Setelah bersiap dengan seadanya, Jay keluar dari kamarnya. Langkahnya berat, tapi ia tahu ia tidak punya pilihan selain menuju kantor seperti yang diminta. Di meja makan, hanya Heeseung yang terlihat sedang menyelesaikan sarapannya. Jay mengabaikan rasa lapar di perutnya dan langsung menuju pintu depan, namun suara Heeseung menghentikannya.
"Jay, kau yakin tidak ingin makan dulu? Kau akan butuh energi hari ini," kata Heeseung, tanpa menoleh dari piringnya. Jay hanya menggeleng pelan. "Tidak ada waktu," jawabnya singkat sebelum membuka pintu dan melangkah keluar.
Perjalanan menuju kantor terasa panjang meskipun jaraknya tidak jauh. Jay terus memikirkan bagaimana ia akan menghadapi ayahnya hari ini, terutama setelah kegagalan tadi malam untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Sesampainya di kantor, ia melangkah masuk ke ruangan ayahnya dengan rasa cemas yang tidak bisa disembunyikan.
Ayahnya sedang duduk di meja kerjanya, membaca sesuatu dengan ekspresi serius. Tanpa menatap Jay, ia langsung berbicara. "Kau terlambat. Dan ayah dengar dokumen yang kuminta belum selesai," suaranya tenang, namun penuh tekanan. Jay menggigit bibirnya, mencoba menjelaskan. "Jay... mencoba, Ayah, tapi—"
"Tapi apa?" potong ayahnya tajam, akhirnya menatap Jay dengan tatapan dingin. "Kau pikir mencoba cukup? Dunia ini tidak akan menunggu orang yang hanya mencoba, Jay. Jika kau tidak bisa, maka kau akan kalah. Dan aku tidak mendidikmu untuk kalah." Jay merasakan dadanya sesak. Kata-kata itu seperti palu yang menghantam keras, menghancurkan sisa-sisa kepercayaan dirinya. Namun, ia tidak membalas. Ia hanya menunduk, menerima semua itu tanpa perlawanan.
Setelah beberapa saat, ayahnya melanjutkan. "Kau harus menyelesaikan ini hari ini. Tidak ada alasan lagi. Jika kau benar-benar ingin menjadi bagian dari keluarga ini, buktikan bahwa kau bisa." Jay hanya mengangguk lemah sebelum keluar dari ruangan. Saat ia kembali ke mejanya, tangannya gemetar saat mengambil dokumen yang tadi malam bahkan tidak bisa ia pahami. Ia tahu bahwa ia harus menyelesaikan ini, tidak peduli betapa sulitnya, karena ia tidak ingin mendengar kata-kata yang lebih menyakitkan lagi. Namun, di dalam dirinya, ia mulai bertanya-tanya: kapan semua ini akan berakhir? Dan apakah ia benar-benar mampu bertahan?
____________________________________________________________
Heeseung duduk di meja kerjanya, namun pikirannya melayang ke Jay. Adiknya itu belakangan ini tampak semakin tertekan, dan Heeseung tahu alasannya. Tuntutan dari ayah mereka yang begitu besar adalah sesuatu yang bahkan dirinya sulit tangani, apalagi Jay, yang sifat dasarnya lebih sensitif dan cenderung memendam perasaan.
Ia teringat bagaimana Jay terlihat lesu saat meninggalkan meja makan pagi tadi. Meski Jay tidak mengatakannya, Heeseung bisa membaca dari sorot matanya bahwa adiknya sedang berada di ambang batas. Heeseung mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, berpikir keras. Ia ingin membantu Jay, tapi ia sendiri merasa terjebak dalam tekanan yang sama.
Setelah berpikir beberapa saat, Heeseung akhirnya memutuskan untuk bertindak. Ia meninggalkan pekerjaannya sejenak dan berjalan ke ruang kerja Jay. Saat ia membuka pintu, ia melihat Jay sedang menatap dokumen di mejanya, namun matanya kosong, seperti tidak benar-benar ada di sana.
"Jay," panggil Heeseung pelan. Jay mengangkat wajahnya, terlihat sedikit terkejut. "Heeseung Hyung? Ada apa?" tanyanya dengan suara lelah. Heeseung mendekat, lalu duduk di kursi di depan meja Jay. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja," katanya jujur. Jay tersenyum tipis, namun tidak ada kehangatan di balik senyuman itu. "Aku baik-baik saja, Hyung. Jangan khawatir," jawabnya, meski Heeseung tahu itu kebohongan.
"Jay, kau tidak harus memaksakan diri sampai seperti ini," kata Heeseung, mencoba meyakinkan. "Kalau kau merasa butuh bantuan, aku di sini." Jay terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Jay harus bisa sendiri, Hyung. Kalau terus bergantung pada orang lain, Ayah tidak akan pernah percaya padaku." Heeseung menghela napas panjang. Ia ingin mengatakan bahwa kepercayaan ayah mereka tidak seharusnya menjadi segalanya, tapi ia tahu Jay tidak akan mendengarkan. Jadi, ia hanya menepuk bahu adiknya dengan lembut sebelum berdiri. "Kalau begitu, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Jay. Kau juga manusia, kau butuh istirahat."
Setelah Heeseung keluar dari ruangan, Jay hanya duduk diam. Kata-kata kakaknya menyentuh sesuatu di dalam dirinya, tetapi beban ekspektasi yang ia bawa terlalu besar untuk ia lepaskan begitu saja. "Istirahat?" gumamnya pelan. "Aku bahkan tidak tahu caranya."
Jay duduk diam, menatap dokumen di depannya tanpa benar-benar membaca isinya. Kata-kata Heeseung masih terngiang di telinganya. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri." Tapi bagaimana caranya? Ayah mereka tidak pernah memberikan ruang untuk kesalahan, apalagi untuk istirahat. Ia menghela napas panjang, tangannya bergerak memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Ia merasa seperti berjalan di atas tali yang sangat tipis—satu langkah salah, dan ia akan jatuh ke dalam jurang. Jay tahu, Heeseung peduli padanya, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa tekanan yang ia rasakan tidak berkurang sedikit pun.
Di sisi lain, Heeseung kembali ke ruang kerjanya dengan hati yang tidak tenang. Ia tahu Jay sedang berada di titik yang berbahaya, tapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa terus-menerus melindungi adiknya. Sebagai anak tertua, Heeseung merasa bertanggung jawab atas semuanya—keluarga, perusahaan, bahkan kesejahteraan adik-adiknya. Namun, ia juga sadar bahwa ia tidak bisa memikul semuanya sendirian.
Heeseung akhirnya mengirim pesan singkat kepada salah satu rekan kerja terpercaya mereka, meminta agar beban Jay sedikit dikurangi dalam beberapa minggu ke depan. Itu mungkin bukan solusi jangka panjang, tapi setidaknya itu bisa memberikan Jay sedikit ruang bernapas. Sementara itu, di ruangannya, Jay mencoba untuk fokus. Tapi pikirannya terus melayang, dipenuhi keraguan dan rasa takut. Dalam hati, ia bertanya-tanya: kapan terakhir kali ia merasa bebas? Kapan terakhir kali ia bisa menjalani hidup tanpa harus membuktikan dirinya pada orang lain?
Jay mendesah lagi, mencoba mengusir pikiran itu. Tapi jauh di dalam dirinya, ia tahu, jika ini terus berlanjut, ia tidak yakin berapa lama lagi ia bisa bertahan.
to be continue
3 Januari 2025
Thank you for your vote 🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
