"Hai,"
Tahu siapa yang menyapa, respon Nabila hanya melirik sekilas dan fokus memilih novel.
Paul yang diabaikan sejak tadi merasa aneh karena sedari pagi pun Nabila tak mau berbicara dengan lelaki manapun termasuk rekan osisnya bahkan hingga istirahat gadis itu lebih memilih menghabiskan waktunya diperpustakaan.
Tangannya ikut bergerak mencari buku, "Kamu lagi car---"
"Duluan." potong Nabila cepat sambil membawa novel pilihannya dan pergi dari sana.
Paul menghela napas, ada apa dengan sikap Nabila yang tiba-tiba berubah, apa mungkin ada kaitannya dengan semalam ia mengantarkan pulang?
Menyadari itu, ia segera menyimpan buku tersebut dirak dan segera menyusulnya.
"Nab,"
Gadis itu terus berjalan.
"Tunggu Nab," Paul berhasil mensejajari langkahnya, "Kamu ngehindar dari aku ya?" tanyanya sembari menoleh.
Gadis itu terdiam membuat Paul bisa mengambil kesimpulan.
"Maaf, karena aku pertemanan kamu jadi dibatasin sama abi." lanjutnya seakan tahu apa yang terjadi.
Langkah Nabila berhenti begitupun Paul, "Enggak, ini bukan salah kamu." balasnya berbohong.
Paul mengulas senyum lirih, "Apapun alasannya Nab, aku pasti salah satu penyebabnya."
Hati Nabila gusar, apakah sikapnya tadi berlebihan? Dirinya hanya tak mau abi marah lagi padanya karena mengingkari janji.
Lelaki itu mengambil napas panjang, "Aku janji bakal kembaliin keadaan kayak semula biar kamu bisa bebas berteman sama siapa aja."
Nabila menoleh penuh tanya, "Caranya?"
***
Sepulang sekolah, Paul langsung menancap gas motornya meninggalkan Roni dengan wajah heran, tumben sekali lelaki itu terlihat buru-buru, pikirnya.
Dengan hati yang berdebar-debar, Paul sampai didepan rumah Nabila, ia ingin segera meluruskan permasalahan ini tanpa sepengetahuan gadis itu.
"Permisi,"
Seseorang membuka pagarnya, ternyata umma orangnya, masih menggunakan celemek yang melekat ditubuhnya. "Eh, nak Paul ya?"
"Iya umma," Paul tersenyum ramah.
Umma celingak-celinguk memperhatikan sekitar, "Nabila-nya dimana nak?"
"Oh, Nabila masih disekolah lagi ada acara osis." jawabnya, "Paul kesini mau ketemu sama om,"
"Kebetulan abi lagi jumatan, Paul tunggu aja didalem ya,"
Mengingat keluarga Nabila taat agama membuat Paul tak enak masuk kedalam jika hanya berdua dengan umma, "Gapapa umma diluar aja, enak ada angin sepoi-sepoi." tolaknya halus.
"Diteras aja nak," balas umma seolah paham apa yang dipikirkan Paul, "Umma juga lagi masak buat makan siang, nanti kita makan bareng ya."
Akhirnya Paul mau menunggu diteras, tak lama dari itu suara pagar terbuka terdengar. "Assalamualaikum,"
Paul sontak melihat kearah pagar, "Waalaikumussalam," ia langsung bangkit berdiri, menyalimi pria berkoko putih dengan peci hitam itu.
Abi menatapnya, "Kamu bukannya temen Nabila?"
"Iya om."
"Nganterin Nabila lagi?"
Sudah Paul duga bahwa pertanyaan itu yang akan terlontar. "Enggak om, saya kesini sendiri,"
KAMU SEDANG MEMBACA
PANAROMA (END)
RomanceNote: Cerita ini hanya fiksi! *** Naik ke kelas 11 seperti tak ada perubahan dalam diri Roni. Sikapnya masih sama, suka terlambat, tidur dikelas, bolos bahkan tak mengerjakan tugas. Paul yang digadang-gadangkan menjadi good boy pun ikut terbawa ajak...
