15

582 57 3
                                        

Hari itu, keluarga mereka memutuskan untuk berlibur ke pantai, dan mereka menggunakan dua mobil untuk perjalanan. Mobil pertama berisi ayah, Bunda, Jake, dan Sunoo, sementara sisanya berada di mobil kedua dengan Heeseung yang menyetir. Ni-ki, yang merasa mobil Heeseung lebih nyaman, memilih untuk terpisah dari orang tuanya dan naik mobil kedua. Selama perjalanan, suasana di mobil Heeseung terasa cukup santai, hingga Ni-ki yang tiba-tiba mengeluarkan snack dan menawari Sunghoon, "Sunghoon Hyung, mau Snack nggak?"


Namun, tawaran itu langsung disambut dengan ekspresi jijik dari Sunghoon ketika melihat tangan adiknya yang kotor oleh snack. "Ki, yang bersih dong tangannya," ujar Sunghoon sambil melirik tangan Ni-ki yang penuh remah-remah. Ni-ki pun segera merespons dengan kesal, "Namanya juga lagi makan snack, ya kotor tangan. Tinggal dicuci nanti!" Perdebatan ringan tentang kebersihan pun dimulai, dengan Ni-ki dan Sunghoon saling berbalas kata tentang hal sederhana itu. Heeseung, yang mendengarnya dari kursi sopir, hanya menghela napas panjang. Ia menyesali keputusan untuk menyatukan Sunghoon dan Ni-ki dalam satu mobil.


Perdebatan antara Ni-ki dan Sunghoon semakin memanas, hingga akhirnya Jungwon yang duduk di kursi belakang tidak tahan lagi. Dengan suara tinggi, ia menyuruh mereka berhenti, "Kalian seperti anak kecil!" katanya sambil menatap tajam ke arah mereka. Ni-ki, yang memang tak suka diperintah, langsung membalas dengan nada sengaja menyindir, "Ni-ki kan memang masih kecil, Hyung. Kalian saja yang sudah tua!" Jawaban itu membuat suasana semakin kacau, dan tak terduga, Jay yang sedang minum air langsung tersedak mendengar perkataan Ni-ki.


Jay yang terkejut mencoba menenangkan dirinya, sambil tersenyum kikuk. "Aduh, Ki, jangan ngomong begitu deh," katanya sambil menepuk-nepuk dada untuk mengatasi rasa tersedaknya. Sementara itu, Jungwon yang mendengar balasan Ni-ki hanya bisa mengerutkan dahi, merasa semakin kesal dengan adiknya yang selalu bisa membuat situasi lebih rumit. Heeseung yang melihat kekacauan ini hanya bisa menggelengkan kepala. "Aduh, kalian semua ini..." gumamnya sambil terus menyetir, merasa seperti menjadi pengemudi dalam perjalanan yang tak pernah sepi dari keributan kecil.


Sesampainya di pantai, suasana berubah lagi menjadi lebih ceria. Semua orang keluar dari mobil dengan semangat, tidak peduli dengan keributan kecil yang tadi terjadi. Heeseung membantu Jake membawa barang-barang, sementara yang lain langsung berlari menuju pasir terkecuali Sunghoon. Sementara yang lain asyik bermain di pantai, Sunghoon justru memilih untuk duduk di tempat yang jauh dari keramaian, di area di mana orang-orang duduk santai sambil minum dan makan.


Ia memang sudah lama tidak terlalu suka pergi ke pantai—baginya, pantai itu kotor. Bahkan, hanya dengan melihat tangan Ni-ki yang kotor karena remahan snack, Sunghoon sudah merasa geli. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau sampai kakinya terkena pasir. Sunghoon duduk di kursi santai dengan gelas berisi minuman dingin di tangannya, menyandarkan tubuh pada sandaran kursi, mencoba menghindari pandangan orang-orang yang tengah menikmati ombak. Ia memandang keluarganya yang bermain dengan penuh kebahagiaan, namun tetap memilih untuk tidak bergabung. "Pantai itu cuma buat orang yang nyaman dengan kotoran," keluhnya dalam hati, merasa sedikit tidak pada tempatnya di tengah semua kegembiraan yang ada.


