17. Apa Artinya Aku

1.5K 128 1
                                        

"Assalamualaikum umma,"

Wanita paruh bayah dengan pakaian syar'i itu datang menyambut kedatangan mereka dengan senyum hangatnya, "Waalaikumussalam, eh udah pada nyampe, ayo masuk," ia membukakan pintunya lebar.

Setelah pulang sekolah, mereka menepati janjinya untuk kerumah Nabila kebetulan juga gadis itu tak dijemput oleh sang ayah tapi bersyukurnya Salma membawa motor jadi ia bisa menumpang.

"Makan dulu yuk, pasti kalian pada laper,"

"Jadi ngerepotin umma," sahut Paul tak enak.

"Gapapa," umma tersenyum, "Sekalian syukuran kecil-kecilan aja," lanjutnya.

Sebelum ke ruang makan, umma menahan anak sulungnya. "Kak, beliin jus dulu yang di si teteh buat temen-temen kamu,"

"Eh, umma gausah ngerepotin banget," ujar Roni yang mendengarnya.

"Kita air putih aja cukup kok umma," timpal Salma, "Apalagi Roni air kobokan aja dia minum," tambahnya sembari melirik lelaki itu dengan terkekeh.

Roni memasang wajah masam.

"Gapapa," umma tetap kekeh, ia menyodorkan selembar uang pada Nabila, "Nih kak,"

Nabila menyimpan tasnya disofa lalu beranjak pergi keluar.

"Ayok sini," ajak umma ke meja makan, disana tersaji beberapa makanan yang terlihat sedap.

"Berasa lagi kulineran gue," gumam Roni saat bingung ingin mengambil lauk pauknya.

***

Tak terasa mereka dirumah Nabila hingga hampir senja, ketiganya memilih untuk beranjak pulang. "Umma kita pamit dulu ya," ucap Salma sembari mencium tangannya.

Umma dan Nabila mengantarkan mereka sampai depan, "Iya hati-hati dijalan, kapan-kapan main kesini lagi," balasnya yang diangguki mereka.

Salma naik ke motornya begitupun Roni yang dibonceng Paul, "Assalamualaikum,"

"Dah Nab!" kata Paul melambaikan tangannya membuat gadis itu tersenyum malu saat diperhatikan oleh sang ibu.

Umma merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapan Paul pada anaknya.

Setelah mereka melajukan motornya keluar dari perkarangan rumah, umma menoleh dan menyentuh bahu Nabila, "Kamu suka dia ya kak,"

Nabila terlonjak kaget mendengar celetukan itu, ia jadi tersipu malu, menahan salting. "Apasih umma enggak kok," elaknya seraya mengalihkan pandangan.

Melihat reaksinya membuat umma mengulas senyum lembut, "Gapapa, jujur aja kak." ucapnya, ia mengusap kepala Nabila yang terbalut hijab. "Wajar kalo kamu suka sama seseorang bahkan Allah pun gak larang hambaNya buat punya rasa suka karena itu fitrah manusia kak," jelasnya.

Gadis itu menghela napas dalam-dalam, "Dia baik umma, gak ada alesan buat orang gak suka dia."

"Anak gadis umma udah dewasa ya," godanya sambil terkekeh.

"Umma," rengek Nabila malu.

"Kak, umma paham perasaan kamu, umma juga pernah muda kok." ujarnya tersenyum, "Tapi umma minta fokus dulu sama pendidikan ya, berteman boleh tapi inget batasan."

***

"Gue duluan," ucap Salma sedikit keras ketika mereka sudah sampai dipertigaan.

Roni mengangguk mengangkat tangannya seolah mengucapkan perpisahan. "Kerumah gue dulu gak?" ajaknya.

"Gas!" balas Paul dengan semangat, ia jadi rindu dengan combro buatan ibunya Roni.

PANAROMA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang