Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Tujuh Belas

29 3 0
                                        

Suara rendah nan lembut Jihoon berhasil membuat jantung Sohye berdetak lebih cepat. Perasaan yang baru saja ia rasakan merupakan hal yang tidak biasa.

Sadar akan perasaannya, Sohye menundukkan kepalanya lantaran malu.

Lagi-lagi Jihoon tersenyum melihat tingkah Sohye sampai rasanya ingin sekali mencubit pipinya itu. Lalu tak lama kemudian lampu Bioskop meredup menandakan film akan segera di mulai.

Selama mereka menonton film, Jihoon sering kali curi-curi pandang. Jihoon dibuat gemas oleh ekspresi Sohye. Sohye benar-benar orang pertama yang membuat Jihoon seperti ini. Seketika Jihoon sedikit memahami apa yang dirasakan Soonyoung.

Tak terasa film pun telah mencapai akhir cerita, perlahan lampu Bioskop kembali menyala. Jihoon secara sadar menggenggam tangan Sohye. Sohye yang masih mencerna sikap Jihoon hanya bisa pasrah mengikuti langkahnya.

Saat mereka sudah keluar Bioskop, perlahan-lahan Jihoon melepaskan genggamannya. "Maaf ya kalau aku ngga sopan," ucap Jihoon malu-malu.

"Oh, i-iya ngga apa-apa," balas Sohye canggung.

Jihoon mencoba untuk tidak terlihat canggung akan sikap yang diluar kendalinya itu. Jihoon saja bingung dapat keberanian darimana untuk menggenggam tangannya. Sesaat kemudian keheningan telah menyelimuti menjadi pelengkap kecanggungan diantara mereka, namun berkat Sohye yang cepat tanggap ia segera memecahkan keheningan ini.

"Hmm ... jadi habis ini kita mau kemana?" tanya Sohye mencoba menatap Jihoon.

"Mau ngajak ke Cafe yang direkomendasi sama Sejeong," jawab Jihoon yang sengaja menyebut nama Sejeong agar tidak canggung.

Sohye membelalakan matanya, "ayo!" balas Sohye antusias.

"Semangat banget ya," celetuk Jihoon.

"Soalnya rekomendasi Sejeong ngga pernah salah hehehe," balas Sohye.

Sebelumnya Sohye direkomendasikan Restaurant dan Tumbler oleh Sejeong yang memang sesuai juga dengan selera Sohye.

"Sepertinya gue harus benar-benar berterima kasih sama Sejeong," pikir Jihoon.

Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan ke Cafe yang dimaksud. Awalnya Jihoon memimpin jalan di depan, namun lambat laun Jihoon menyamakan langkahnya. JIhoon ingin mereka berjalan bersama.

Seperti biasa tidak ada percakapan. Mereka hanya berjalan sambil melihat keadaan sekitar. Setelah menempuh waktu kurang lebih 20 menit, tibalah mereka di sebuah Cafe yang bergaya vintage, Cafe tersebut memiliki interior serba kayu dan pemandangan Kota Seoul dari ketinggian sehingga sangat cocok jika dilihat pada malam hari. Inilah yang menjadi alasan Sejeong menyukai Cafe ini.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk memesan makanan. dan memilih tempat duduk Sohye sangat mengagumi pemandangan di malam hari dengan lampu-lampu yang menerangi gedung. Segeralah ia mengambil ponselnya untuk mengabadikan moment berharga.

Sohye yang asik sendiri tidak sadar kalau Jihoon sudah memperhatikannya sampai ia menopang dagu menggunakan tangan kirinya. Senyum kecil pun muncul.

"Aku seneng kalau kamu suka," sahut Jihoon.

Celotehan Jihoon menghentikan pergerakan Sohye. Perlahan ia menurunkan ponselnya, lalu menolehkan kepalanya.

Jihoon yang tidak mengerti dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Sohye segera melayangkan pertanyaan, "kenapa? apa aku ada yang salah?"

Sohye mengangguk.

Jihoon menurunkan lengannya sembari mengerenyitkan dahinya lantaran bingung.

"Jujur aku ngga ngerti sama sikap kamu bahkan bahasa yang kamu pakai pun berbeda dari sebelumnya," cicit Sohye.

Jihoon tersenyum kembali. "Ya karena aku suka."

"Suka?" tanya Sohye bingung.

"Iya."

"Suka apa?"

"Kamu."

Blush!

"Ini beneran Lee Jihoonkan? Lee Jihoon yang overprotective sama kembarannya itu? Kok bisa ngomong gitu? Jihoon lagi ngga kesambetkan? Tapi kayanya ngga mungkin seorang Lee Jihoon ngomong kaya gitu apalagi dia bilang suka! Suka lho ini suka!" batin Sohye yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jihoon sampai ia tidak sadar jika pesanan mereka sudah datang.

"Sohye?" panggil Jihoon.

"Sohye?"

"Kim Sohye?"

"Eh iya?" Akhirnya Sohye tersadar dari lamunannya.

"Udah ngga usah dipikirin dulu ... sekarang makan dulu aja," ucap Jihoon yang segera mendapat anggukan dari Sohye.

"Barusan gue ngomong apa ya?" batin Jihoon yang takjub sekaligus bingung dengan dirinya sendiri.

***

"Aku seneng kalau kamu suka," sahut Jihoon.

Chan yang duduk tidak jauh dari sana mendengar percakapan mereka.

Awalnya Chan ingin pindah tempat duduk saat melihat Jihoon bersama seorang perempuan, Chan pun sudah bersiap untuk membawa makanannya sambil menunggu Mina yang sedang ke Toilet. Lalu, begitu mendengar ucapan kakaknya yang paling dingin itu, Chan langsung mengurungkan kembali niatnya. Ia tidak masalah jika nanti diomeli oleh Jihoon.

"Eh Chan itu ka Jihoonkan?" tanya Mina yang baru menyadari keberadaan mereka.

"Iya."

"Kita ngga pindah aja?"

"Tadinya mau pindah, tapi seru juga nguping pembicaraan mereka."

"Chan itu ngga baik, ayo kita pindah aja."

"Ya udah deh," ucap Chan yang akhirnya bersiap untuk pindah, tetapi seakan semesta mendukung Chan untuk menguping. Terdengarlah pernyataan suka Jihoon kepada Sohye.

"Suka apa?"

"Kamu."

"Pada akhirnya ka Jihoon merupakan laki-laki pada umumnya," gumam Chan.

"Eh kenapa Chan?" tanya Mina.

"Oh ngga apa-apa, ayo kita pindah," jawab Chan tersenyum.

Mina mengangguk.

***

-TBC-

Yeay Lee Family 2 kembali update. Ikuti terus ya perjalanan Lee bersaudara ini. Terima kasih juga sudah membaca Lee Family 2 sejauh ini. Jangan lupa votenya ya biar aku tambah semangat><

Gomawo~

Lee Family 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang