Delapan Belas

25 3 0
                                        

"KA SEOKMIN, KA SEJEONG! CHAN PUNYA KABAR YANG SANGAT MENGEJUTKAN!" teriak Chan begitu sampai rumah setelah mengantarkan Mina pulang.

"Aduh anak mama yang paling lucu kok teriak-teriak," ucap bu Jihyun.

Seketika kedua sudut bibir Chan terangkat, "MAMA!" seru Chan berlari memeluk bu Jihyun "Chan kangen mama," lanjutnya.

"Ke Papa kangen ngga Chan?" sahut pak Minho.

Chan melepaskan pelukannya, "kangen juga dong Pa," balas Chan sembari memeluk pak Minho.

"Gimana kencannya?" tanya bu Jihyun begitu Chan berjalan menuju sebuah kotak yang terletak di sudut ruang tamu.

"Asik kok Ma, Mina juga makin cantik hehehe," jawab Chan sambil membuka kotak tersebut.

"Enak banget ya dateng-dateng udah di buka aja!" protes Sejeong yang baru saja selesai mandi.

"Chan penasaran tau Ka," balas Chan.

"Tungguin gue jugalah, gue juga penasaran," sahut Seokmin.

"Ok kalau gitu kita buka sama-sama!" ujar Chan.

Lalu, Lee bersaudara membuka kotak yang berisi oleh-oleh berupa makanan. 

"Disitu makanan semua, kalau mau tas, baju, sepatu ada di koper. Masing-masing 1 koper," kata pak Minho membuat Lee bersaudara senang.

"PAPA YANG TERBAIK!" ucap Chan sangat senang.

Selagi mereka membongkar koper, Sejeong teringat teriakan Chan. "Chan tadi kenapa deh teriak-teriak? Terus ada kabar apa?" 

Chan langsung menyimpan kembali baju ke dalam koper, "IH KAN GARA-GARA OLEH-OLEH CHAN SAMPE LUPA!"

"Lupa apaan?" celetuk Seokmin.

"KA JIHOON BILANG SUKA SAMA CEWEK!" ucap Chan membuat bu Jihyun hampir saja tersedak jus mangga, tentu saja langsung di pukpuk oleh pak Minho.

"EH SERIUS?" tanya Sejeong tidak percaya.

"DUA RIUS DEH KA! CHAN DENGER LANGSUNG DI CAFE YANG KA SEJEONG BILANG!" jawab Chan.

"BERARTI RENCANA GUE BERHASIL!" 

"RENCANA APA KA?"

"SENGAJA GUE MINTA LO KE CAFE ITU BIAR KETEMU JIHOON TERUS SPILL THE TEA DEH HAHAHAHA," ungkap Sejeong.

"Ih iseng juga ya ka Sejeong, untung Cafenya emang bagus terus makanan sama minumannya enak," kata Chan.

"Jihoon kita sudah besar, ngga nyangka gue," komentar Seokmin.

"Ditinggal Papa sama Mama beberapa bulan saja Jihoon udah dapet cewek, terus Seokmin gimana?" kata pak Minho.

"Lagi deket aja Pa, Seokmin mau selesain kuliah dulu. Dianya juga ngerti kok," jelas Seokmin.

Pak Minho menganggukan kepala tanda mengerti.

"Papa sama Mama udah pulang?" ucap Jihoon yang baru pulang.

"Ih pas banget yang diomongin udah pulang!" celetuk Seokmin.

"Ji, lo harus berterima kasih sama gue sih karena Cafe rekomendasi gue berhasil buat lo makin deket sama Sohye, kan?" ucap Sejeong tanpa basa-basi.

Belum saja Jihoon menjawab Seokmin, Chan, pak Minho serta bu Jihyun sudah berkomentar.

"Ohh ... jadi namanya Sohye, besok-besok bawa ke rumah ya Jihoon," ucap bu Jihyun.

