Chapter. 25

2.4K 135 20
                                        



"Weekend"


Hinata POV

Aku buta akan dirimu, aku tak mengenalmu, kau datang bagai benang kusut yang membelit erat sisi hatiku.

Aku sangat mencintaimu, Uchiha Sasuke.

Saking cintanya, aku bahkan tak mampu mendeskripsikan betapa besarnya cintaku padamu.

Apakah kisah kita adalah cinta?

Kurasa begitu, ini adalah cinta, kisah kita adalah cinta, tak seorangpun yang akan mengerti kecuali kita berdua.

Ini bukan tragedy, melainkan sebuah proses terbentuknya cinta sejati.

Kata orang, kamu akan merasa kehilangan ketika orang yang kamu cintai telah pergi, inilah yang kurasakan sekarang, tujuh jam pasca kepergianmu, hatiku kosong, seolah ada sesuatu yang hilang dari hidupku, hanya tujuh jam, dan itu telah mengubah banyak hal, hanya tujuh jam, dan kini aku tak lagi berada di mansion besar kita, hanya tujuh jam, dan air mataku seolah tak akan berhenti entah sampai kapan.

Ku rasa aku telah mengenalmu sejak lama, kamu seperti seseorang dari masa lalu. Kami pernah di kelas yang sama di Academy, Ibuku mengenal Ibunya, Ayahnya pun mengenal Ayahku, ku rasa aku pun mengenal Kakaknya, kami pernah bermain bersama di waktu-waktu yang lampau, itu adalah masa-masa indah di masa dulu, sebelum tragedy menyerang keluarganya.

Dia adalah teman Naruto-kun, atau lebih tepatnya rival. Dia anak yang jarang bicara, dia lebih banyak murung dan menyendiri. Usianya lima tahun lebih tua dariku, tapi kami berada di kelas yang sama. Sasuke, Naruto, Sakura, dan nakama yang lainnya masuk ke Academy lebih dulu, aku menyusul dua tahun kemudian.

Ketika bertemu, dia seperti orang asing, aku bahkan tak mengenalnya lagi, dia jauh berbeda, lebih dingin dan kelam. Mungkin dulu kami pernah akrab, tapi itu dulu, dulu sekali. Dia bagai orang yang sangat jauh, sangat sulit kugapai, apalagi hanya untuk sekedar menegurnya, tidak mungkin.

Tiga tahun kemudian, aku mendengar kabar buruk, Uchiha Sasuke pergi meninggalkan Desa, tidak lain dan tidak bukan alasannya karena ingin menjadi lebih kuat, dapat kulihat betapa hancurnya hati Naruto, mereka adalah sahabat, jelas ia tak terima.

Hanya sebatas itu, dan aku tak tahu lagi kabar selanjutnya, lagipula, aku berada di tim yang berbeda. Aku bersama Kiba, Shino dan Akamaru, kami lebih banyak fokus berlatih bersama Kurenai-sensei, tak ada waktu saling mencari kabar satu sama lain, hanya sesekali bertemu Naruto dan Sakura, itupun pembahasannya selalu sama, yaitu misi untuk mengejar Sasuke, namun aku tak peduli, itu bukan urusanku lagi, Sasuke hanya orang dari masa lalu, bukan siapa-siapa.

Lalu terjadi Perang Dunia Ninja ke Empat, banyak shinobi yang meregang nyawa, para chunin dan jounin berduka, contohnya Ino dan Shika, Ayah mereka meninggal, pergi dalam keadaan terhormat.

Entah bagaimana caranya, aku pun tak paham, Naruto berhasil membawanya kembali ke Desa, cukup lama ia di kurung di sel khusus, di kurung dengan alasan masih berpotensi melukai dan membunuh, hingga dua tahun kemudian di naikkan statusnya sebagai jounin Konoha, surprise, semua orang memujanya bak Dewa, shinobi terbaik, shinobi rank A, shinobi berbakat, Uchiha bertalenta, Uchiha tampan, dan masih banyak pujian lainnya, jujur aku agak kesal, kok bisa-bisanya Desa mengampuni seorang nuke, dia bahkan telah membunuh Ketua Anbu—lalu dengan santainya berlenggang di jalan utama dengan para gadis yang mengagung-agungkan namanya, seolah kesalahannya di masa lalu bukan apa-apa dan nyawa-nyawa yang meregang itu tak berarti, well, itulah yang terjadi jika kamu memiliki kekkei genkei varian unik bernama sharingan.

Feel My SoulTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang