Jihoon sudah berada di depan rumah Sohye lebih cepat 10 menit dari waktu yang dijanjikan. Lalu, Sohye memperkenankan Jihoon masuk dan memintanya untuk menunggu di Ruang Tamu.
"Halo Tante," sapa Jihoon sopan.
"Halo Jihoon, makasih ya kemarin udah anterin Sohye," balas Mama Sohye ramah.
"Sama-sama Tante."
"Nak Jihoon, kamu suka sama anak Tante bukan?"
Jihoon tampak terkejut dengan perkataan Mama Sohye, "i-iya Tante."
"Tenang saja kamu sudah mendapat restu Tante. Tante sudah tau semuanya dari sumber kepercayaan Tante."
Sekedar informasi sumber kepercayaan Mama Sohye ialah Seungkwan.
"Sumber kepercayaan?" batin Jihoon.
Tidak lama setelah itu, Sohye telah selesai bersiap. "Yuk Mama, ayo Jihoon.
.
.
.
Butuh waktu kurang lebih 90 menit untuk sampai di sebuah pemakamam. Jihoon hanya mengikuti langkah kaki Sohye yang tepat berada di depannya. Jihoon jadi berpikir bagaimana dirinya melewati hari-hari tanpa seorang Ayah.
"Hai sayang, aku sudah mampir dengan putri kesayangan kita bersama kekasihnya," ucap Mamanya sembari melihat Sohye dan Jihoon bergantian.
Sohye meletakan bunga di depan batu nisan. "Papa pasti sudah lihat semuanya, kan? Tetap awasi aku ya Pa, kalau Papa mau negur aku silahkan datang ke mimpiku."
Sekarang giliran Jihoon memperkenalkan dirinya, "halo om, perkenalkan nama saya Jihoon calon masa depannya Sohye. Semoga om berkenan."
"C-calon masa depan?" pikir Sohye mengedipkan matanya berulang kali sedangkan Mama Sohye hanya tersenyum.
Mereka memakan waktu cukup lama untuk menceritakan kisah hidupnya selama ini pada Suami sekaligus Papa tercinta.
"Sohye kamu pulang duluan sana," pinta Mamanya.
"Lho kenapa Ma? Kita pulang bareng saja."
"Mama mau ngobrol dulu berdua sama Papa ... Jihoon tolong antarkan Sohye ya," ucap Mama Sohye.
"Baik Tante ... ayo Sohye," ajak Jihoon.
"Baiklah kalau gitu, Mama hati-hati pulangnya ya," kata Sohye berjalan lebih dulu yang diikuti oleh Jihoon, "mari Tante."
Mama Sohye melihat mereka berdua yang sudah menjauh, "Mama ngga nyangka Pa, sekarang putri kesayangan kita sudah menemukan cintanya."
Mama Sohye berhenti sejenak sebelum melanjutkannya kembali sembari melihat batu nisan dengan tangan yang mengusap nama suaminya.
"Mama harap Jihoon memang jodoh Sohye."
***
"Makasih Jihoon udah anterin aku," ucap Sohye begitu sampai Rumah.
"Sama-sama ... kalau gitu sampai jumpa besok," kata Jihoon berbalik badan.
Baru selangkah Jihoon sudah menghentikan langkahnya lantaran ujung baju bagian belakang ditahan oleh jari mungil Sohye.
"Sohye ada ap-?" ucap Jihoon hendak menengokan kepalanya.
"Jangan nengok!" peringat Sohye.
Jihoon pun kembali ke posisi awal.
"Aku juga s-suka ... j-jadi aku harap kita dapat saling menjaga satu sama lain," ucap Sohye yang sedetik kemudian melepaskan jari mungilnya, membalikkan badan dan berlari kecil untuk masuk ke dalam rumah guna menyembunyikan rasa malunya.
Jihoon mematung mencoba untuk mercerna ucapan Sohye. Setelah beberapa saat berlalu, kedua sudut bibir Jihoon terangkat dan terlihat rona merah pada pipinya. Jihoon pulang dengan hati riang.
.
.
.
Sesampainya di Rumah, Jihoon tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Akibatnya Jihoon menjadi tidak fokus dalam membaca buku yang berada di genggamannya. Chan yang dari awal memperhatikan Jihoon merasa kebingungan, oleh karenanya ia bertanya pada Sejeong yang sedang asik memainkan ponsel.
"Ka Sejeong, kenapa tuh ka Jihoon senyam-senyum gitu?" bisik Chan.
"Paling ada kemajuan sama Sohye," balas Sejeong berbisik.
"Kemajuan kaya apa? Jadian?"
"Bisa jadi."
"Ohh ... HAH? KA JIHOON JADIAN SAMA KA SOHYE?" Perkataan Chan sukses membuat seisi rumah gaduh.
Bruk ... bruk ... bruk!
Tanpa perlu waktu lama suara langkah kaki tersebut mendekati sumber suara, sedangkan Jihoon baru sadar akan tingkahnya.
"Chan, kamu bilang apa tadi?" tanya bu Jihyun penasaran.
"Coba ulangi ucapan kamu barusan!" sambung pak Minho.
"Seokmin ngga salah dengarkan?" timbrung Seokmin.
"Eh?" Chan yang bingung bagaimana menjelaskannya hanya menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Ekhem," Dehaman Jihoon sukses mengalihkan perhatian mereka. "Ngga usah menerka yang ngga-ngga deh," lanjutnya.
"Alah Jihoon ngga usah bohong, lo ngga bisa bohongin gue sama halnya gue ngga bisa bohongin lo," timpal Sejeong santai kembali bermain ponsel.
"Emang ya gue ngga bisa ngelak kalau lo udah ngomong," balas Jihoon berlalu begitu saja.
Sesaat suasana menjadi hening.
"Ini harus kita rayakan sih," celetuk Seokmin yang disetujui oleh semuanya kecuali Sejeong.
"Keluarga gue emang unik," pikir Sejeong.
***
Seperti biasa Soonyoung sudah berada di rumah Sejeong untuk menjemput kekasihnya itu.
"Lho Jihoon mana? Biasanya udah ada di belakang kamu," tanya Soonyoung keheranan.
"Lagi jemput Sohye," jawab Sejeong santai.
Soonyoung mengerenyitkan dahinya, "jemput? Mereka udah jadian?"
"Kayanya sih gitu," kata Sejeong yang berjalan lebih dulu.
Senyuman Soonyoung merekah, ia segera menyusul Sejeong. Soonyoung tanpa ragu menggandeng lengan Sejeong, memasukannya pada saku jaket dan mengecup pipi Sejeong.
"Bebas ya ngga ada Jihoon," komentar Sejeong.
"Hehehe ...."
"Tapi aku suka," cicit Sejeong.
Blush!
Kali ini pipi Soonyoung memerah. Ternyata bukan cuma Soonyoung saja yang menahan diri ketika ada Jihoon.
***
-TBC-
Mari kita terus dukung semua couple di sini xixixii
KAMU SEDANG MEMBACA
Lee Family 2
Fanfiction[On Going] "Soonyoung bisa diem ngga sih?" -Jihoon "Hahaha ... gue bilang juga apa!" -Sejeong "Iya deh aku mah nurut kalau Sejeong yang ngomong." -Soonyoung "Idih bucin." -Chan "Idih ngga ngaca!" -Seokmin "Permisi ... Jihoonnya ada?" -Unknow Kembali...
