16. NaSa, Semua Dirayakan

1.7K 170 8
                                        

"Gimana tadi acara debatnya?"

Malam telah tiba, seperti biasa mamih mendapati sang anak tengah bersantai diruang keluarga dengan telinga yang disumpal headset memutar lagu kesukaannya.

"Gitu-gitu aja," balas Paul seadanya.

"Mamih liat dari kemarin kamu baca novel terus, gak belajar?" tanyanya heran.

"Gak ada tugas."

Alis mamih bertaut, "Emang belajar harus ada tugas doang?"

Paul menghela napas kasar, ia ingin menikmati waktu sendirinya tapi lagi, lagi sang ibu mengganggunya. "Mamih tau apasih tentang aku, harus banget aku belajar didepan mamih?" ucapnya sembari menatap.

"Jelas-jelas mamih aja gak pernah tuh nanyain ada tugas atau enggak, yang mamih tau cuma kerja doang."

Mendengar itu mamih tersentak kaget, hatinya seperti teriris mengapa Paul bisa mengeluarkan kalimat seperti itu?

"Lagian kenapa sih mamih tiba-tiba nanyain gini, kemarin kemana aja? Biasanya selalu berduaan sama laptop dikamar,"

"Paul!" bentaknya dengan emosi yang tak bisa ditahan, "Mamih kerja buat kamu! Jangan kurang ajar kamu ya!"

Lelaki itu menutup novel dan melepas headsetnya lalu tertawa sumbang, "Aku? Kurang ajar?" ia menatap datar, "Emang mamih gatau, aku kayak gini karena siapa?"

"Karena mamih!" serunya penuh penekanan, Paul bangkit berdiri menatap mamih yang tak bisa berkata-kata lagi. "Andai aja orang tuaku kayak Roni, aku gak akan jadi kayak gini mih."

Paul beranjak keatas menuju kamarnya.

Brak!

Suara pintu yang ditutup dengan keras itu membuat mamih terkejut dan menyadari kesalahannya, setetes air mata jatuh melewati pipinya. "Maafin mamih Paul, mamih gagal jadi ibu sekaligus ayah yang baik buat kamu."

Padahal niatnya hanya ingin meluangkan waktu bersama sang anak yang sudah lama ia lewatkan tapi akhirnya malah tak mengenakan seperti ini.

***

Mentari seakan mendukung kegiatan hari ini, seluruh siswa sudah berkumpul dilapangan, dihadapan mereka telah tersedia kotak suara dengan calon ketos waketos yang berada disisinya.

Suara mic yang diketuk-ketuk oleh seorang paruh bayah membuyarkan riuhnya suasana. "Kalian semua memiliki hak suara atas masing-masing paslon, pilih yang menurut kalian bisa menjadi ketua osis terbaik untuk SMA Biru Bangsa."

Selagi mendengarkan kesiswaan sedang berbicara, Roni menyenggol lengan sahabatnya. "Powl, sekarang aja." bisiknya mengingatkan usulan yang sudah dibahas kemarin oleh keduanya.

Paul mengangguk, ia mengangkat tangannya. "Maaf pak,"

Bapak tersebut menoleh.

"Sebelumnya saya mau bilang sesuatu,"

"Boleh, silahkan maju."

Salma dan Nabila yang melihat itu hanya terdiam heran, ulah apalagi yang akan kedua lelaki itu perbuat.

Paul meraih micnya, "Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada teman-teman, saya senang bisa ikut bersaing dalam pemilihan osis ini, rekan saya Roni juga sangat bersemangat tapi sepertinya kami berhenti disini."

PANAROMA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang