Chapter. 23

2.2K 167 21
                                        

Broken Heart

"Sasuke, Sasuke-" Hinata mengguncang tubuh malang yang terkapar di atas salju.

Well, orang bodoh mana yang rela melompat dari tebing sepuluh meter di tengah malam buta bersalju? Mereka adalah sepasang suami istri Uchiha yang di rundung duka.

Bersyukur chakra Hinata telah kembali pulih, dengan mengaktifkan kekkei genkai dan memusatkan energi pada kedua telapak kakinya, mereka mendarat dengan kurang mulus, tubuh keduanya bahkan terpental cukup jauh.

Tak ada seorang pun disana, hanya deru angin malam yang memekakan telinga, byakugan tak dapat menangkap apapun, hanya kegelapan, tak ada seorangpun yang bangun di pukul sebelas malam, apalagi dengan cuaca sedingin ini.

Dengan tinggi badannya yang tidak seberapa dan tinggi badan Sasuke yang mencapai seratus sembilan puluhan, sangat mustahil memapahnya, apalagi salju telah menutupi jalan-jalan, walaupun ia menggunakan chakra sekalipun, kemungkinan hanya mampu setengah jalan saja, dia membutuhkan seseorang yang tenaganya lebih kuat, setidaknya berat dan tinggi badannya harus sama dengan Sasuke.

"Gomennasai, Sasuke-san," dipeluknya tubuh malang itu, dingin dan kaku, "a-aku tidak bermaksud membunuh kita berdua."

Sesekali di cobanya nafas buatan, bibir Sasuke bahkan sangat dingin, wajahnya mulai membiru.

"Chakramu delapan persen." Bisiknya lagi.

"Aku harus menarik tubuhmu menjauh dari sini, setidaknya di tempat yang saljunya lebih tipis."

Hinata POV

Syukurlah aku menggunakan syal, setidanya kain panjang ini bisa membantu. Kedua pergelangan tangannya ku ikat dengan benda itu, ku buat simpul yang sulit agar tidak mudah lepas. Aku telah kehilangan bayiku, aku tak ingin kehilangan ayah bayiku juga.

Pria ini, si nuke yang terkenal kejam dan suram, ternyata punya kelemahan. Dia tak tahan dengan sakit hati, hatinya gampang mencelos oleh kata-kata putus asa. Aku tak bermaksud melibatkannya dalam misi bunuh diriku, maksudku, biarlah aku yang mati, toh bayiku meninggal karena kesalahanku, tapi ia memaksa, dengan alasan misi ini kita berdua yang menjalaninya.

Demi apapun, aku tak ingin kehilangan Sasuke-san, dia andil dalam hidupku dalam satu tahun terakhir, ia bahkan menentang ayah demi membelaku, entah itu cinta atau obsesi, intinya ia ada di saat aku membutuhkannya.

Jelas aku mencintainya, dia adala Ayah dari bayiku, kami telah tidur bersama banyak kali, tak terhitung lagi jumlahnya. Sasuke Uchiha punya ciri khas tersendiri, dia dingin terhadap wanita, tapi bukan berarti tak peduli. Seperti inilah caranya mencintai, kasar, cuek, main tangan, seolah aku tak berarti, namun justru rasa kepeduliannya timbul dari interaksi tak wajar ini.

Sasuke memiliki aroma yang khas, keringatnya seperti tak berbau, rambutnya aroma mint, dan hawa nafasnya kental dengan aroma tembakau. Aku candu akan Sasuke, seolah aku tak bisa hidup tanpanya.

Ku akui, awalnya aku benci dia, aku benci sikapnya yang kasar dan suka melecehkan, tapi seiring berjalannya waktu, rasa kepedulian itu muncul, di mulai dari memasak makanan untuknya, menunggunya kembali dari misi, hingga kalimat-kalimat frontal yang selalu diucapkannya ketika kami bertengkar atau bercinta, itu semua terangkum dalam ingatanku dan diartikan dalam sebuah kata, cinta. Iya, tidak bisa dipungkiri, kami saling mencintai, dan seperti inilah cara kami mencintai, yang satunya kasar dan yang satunya selalu mengalah.

Sasuke adalah api, dan aku ibarat kayu bakar, mungkin seperti itulah perumpamaannya.

Sekuat tenaga kutarik tubuhnya menjauh, entah apa ini, sisi taman atau area belakang perkantoran, atau malah tanah kosong, bentuknya tak terlihat lagi karena tertutupi salju.

Feel My SoulTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang