34

608 39 0
                                        

Jungwon yang baru saja masuk ke ruang makan dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu, langsung mengarahkan pandangannya ke arah Sunoo dan Ni-ki yang tampak sedikit canggung. "Kalian membicarakan apa? Misterius sekali," godanya sambil tersenyum nakal, meskipun ia tahu bahwa kedua saudaranya itu sering kali terlibat dalam percakapan yang lebih pribadi. Ni-ki dan Sunoo saling berpandangan, berusaha menyembunyikan rasa canggung mereka. Sunoo hanya mengangguk pelan, berusaha meredakan ketegangan dengan senyum tipis. "Tidak ada apa-apa, Jungwon. Hanya obrolan biasa," jawabnya, mencoba terdengar biasa saja.



Namun, Jungwon tidak mudah puas. Ia duduk di sebelah mereka dan menyandarkan tubuhnya dengan sengaja, ingin membuat suasana semakin tidak nyaman. "Kalian pasti membicarakan sesuatu yang penting. Ayo, ceritakan." Ucapannya yang ceria itu sedikit mengusik, tetapi juga berhasil membuat Ni-ki tertawa pelan. "Ya sudah, tidak ada salahnya kalau kau tahu," jawab Ni-ki, namun suaranya terkesan ringan. "Kami hanya ngobrol tentang... betapa gilanya Ayah belakangan ini," tambahnya sambil melirik Sunoo. Jungwon tertawa lebar mendengar jawaban itu, tetapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa ada lebih banyak hal yang tidak mereka katakan—hal-hal yang tak ingin dibicarakan di hadapannya.


Suasana di meja makan mendadak berubah tegang. Semua mata tertuju pada sang Ayah yang duduk di ujung meja dengan ekspresi dingin. Di tangannya, ia memegang sebuah amplop yang berisi laporan hasil akademik Ni-ki selama setahun terakhir. Wajah Ni-ki pucat, jantungnya berdegup kencang. Ia benar-benar lupa bahwa laporan itu akan sampai ke tangan Ayahnya. "Ni-ki, bisa kau jelaskan ini?" tanya Ayah dengan nada tajam yang tak dapat disembunyikan. Tatapannya menusuk, membuat udara di ruangan itu terasa semakin berat. 



Bunda, yang sejak awal mencoba menjaga suasana tetap hangat, segera angkat bicara. "Bisakah biarkan anak-anak makan dengan tenang tanpa membahas nilai?!" suaranya sedikit meninggi, mencerminkan kejengkelannya. "Mereka sudah cukup lelah dengan tekanan yang kau berikan." Semua orang terdiam, bahkan Heeseung yang biasanya tenang tak berani bersuara. Ni-ki hanya menunduk, menggenggam erat serbet di tangannya, mencoba menyembunyikan rasa takut dan malunya. Ayah menatap Bunda dengan pandangan tajam, tetapi tidak segera merespons, membuat suasana semakin tegang. Sunoo dan Jungwon saling melirik, sama-sama berharap ketegangan ini tidak berujung buruk.


Bunda semakin kehilangan kesabarannya. Suaranya terdengar lebih tegas dan dalam, memecah keheningan yang mencekam di meja makan. “Ni-ki masih berusia tujuh tahun kalau kau lupa!” katanya, menatap tajam ke arah suaminya. “Kau tidak bisa terus-menerus menuntut kesempurnaan dari anak-anak kita, apalagi dari anak seusianya!”

Ayah terdiam sejenak, wajahnya tetap kaku, namun matanya sedikit berkedip, seolah-olah kalimat Bunda telah menusuk pertahanannya. “Usia bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab,” balasnya dingin. Ia menggeser amplop itu ke arah Ni-ki, membuat bocah itu semakin merasa kecil. “Semakin awal dia belajar disiplin, semakin baik untuk masa depannya. Aku tidak akan membiarkan kelalaian menjadi kebiasaan.”



Heeseung, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat suara. “Ayah, ini hanya nilai sekolah. Ni-ki sudah melakukan yang terbaik. Kalau Ayah terus seperti ini, bukannya membuat kami lebih baik, Ayah malah membuat kami semakin merasa tidak cukup.” Suaranya tenang, tetapi ada nada tegas yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.

