Keesokan paginya, di ruang makan yang sepi, hanya Sunoo, Jungwon, Heeseung, dan Ni-ki yang sedang sarapan. Suasana terasa canggung, seperti biasa, tanpa kehadiran ayah mereka yang jarang terlihat pagi-pagi, terutama ketika mereka sedang berkumpul. Heeseung baru saja membuka mulut untuk memanggil ayah mereka, namun langkah kaki yang berat terdengar dari atas, menghentikan kata-katanya. Semua mata otomatis tertuju ke tangga, dan dalam sekejap, ayah mereka muncul dari kamar atas, tatapan tajamnya langsung melirik ke arah mereka yang sedang makan dengan diam.
Ni-ki, yang duduk paling dekat dengan pintu, terkejut melihat sosok ayahnya. Ia tahu betul, di atas hanya ada kamar Sunoo, Jungwon, dan kamarnya sendiri. Perasaan cemas mulai menyelimuti dirinya, khawatir jika ayahnya memeriksa kamar mereka, terutama soal obat yang ia sembunyikan. Ni-ki merasa tenggorokannya tercekat. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata, "Aku… sudah hampir seminggu tidak meminum obatku, Hyung." Ia mengaku dengan kejujuran yang berat, matanya menunduk, takut jika hal ini akan membawa konsekuensi yang lebih besar. “Aku bosan, dan muak. Lagipula, aku sudah lama tidak kambuh,” tambahnya dengan nada yang sedikit menyentuh kesal, meskipun ia tahu itu bukan alasan yang bisa diterima oleh ayah mereka.
Heeseung, yang duduk di sampingnya, hanya bisa menatap Ni-ki dengan cemas, sementara Jungwon terlihat bingung dan sedikit khawatir. Mereka semua tahu betapa rapuhnya kondisi Ni-ki, tapi ayah mereka tidak akan menerima alasan semacam itu. Mereka hanya bisa menunggu reaksi sang ayah, yang sekarang tengah menuruni tangga dengan langkah pasti, wajahnya tanpa ekspresi.
Ayah mereka akhirnya turun ke bawah, langkahnya yang berat dan pasti menggema di seluruh ruangan. Saat matanya bertemu dengan Ni-ki, ada sesuatu yang tak bisa disembunyikan dalam tatapannya—sebuah ketegangan yang membuat suasana semakin mencekam. "Kau... belum meminum obatmu Ki?" suaranya terdengar rendah dan mengancam, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah sebuah perintah yang tak bisa dibantah.
Ni-ki menunduk, tidak mampu menatap mata ayahnya yang penuh amarah. "Ni-ki sudah bosan, Ayah. Semua ini... rasanya tidak ada gunanya," jawab Ni-ki pelan, merasa hatinya seperti terhimpit oleh beratnya kata-kata yang baru saja keluar. Heeseung mengamati dari samping, merasakan ketegangan yang memuncak. "Ni-ki, itu bukan keputusan yang bijak," kata Heeseung, berusaha menenangkan, meski ia tahu kata-katanya tidak akan banyak berarti jika sudah menyangkut perintah dari ayah mereka.
Ayah mereka menatap Ni-ki lebih dalam, matanya seperti menembus ke dalam jiwa anaknya. “Kau pikir ini semua mudah? Kalian semua adalah bagian dari keluarga ini. Ada harga yang harus dibayar, dan itu tidak akan pernah berubah, Ni-ki.” Suara ayahnya semakin dingin, dan semua di meja makan merasa seakan-akan udara di sekitar mereka semakin menekan. Ni-ki menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang ingin jatuh. Namun, ia tahu—dalam keluarga ini, tidak ada tempat untuk kelemahan, dan ia harus bertahan, meskipun setiap serat dalam dirinya ingin lari.
Ni-ki menggigit bibir bawahnya, merasa ada beban berat yang menekan dadanya. Perlahan, ia mengangkat wajahnya, mencoba menunjukkan sedikit keberanian meski di dalam dirinya ia merasa rapuh. “Maaf, Ayah... Ni-ki akan minum obatnya lagi nanti,” ucapnya pelan, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan yang menguasai ruangan. Ia tidak berani menatap ayahnya, hanya menunduk, menunggu reaksi yang mungkin akan datang.
Heeseung, yang duduk di samping Ni-ki, merasakan ketegangan yang masih menggantung di udara. Dengan lembut, ia mengusap punggung adik bungsunya, memberi sedikit kenyamanan meskipun ia tahu tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk mengubah keadaan. "Tidak perlu takut, Ni-ki," bisiknya dengan suara pelan, mencoba memberi kekuatan meskipun ia sendiri merasa cemas. “Kita semua ada di sini. Kita akan menghadapi ini bersama-sama.”
Ayah mereka mengamati mereka beberapa saat, masih dengan tatapan tajam yang tak bisa disembunyikan. Namun, seiring waktu yang berlalu, ekspresi di wajahnya sedikit melunak. “Kau tahu apa yang harus dilakukan, Ni-ki,” katanya dingin, namun kali ini tanpa ancaman yang terlalu mencolok. Tanpa menunggu balasan, ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya. Sunyi, hanya suara detak jam yang terdengar di ruangan makan, sementara masing-masing dari mereka merasakan beban yang semakin berat untuk dipikul.
Setelah ayah mereka pergi, Ni-ki tak bisa menahan perasaan yang semakin membuncah di dadanya. Ia menunduk, menggenggam erat ujung bajunya, mencoba menahan air mata yang mulai mengancam. Dengan suara yang serak, ia akhirnya mengeluarkan keluhannya. "Hyung... kenapa ayah jahat sekali dengan kita semua? Kita ini bukan boneka, kenapa ayah selalu menuntut kesempurnaan?" kata Ni-ki, suaranya penuh kepedihan. Meskipun usianya masih muda, ia sudah menyaksikan cukup banyak penderitaan yang dirasakan oleh saudara-saudaranya, terutama Heeseung yang sering kali menjadi target tekanan ayah mereka.
Heeseung menatap Ni-ki dengan mata penuh empati, meskipun dirinya sendiri juga merasa tertekan dan lelah. Ia tahu betul perasaan adiknya, yang meskipun tidak sepenuhnya merasakan beban seperti yang mereka alami, tetap harus hidup di bawah bayang-bayang tuntutan yang sama. "Aku tahu, Ni-ki," jawab Heeseung pelan, suaranya penuh kelelahan. "Kadang aku juga merasa seperti itu. Tapi kita tidak punya banyak pilihan. Ayah… dia hanya ingin kita menjadi yang terbaik, meskipun caranya salah." Heeseung menghela napas panjang, menatap adiknya dengan mata yang lelah namun penuh kasih sayang. "Kita tidak bisa mengubahnya, tapi yang bisa kita lakukan adalah saling mendukung. Kita akan melewati ini bersama, aku janji."
Ni-ki hanya bisa mengangguk, meskipun hatinya tetap terasa berat. Ia tahu kata-kata Heeseung tidak akan mengubah keadaan, namun sedikit kenyamanan dari saudara-saudaranya membuatnya merasa sedikit lebih baik. Namun, di dalam dirinya, pertanyaan itu tetap menghantui: Sampai kapan mereka harus terus berjuang dalam tuntutan yang tak pernah berakhir ini?
Heeseung menatap Ni-ki dengan penuh perhatian, mencoba mengalihkan perhatian adiknya dari beban yang begitu berat di hatinya. Dengan lembut, ia menyentuh bahu Ni-ki, memberikan sedikit ketenangan. “Sudah, Ni-ki, jangan bersedih,” kata Heeseung, suaranya lembut namun penuh keyakinan. “Setelah ini, kita jemput Bunda di bandara. Kau pasti akan lebih senang melihatnya,” lanjutnya, berusaha memberikan sedikit kebahagiaan dalam suasana yang kelam ini.
Ni-ki mengangkat wajahnya, matanya yang tadinya penuh air mata kini sedikit berbinar. Meskipun hatinya masih penuh dengan kebingungan dan rasa takut, kehadiran ibunya selalu memberikan rasa aman yang sulit dijelaskan. "Iya, Hyung... aku berharap Bunda bisa membuat semuanya terasa lebih baik," jawab Ni-ki dengan suara yang lebih ringan, meskipun ia tahu segala masalah ini tidak akan selesai begitu saja.
Heeseung tersenyum kecil, meski senyum itu tampak sedikit pudar. “Ayo, kita berangkat. Bunda pasti rindu sekali,” ujarnya, mencoba memberi semangat pada adiknya. Dengan langkah yang sedikit lebih ringan, mereka berdua keluar dari rumah, meninggalkan ketegangan dan tekanan yang masih membayangi mereka di dalam. Dalam perjalanan menuju bandara, Ni-ki merasa sedikit lebih tenang, berharap kedatangan ibunya akan membawa sedikit kelegaan dari hidup yang semakin menyesakkan ini.
to be continue
5 Januari 2025
Thank you for your vote 🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
Fan-FictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
