"Hoekk."
Tubuh Build melemas saat untuk kesekian kali nya hari ini ia muntah.
Sudah 3 hari belakangan ini Build merasa tubuh nya kurang nyaman. Dan hari ini, Build kembali muntah di pagi hari.
Pria manis itu membasuh wajah nya lalu kemudian menatap wajah puncat nya di depan cermin. Helaan nafas terdengar pelan setelah hampir 5 kali Build muntah pagi hari ini.
Dia bahkan belum memakan apa pun sejak tadi pagi, jadi mutahan itu hanya air saja yang keluar.
Dengan perlahan, ia keluar dari kamar mandi menuju ranjang untuk berbaring. Kepala Build begitu pusing, bahkan ia tidak nafsu makan sejak kemarin.
Tok tok
Build menoleh saat suara ketukan pintu itu terdengar. Dan disana, Bibi Nam masuk membawakan semangkuk bubur ayam untuk nya. Namun, belum sempat Bibi Nam mendekat pada Build yang masih duduk di tepi ranjang, pria manis itu kembali mual.
"Bibi, minta tolong jangan bawa itu ya. Aku mual." Bibi Nam mengangguk dengan cepat lalu berbalik ke luar untuk membawa makanan itu kembali.
Build menghirup nafas nya rakus saat aroma bubur itu hilang di sekitar nya. Build benar benar sensitif sekarang.
Setelah Bibi Nam keluar dari kamar Build, wanita itu kembali masuk dengan membawa potongan buah yang semoga saja bisa membuat Build mengisi perut nya.
Build yang melihat Bibi Nam masuk membawa buah tidak bereaksi apa apa, dia hanya diam memperhatikan buah itu yang di letakkan di atas nakas samping tempat tidur nya dengan tatapan tanpa minat.
Bibi Nam menundukan dirinya di samping Build lalu mengusap kepala Build pelan.
"Masih mual?" Build hanya mengangguk lesu dan ia pun menyandarkan kepala nya di bahu wanita itu.
Bibi Nam mengusap kepala Build pelan. "Ingin sesuatu? Bibi buatkan ya, kau belum makan, Biu." Gelengan kepala Build berikan saat pertanyaan itu di lontarkan.
"Aku pusing."
Keluhan itu membuat Bibi Nam semakin khawatir dengan Build yang saat ini benar benar terlihat sangat lemas.
Hanya beberapa detik setelah Build mengeluh, ia kembali merasakan perut nya bergejelok dan kemudian ia dengan cepat menutup mulut nya karna rasa mual itu kembali lagi. Bibi Nam yang melihat itu pun bangkit dari duduk nya menatap Build dengan panik.
"Bibi, Aku minta tolong ambilkan minyak telon Biva ya." Bibi Nam mengangguk cepat dan kemudian berlari keluar untuk mengambilkan minyak penghangat tubuh si kecil biasanya.
Sebelum mual itu kembali lagi, Build dengan cepat membalurkan minyak tersebut ke seluruh leher dan juga pelipis nya. Wangi bayi biasanya ampuh untuk Build jika sedang tidak enak badan seperti ini.
Bibi Nam memijat kepala Build pelan saat anak manis itu kembali bersandar di pundak nya dengan lemas. Wangi Build sekarang mirip dengan Biva.
"Bibi belikan tespack ya."
Build yang sejak tadi bersandar nyaman di pundak Bibi Nam seketika menjauhkan tubuhnya menatap wanita itu.
"Bibi yakin?" Build menatap lesu wanita itu yang menatap nya khawatir.
"Di coba saja dulu."
Bibi Nam mengusap kepala Build yang sepertinya begitu pusing karna tubuh nya yang lemas akibat terus muntah di pagi hari beberapa hari ini.
"Bagiamana jika negatif? Mungkin hanya kelelahan."
"Maka dari itu di coba, Biu."
Build mendesah pelan lalu kemudian mengangguk sebagai jawaban.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Destiny
Storie d'AmoreSiapa sangka sahabat nya yang pernah pergi dari nya 8 tahun lalu ternyata adalah orang yang pernah menjadi penerima donor tersebut? Carrier (Mpreg!!)