"Ternyata ka Sohye! Hebat juga ya ka Sohye," kata Chan.

"Ok gue udah ngga penasaran lagi ceweknya," cetus Seokmin.

"Patut diberikan penghargaan sih Sohye karena sudah berhasil mendapatkan hati seorang Lee Jihoon," papa pak Minho.

Semua mengangguk setuju. Jihoon sudah tidak tahan dengan sikap keluarganya, ia pun segera berjalan ke Kamarnya.

Sesampainya Jihoon di Kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya. Ia mulai mengingat kembali perlakuan serta ucapannya hari ini. Jihoon pun membalikkan tubuhnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu atas sikapnya sendiri. Ternyata memang benar cinta bisa membuat kita bodoh. Kali ini Jihoon sangat mengerti dengan kebucinan Soonyoung.

***

"Asik dianterin Papa lagi," ucap Chan.

"Papa juga kangen nganterin anak-anak Papa sekolah," balas pak Minho.

"JIHOON IH CEPETAN!" teriak Sejeong di depan pintu kamar Jihoon.

Ceklek!

"Akhirnya keluar juga," gumam Sejeong menarik tangan Jihoon. Mereka pun berlari menghampiri Chan dan Papanya yang sudah menunggu di Teras.

"Lho ngga pada sarapan dulu?" tanya bu Jihyun.

"Ngga Ma karena udah telat kita," jawab Sejeong.

"Ya udah, hati-hati."

"Iya Ma," ucap Sejeong, Jihoon dan Chan berbarengan.

.

.

.

Mereka sampai di Sekolah dengan sisa waktu 5 menit sebelum masuk.

"Masih aman," gumam Sejeong.

Sejeong, Jihoon dan Chan pun berjalan ke Kelas masing-masing. Selama Sejeong berjalan melewati Lapangan, Kelas, Tangga maupun Lorong Sejeong merasakan lirikan yang tidak biasa. Begitu Sejeong sampai di Kelas ia langsung menghampiri Yoojung.

"Yoo--" Baru saja Sejeong ingin memanggil temannya. Bel telah berbunyi, Sejeong pun langsung duduk di bangkunya.

Kelas berlangsung seperti biasa sampai Sejeong hampir saja melupakannya.

"Yoojung, gue mau nanya deh," ucap Sejeong yang kini sedang berjalan ke Kantin.

"Ya nanya tinggal nanya," balas Yoojung.

"Emang hari ini gue aneh ya?"

"Hah? Ngga tuh!"

"Tapi kok pada liatin gue, walaupun lirik-lirik juga tetep aja kerasa."

"Ohh itu gara-gara Minju."

"Kok bisa?" 

"Ya singkat cerita waktu kita lagi ngerjain tugas ngelukis katanya Minju mengakui kalau dia memang ngedeketin Soonyoung," jelas Yoojung.

Sejeong mengerenyitkan dahinya bingung, "masih ngga paham gue."

"Katanya tuh Minju ribut sama Doyoen terus keceplosan deh. Terus ada yang ngerekam dan nyebarin itu semua. Jadi, gue rasa mereka liat lo karena kasian aja atau mungkin rasa kagum karena ngga terusik oleh keberadaan Minju."

"Iya habis itu, satu persatu korban Minju mulai speak up," sambung Seungkwan yang entah datang darimana. Untung saja Yoojung dan Sejeong bukan orang yang gampang kaget.

"Jadi dia udah dapat akibatnya ya," komentar Sejeong.

.

.

.

"Kim Minju ... kamu ada dimana? Main yuk!" ajak Doyeon diikut oleh Nayeon dan Chaeyeon.

Minju meringkuk di salah satu bilik Toilet. Ia menaikkan kakinya agar tidak ketauan sambil menggigil kedinginan dan menahan tangis.

***

-TBC-

Hai hai, sampai bertemu Minggu depan ya. Sehat dan bahagia selalu readers~

Lee Family 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang