapnya.
"Oke."
KAMU SEDANG MEMBACA
PANAROMA (END)
RomanceNote: Cerita ini hanya fiksi! *** Naik ke kelas 11 seperti tak ada perubahan dalam diri Roni. Sikapnya masih sama, suka terlambat, tidur dikelas, bolos bahkan tak mengerjakan tugas. Paul yang digadang-gadangkan menjadi good boy pun ikut terbawa ajak...