Tanpa sengaja, matanya bertemu dengan Jake yang sedang berlarian di tepi pantai sambil tertawa bahagia. Ada rasa bangga dan cinta yang muncul, meskipun ia lebih suka berada di tempat yang lebih tenang dan jauh dari pasir. "Mungkin ini bukan untukku," pikir Sunghoon, "tapi mereka tampak senang, dan itu cukup membuatku bahagia." Ia mengangkat gelasnya dan menatap laut yang luas, merasa meskipun ia tak ikut berlarian di pasir, keberadaan mereka semua sudah cukup untuk membuat hari itu terasa istimewa.

Setelah lelah bermain dan puas menikmati suasana pantai, Heeseung dan yang lainnya memutuskan untuk duduk dan makan, karena perut mereka sudah sangat lapar. Mereka memilih tempat yang cukup teduh, di dekat warung pantai, dan mulai membuka bekal yang mereka bawa. Semua orang duduk bersama, menikmati makan siang dengan tawa dan canda, meskipun ada sedikit rasa penasaran tentang keberadaan ayah dan bunda mereka yang entah kemana.


Tiba-tiba, Ni-ki dengan santainya berkomentar, "Kayaknya Ayah sama Bunda lagi pacaran deh," sambil menyeringai. Semua orang terdiam sejenak, bingung dengan pernyataan Ni-ki yang terdengar cukup aneh. "Pacaran? Dari mana kamu tahu kata-kata kayak gitu?" tanya Sunghoon, agak heran. Ni-ki hanya mengangkat bahu, "Entahlah, kayaknya mereka cuma berdua aja gitu. Lihat aja deh!"


Mendengar komentar Ni-ki, Heeseung langsung menatap adiknya dengan tatapan serius. "Jangan nonton sembarangan lagi, Ki. Masih kecil sudah tahu cinta-cintaan," katanya dengan nada tegas namun sedikit geli. Ni-ki hanya mendengus, "Namanya juga penasaran, Hyung." Semua orang pun tertawa, meskipun perdebatan itu terasa lucu, karena mereka tahu bahwa Ni-ki yang paling sering membuat komentar tak terduga di keluarga mereka.


Meskipun sedikit tercengang dengan pernyataan Ni-ki, mereka kembali melanjutkan makan dan bercanda. Sementara itu, Ayah dan Bunda yang sebenarnya sedang duduk di tempat lain, menikmati waktu berdua, tidak terlalu jauh dari mereka, tetap menjadi bahan guyonan keluarga tanpa mereka sadari.


"Habiskan ini, setelah itu kamu istirahat ya, Ki," kata Jay dengan lembut, menatap adiknya yang mulai terlihat kelelahan. "Sama Sunghoon Hyung saja, Ni-ki nggak boleh kelelahan, ingat kan?" Ni-ki hanya membalas dengan cemberut, jelas merasa tidak senang dengan nasihat itu. Sejak tadi ia sudah tidak sabar untuk kembali bermain, dan Jay memberinya peringatan yang membuatnya semakin kesal.


"Tadi kan sudah puas mainnya, Ki," lanjut Sunoo, mencoba memberi pengertian dengan suara yang lebih tenang. "Kamu juga harus jaga kesehatan, nggak bisa terus-terusan aktif kayak gini." Ni-ki menghembuskan napas panjang dan kemudian menjawab dengan nada kesal, "Iya-iya, sudah, sana kalian semua!" Ia melambaikan tangan ke arah mereka, seolah-olah mengusir mereka dari pandangannya.


Sunghoon yang sudah sering melihat adiknya berperilaku seperti itu hanya menggelengkan kepala dengan senyuman kecil. "Udah biasa," gumamnya pelan, seakan tak terkejut dengan sikap Ni-ki yang cenderung keras kepala dan suka bertindak impulsif. Meskipun begitu, ia tahu betul bahwa Ni-ki memang hanya butuh sedikit waktu untuk merenung, dan ia akan kembali ceria setelah itu.






to be continue
5 Desember 2024






Thank you for your vote 🫶

PULANG | END ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang