Setelah beberapa saat duduk diam di ruang kerjanya, Heeseung membiarkan pikirannya melayang. Ia memikirkan apa yang baru saja terjadi—pujian dari ayahnya memang melegakan, tapi itu juga seperti cambuk halus yang mengingatkannya bahwa ini bukan akhir. Ia tahu, setelah satu pencapaian, akan ada tantangan berikutnya yang lebih berat.
Ponselnya kembali bergetar, menampilkan pesan dari salah satu rekan kerja yang meminta laporan tambahan untuk disiapkan keesokan hari. Heeseung menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memandang layar komputer. Tangannya terulur mengambil dokumen yang belum selesai ia pelajari semalam. "Tidak ada waktu untuk istirahat," gumamnya pada diri sendiri, memaksakan senyum kecil meski hatinya lelah.
Namun, di tengah kebisuannya, bayangan Ni-ki melintas di pikirannya—adik bungsunya yang selalu mendapat perhatian khusus dari keluarga, terutama ayah mereka. Heeseung tidak bisa menahan diri untuk merasa iri sekaligus protektif. Ni-ki adalah pusat perhatian keluarga, tapi juga menjadi tanggung jawab yang besar. "Dia berbeda," kata ayahnya kemarin masih terngiang. Itu adalah pengingat bahwa Heeseung, sebagai yang tertua, harus menjaga bukan hanya dirinya, tetapi juga adik-adiknya, terutama Ni-ki.
Dengan berat hati, ia kembali menyalakan komputernya dan mulai bekerja lagi. Matanya memandang layar dengan fokus yang dipaksakan, sementara di hatinya ia bertanya-tanya, sampai kapan ia harus terus hidup dengan tekanan yang tak pernah berakhir ini?
____________________________________________________________
Lain dengan Heeseung, Jay menghadapi tekanan itu dengan cara yang jauh lebih sulit. Sejak awal, ia merasa terpaksa mengikuti jejak Heeseung, yang dianggap sebagai standar sempurna oleh ayah mereka. Jay, yang tidak memiliki ketertarikan mendalam pada dunia bisnis keluarga, merasa seperti ikan yang dipaksa terbang di langit. Setiap dokumen yang diberikan kepadanya seolah menjadi teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Bahkan hal-hal sederhana di dalamnya membuat otaknya seolah berhenti bekerja.
Yang membuat situasinya semakin berat adalah pengawasan ketat ayah mereka. Setiap kali Jay mencoba bekerja, ia merasa seperti diawasi oleh mata yang tak terlihat, menambah rasa cemas yang membuatnya sulit bernapas. Beberapa kali ia mencoba menghirup napas dalam untuk menenangkan diri, tetapi rasa gugup itu tak pernah benar-benar hilang.
Di ruang kerjanya, Jay memandangi dokumen di depannya dengan tatapan kosong. Ia tahu bahwa ia diharapkan menjadi pilar lain dalam keluarga ini, mendampingi Heeseung, tetapi kenyataan bahwa ia tidak memiliki kemampuan atau semangat seperti kakaknya membuatnya merasa gagal bahkan sebelum mencoba. "Aku tidak seperti Heeseung," gumamnya pada dirinya sendiri dengan nada pahit, seolah-olah mengingatkan dirinya pada sesuatu yang sudah ia tahu sejak lama.
Jay akhirnya menyerah. Ia meletakkan pena yang sedari tadi hanya ia putar-putar di jarinya, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi dengan lelah. Tatapannya mengarah ke langit-langit ruangan, mencoba mencari alasan untuk terus bertahan di dunia yang tidak pernah ia pilih. Ayahnya selalu mengatakan bahwa menjadi bagian dari keluarga mereka adalah tanggung jawab, bukan pilihan, tapi bagi Jay, kata-kata itu terasa seperti belenggu yang tak pernah lepas.
Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka, dan ayahnya berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar, tetapi penuh kewibawaan. Jay langsung duduk tegak, meskipun tubuhnya terasa berat. "Apa kau sudah selesai mempelajari dokumen itu?" tanya sang ayah dengan nada tenang namun tegas. Jay menelan ludah, berusaha mencari jawaban yang tidak akan memancing kemarahan. "Jay masih mencoba, Ayah," jawabnya pelan, matanya tak berani menatap langsung.
Ayahnya melangkah masuk, mendekat ke meja kerja Jay. "Jay, kau harus lebih serius. Ini bukan hanya tentang dirimu, tapi juga keluarga kita. Kau tahu itu, kan?" kata-katanya menusuk, membuat Jay merasa semakin kecil. Ia hanya mengangguk, tak berani membalas apa pun. Setelah beberapa saat, sang ayah berbalik dan pergi, meninggalkan tekanan yang lebih besar dari sebelumnya.
Setelah pintu tertutup, Jay menundukkan kepala, meremas rambutnya dengan frustrasi. Ia merasa seperti berada di tempat yang semakin gelap, tanpa jalan keluar. "Kenapa aku harus ada di sini?" gumamnya, suara itu nyaris tenggelam dalam kesunyian ruangan. Tapi meski perasaan itu menggerogotinya, ia tahu bahwa menyerah bukanlah pilihan yang diperbolehkan dalam keluarga ini. Jadi, dengan tangan gemetar, ia kembali meraih dokumen itu, mencoba sekali lagi untuk menjadi seperti yang diinginkan ayahnya, meski dalam hatinya ia merasa kehilangan dirinya sedikit demi sedikit.
Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Jay akhirnya menyerah untuk kedua kalinya. Ia meletakkan dokumen itu dengan kasar, menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dari kursinya. Ia butuh udara segar, sesuatu untuk membebaskan dirinya, walau hanya sejenak. Dengan langkah berat, ia menuju balkon kamarnya dan menatap langit malam. Angin dingin menerpa wajahnya, sedikit mengusir rasa sesak di dadanya.
"Apa aku benar-benar harus hidup seperti ini?" gumamnya pada dirinya sendiri. Bayangan Heeseung melintas di benaknya—sang kakak yang terlihat sempurna di mata ayah mereka, yang selalu berhasil memenuhi ekspektasi. Tapi Jay tahu, Heeseung pun pasti membawa beban yang sama, bahkan mungkin lebih berat.
Namun, berbeda dengan Heeseung yang mampu menahan semuanya, Jay merasa tubuh dan pikirannya perlahan hancur. Ia meremas pagar balkon, mencoba menahan rasa frustrasi yang meluap-luap. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan. Tapi malam itu, di bawah langit yang gelap, Jay hanya berharap—walau untuk sekali saja—ada seseorang yang memahami perasaannya, yang bisa mengatakan bahwa ia tidak harus sempurna untuk menjadi berharga.
Namun, harapan itu terasa seperti mimpi yang terlalu jauh. Dengan langkah lemas, Jay kembali ke dalam kamar, membiarkan dokumen-dokumen itu tetap tertinggal di mejanya, sementara ia merebahkan diri di tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, mencoba melupakan semuanya, meskipun ia tahu, esok pagi tekanan yang sama akan kembali menghantuinya.
Jay terbangun dengan kepala yang terasa berat. Matanya menatap langit-langit kamar, namun tubuhnya enggan bergerak. Seolah semua energi telah tersedot habis oleh tekanan yang ia bawa. Jam di dinding menunjukkan bahwa ia sudah terlambat untuk memulai harinya, tapi Jay hanya diam, tak mampu memaksa dirinya untuk bangkit.
Pikirannya kembali ke malam sebelumnya—bukan hanya tentang ayahnya atau dokumen yang tak bisa ia selesaikan, tetapi tentang perasaan tidak cukup baik yang terus menghantuinya. Ia merasa seperti boneka yang diatur untuk menjalani hidup yang bukan miliknya, tanpa tahu bagaimana caranya melepaskan diri dari tali-tali itu.
Namun, ketukan keras di pintu kamarnya membuyarkan lamunannya. "Jay, kau tidak akan datang ke kantor?" suara Heeseung terdengar dari balik pintu. Jay menghela napas panjang sebelum menjawab. "Aku akan bersiap sebentar lagi," katanya, meski sebenarnya ia belum ingin bangun.
Heeseung membuka pintu tanpa menunggu izin, wajahnya menunjukkan rasa lelah yang sama seperti Jay. "Ayah sudah menunggu. Dia tidak suka kau terlambat," kata Heeseung, nadanya tegas namun ada nada simpati di dalamnya. Jay mengangguk pelan, tidak ingin memperpanjang pembicaraan.
Setelah Heeseung pergi, Jay akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Dengan langkah gontai, ia menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin untuk menyadarkan dirinya. Di depan cermin, ia menatap bayangannya sendiri, mencoba mencari kekuatan yang entah di mana. Tapi tatapan itu kosong, seperti orang asing yang tidak ia kenal.
"Satu hari lagi," bisiknya pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri untuk bertahan. Ia tahu bahwa hari ini tidak akan lebih mudah dari sebelumnya, tetapi seperti biasa, ia akan tetap melangkah, membawa luka dan tekanan yang perlahan menggerogoti dirinya dari dalam.
to be continue
3 Januari 2025
Thank you for your vote 🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