Ayah menatap Heeseung dengan tajam, tetapi tidak membalas. Bunda segera mengambil kesempatan itu untuk meredakan suasana. “Kita di sini untuk makan malam sebagai keluarga. Bukan untuk memperdebatkan nilai anak-anak. Tolonglah, Berikan mereka sedikit ruang,” katanya dengan suara lebih lembut namun tetap tegas.



Ni-ki masih menunduk, tetapi merasakan sedikit kelegaan dari dukungan Bunda dan Heeseung. Meski ketegangan belum sepenuhnya reda, setidaknya ia merasa tidak sendirian menghadapi Ayahnya.


Ayah akhirnya menarik napas panjang, meletakkan amplop di meja tanpa berkata apa-apa. Wajahnya tetap tegang, tetapi ia tidak melanjutkan pembicaraan. “Baik,” katanya dingin. “Tapi jangan harap ayah akan mengabaikan ini begitu saja. Kita akan bicarakan nanti.” Setelah itu, ia mulai mengambil makanan di depannya, seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Ni-ki masih merasa berat di dadanya, tetapi ia mencoba untuk makan, meskipun setiap suap terasa sulit untuk ditelan. Bunda, yang duduk di sebelahnya, menyentuh tangan kecilnya dengan lembut, memberikan kehangatan yang sangat ia butuhkan. Heeseung dan Sunoo saling bertukar pandang, keduanya tahu bahwa ini hanya penundaan, bukan penyelesaian.



Setelah beberapa saat keheningan yang canggung, Jungwon mencoba mencairkan suasana. “Bunda, apa Bunda membawa oleh-oleh dari Jepang?” tanyanya dengan nada ceria, berharap dapat mengalihkan perhatian semua orang.

Bunda tersenyum, meskipun ia tahu usaha Jungwon itu lebih untuk menyelamatkan suasana daripada rasa ingin tahu. “Tentu saja, Jungwon. Ada banyak camilan favorit kalian di koper Bunda. Nanti setelah makan malam, kita bisa membukanya bersama.”



Mendengar itu, Ni-ki akhirnya mengangkat kepalanya sedikit dan tersenyum kecil. Setidaknya, malam yang penuh ketegangan ini memiliki sedikit harapan untuk berakhir lebih damai. Heeseung menghela napas pelan, bersyukur bahwa setidaknya Bunda ada di sini untuk menjadi penyeimbang dalam kehidupan mereka yang penuh tekanan.




____________________________________________________________


Di dalam kamar yang temaram, Bunda mendekati suaminya yang duduk di tepi ranjang dengan punggung membungkuk. Ia tampak tenggelam dalam pikirannya, dengan raut wajah yang dingin tetapi lelah. Bunda duduk di sampingnya tanpa mengeluarkan suara, lalu dengan lembut mengelus punggungnya, mencoba menenangkan hatinya yang keras. 



"Aku tahu kau begitu karena sayang pada mereka," ujar Bunda dengan suara pelan namun penuh ketegasan. "Tapi jangan limpahkan rasa sakit dan trauma yang kau punya pada mereka. Mereka tidak bersalah sama sekali. Mereka hanya anak-anak, mereka berhak merasa dicintai tanpa syarat, bukan dihancurkan oleh ekspektasi yang terlalu tinggi."



Ayah tetap diam, tatapannya kosong mengarah ke lantai. Tangannya mengepal di atas lutut, seolah-olah sedang menahan sesuatu. "Aku hanya ingin mereka kuat," gumamnya akhirnya, suaranya rendah dan nyaris tak terdengar. "Dunia ini tidak mudah, dan aku tidak ingin mereka tumbuh menjadi orang yang lemah, seperti aku dulu."



Bunda menghela napas panjang, menahan air matanya sendiri. Ia tahu apa yang terjadi di masa lalu suaminya—rasa sakit yang terus menghantuinya hingga kini. Tetapi ia tidak bisa membiarkan hal itu merusak kehidupan anak-anak mereka. "Sayang, kekuatan itu datang dari cinta dan dukungan, bukan dari tekanan. Kalau kau terus begini, kau hanya akan kehilangan mereka, satu per satu."



Kata-kata itu menusuk hati Ayah, membuatnya menutup wajah dengan kedua tangan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa goyah. Tetapi meski begitu, ia tidak menjawab, hanya membiarkan keheningan menggantung di antara mereka.







to be continue
6 Januari 2025







Thank you for your vote 🫶

PULANG | END ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang