Minju berusaha untuk menahan tangisannya agar tidak terdengar oleh Doyeon dan kawan-kawan.
"Kenapa gue harus mendapatkan perlakuan seperti ini?" batin Minju.
Apa yang sebenarnya terjadi sampai Minju berakhir seperti ini? Kalau begitu mari kira flashback sebentar.
Saat Sejeong dan teman-temannya sedang sibuk mengerjakan tugas melukis satu sama lain. Minju yang sedang dalam berjalan ke Gerbang Sekolah langsung ditarik kerah bajunya oleh Doyeon. Minju diseret ke tempat sepi yang tidak jauh dari Sekolah. Dari kejauhan ada Yena yang bersembunyi lantaran tidak sengaja melihat Minju lalu mengikutinya.
Tidak lama Doyeon menyeret Minju, datanglah Nayoung dan Chaeyeon.
"Heh cewek ngga tahu diri! Puas lo udah nyebar rumor palsu kesana kemari!" hina Doyeon mendorong Minju hingga tersungkur.
"Rumor palsu apa sih?" tanya Minju pura-pura tidak tahu.
Doyeon memutar matanya, "masih aja pura-pura, Ngga ada gunanya lo pura-pura depan gue!"
Minju tersenyum sinis. "Hahaha ... makannya jadi cewek tuh kaya gue yang bisa memanfaatkan kelemahan laki-laki," katanya sembari berdiri mendekatkan wajahnya pada Doyeon.
Doyeon mendorong kepalanya agar menjauh menggunakan jari tengah, "dasar ngga tahu malu!"
"Ya karena sudah seperti ini sekalian aja gue kasih tau kalau lo tuh ngga pantas buat Jinyoung, begitu juga lo berdua. Kalian ngga pantas mendapatkan laki-laki baik seperti mereka. Ah Sejeong juga, Soonyoung cocok sama gue!" ucap Minju penuh kebanggaan.
"Dih gila," komentar Nayeon.
"Bodohnya diborong," sahut Chaeyeon.
Disaat yang sama Yena hampir saja menjatukan ponselnya. Yena tidak percaya selama ini ia berteman dengan orang yang seperti itu. Rusak sudah pikiran dan mental Minju, begitulah pikir Yena.
Prok prok prok!
Doyeon memberikan tepuk tangan, "bagus bagus lo ngaku sendiri. Terus apalagi yang lo banggain dari sikap busuk lo itu?" ucap Doyeon dengan sengaja guna memancing Minju.
"Tentu saja! Dengan gue akan sama bahagiannya jika merebut pacar orang. Lagi pula mereka juga mau sama gue, jadi apa salahnya? Gue berhak untuk bahagia!" Pancingan Doyeon berhasil.
"HAHAHAHAHA ..." Doyeon hanya tertawa mendengar ucapan yang tak masuk akal itu.
"Udahlah kita sebar aja rekaman ini!" dengus Chaeyeon.
"Setuju, yuk Doyeon kita sudahi saja daripada makin gila," sahut Nayeon.
"Ok, kita juga udah dapet rekamannya. Yuk!" balas Doyeon membalikkan badan meninggalkan Minju diikuti Nayeon dan Chaeyeon.
Tujuan Doyeon membawa Minju ke tepat sepi sudah berhasil. Doyeon berpikir Minju akan dengan mudahnya mengakui kesalahannya jika hanya ada mereka saja.
Minju hanya melihat kepergian Doyeon dan teman-temannya. Sebenarnya Minju tahu kalau pelakor itu adalah hal salah, namun mengingat selingkuhan Ayahnya bahagia sehabis merebut Ayah dari Ibu, ia membuang rasa bersalahnya.
Yena terdiam dengan ponsel yang masih dalam mode video.
"Wow gue sampe ngga tahu mau ngomong apa," gumam Yena sambil menurunkan ponselnya dan mematikan mode videonya.
Tidak berselang lama, Chaeyeon menyebarkan rekaman tersebut di Sosial Media sekolahnya.
Begitulah yang terjadi.
***
Minju berjalan kaki dari Sekolah ke Rumah dengan pakaian yang basah dan bau. Doyeon telah menyiraminya dengan air bekas pel toilet serta sengaja mengambil uang maupun kartu agar ia tidak bisa pulang menggunakan transportasi.
Bohong kalau Minju tidak merasa malu karena tidak sedikit orang yang melihatnya, berkomentar, dan mengasihaninya.
Butuh waktu kurang lebih 60 menit bagi Minju untuk sampai di Rumah. Begitu Minju membuka pintu ia melihat Ibunya yang sudah berdiri menunggu kepulangan Minju.
Sekedar informasi Ibu Minju sudah mengetahui apa yang telah dilakukan anaknya sejauh ini. Termasuk pengakuannya hari ini dari Yena.
Ibu Minju menahan air matanya. Saat Minju sudah berdiri dihadapannya, Ibu Minju dengan sigap membantu melepaskan tasnya, "sini Ibu bawa."
Minju hanya diam.
"Kamu tunggu sini dulu ya, Ibu mau ambil handuk dulu," kata Ibu Minju lembut.
Minju masih terdiam, ia menerima semua perlakuan Ibunya.
Tidak lama kemudian Ibu Minju kembali membawa handuk. Lalu menuntun Minju pelan-pelan ke Kamar Mandi untuk membersihkan diri.
"Sekarang bersihkan dulu badanmu, baju kotor simpan saja di tempat biasa dan makan sup yang sudah Ibu buatkan untuk menghangatkan tubuhmu," jelas Ibu Minju.
Minju mengangguk.
Ibu Minju tersenyum tipis sebelum pergi dari Kamar Mandi.
"Maafin Ibu, nak karena Ibu kamu jadi begini," batin Ibu Minju.
Setelah beberapa saat kemudian Minju sudah selesai membersihkan diri.
"Sini makan sama Ibu."
Minju berjalan menghampiri meja makan. Ia duduk di hadapan Ibunya.
"Dimakan ya biar badanmu jadi hangat dan energimu terisi lagi," ucap Ibu Minju.
Minju mengambil sendok, lalu memakannya perlahan-lahan. Lambat laun air mata jatuh mengakibatkan Minju makan sambil menangis.
"Maafin Ibu ya nak karena ngga merhatiin kamu selama ini," ucap Ibu Minju membuat yang mendengarnya semakin mengeluarkan air mata.
"Hiks ... hiks ... hiks ...."
Ibu Minju pun berdiri menghampiri Minju.
"Nak, gimana kalau kita pindah Sekolah dekat kerjaan Ibu saja? Agar Ibu lebih bisa memperhatikan kamu," ucap Ibu Minju lembut sembari memeluk putri semata wayangnya itu.
"Pindah?"
"Iya, biar kamu bisa mendapatkan suasana baru serta lembaran baru. Ibu juga tahu kenapa kamu bisa basah begini. Lain kali tolong cerita pada Ibu ya, Ibu ngga mau kamu kenapa-napa."
Minju mengangguk.
"Apakah aku harus mengalami ini dulu baru Ibu peduli padaku?" pikir Minju.
***
-TBC-
Makasih ya sudah membaca Lee Family 2~
Ayo vote vote voteeee~
KAMU SEDANG MEMBACA
Lee Family 2
Fanfiction[On Going] "Soonyoung bisa diem ngga sih?" -Jihoon "Hahaha ... gue bilang juga apa!" -Sejeong "Iya deh aku mah nurut kalau Sejeong yang ngomong." -Soonyoung "Idih bucin." -Chan "Idih ngga ngaca!" -Seokmin "Permisi ... Jihoonnya ada?" -Unknow Kembali...
