Sesampainya mereka di rumah, suasana terasa sedikit lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Ni-ki langsung menuju kamarnya, sementara Heeseung dan Bunda berjalan ke ruang tamu. Bunda duduk di sofa, matanya menyapu seluruh sudut ruangan, mengingat kembali betapa rumah ini selalu dipenuhi ketegangan. Ia menghela napas panjang, merasa ada banyak hal yang ingin ia perbaiki, namun ia tahu tak semuanya berada dalam kendalinya.
“Heeseung,” panggil Bunda lembut, membuat Heeseung yang tengah melepas jaketnya menoleh. “Bagaimana dengan adik-adikmu yang lain? Apa mereka baik-baik saja?” tanyanya, meskipun ia sudah menduga jawabannya.
Heeseung duduk di samping Bunda, mengusap wajahnya yang lelah. “Mereka... berusaha, Bunda. Sama seperti aku. Tapi aku tahu mereka semua merasa tertekan. Ayah tidak memberi kesempatan untuk melakukan kesalahan sedikitpun, apalagi untuk istirahat.” Suaranya terdengar datar, namun penuh beban. "Sunoo dan Jungwon juga kelihatan makin susah tidur akhir-akhir ini," tambahnya.
Bunda mengangguk pelan, menundukkan kepala seakan sedang memikirkan sesuatu. “Bunda harus bicara dengan Ayah kalian. Ini tidak bisa terus seperti ini. Kalian semua terlalu muda untuk menanggung beban yang sebesar ini,” katanya dengan nada tegas, meskipun Heeseung bisa melihat keraguan di matanya.
Heeseung hanya tersenyum getir. “Bunda tahu Ayah tidak akan berubah. Tapi... kalau itu bisa membuat keadaan sedikit lebih baik, aku akan mendukung Bunda,” ujarnya, meskipun dalam hati ia tahu harapan itu mungkin tidak akan tercapai. Baginya, sudah cukup jika adik-adiknya bisa bernapas lebih lega, meskipun hanya untuk sementara.
Bunda menatap Heeseung dengan mata yang penuh keprihatinan. Ia tahu putra sulungnya ini telah memikul terlalu banyak beban, lebih dari yang seharusnya untuk usianya. Namun, ia juga tahu bahwa kata-kata saja tidak cukup untuk mengubah situasi. “Terima kasih, Hee,” ucapnya pelan. “Bunda akan mencoba bicara dengan Ayah kalian. Setidaknya, untuk membuatnya lebih memahami perasaan kalian.”
Heeseung tidak menjawab, hanya mengangguk kecil. Baginya, janji itu terdengar seperti harapan kosong, tetapi ia tidak ingin mengecilkan usaha Bunda. Ia tahu ibunya benar-benar peduli, meskipun sering kali tangannya terikat oleh keputusan Ayah mereka.
Sementara itu, di kamar Ni-ki, suasana terasa lebih sunyi. Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi botol obat yang diletakkan di atas meja kecil di sampingnya. Ia terdiam lama, mencoba melawan perasaan campur aduk yang menyelimuti pikirannya. "Haruskah aku benar-benar kembali meminumnya?" pikirnya, ragu. Ia mengingat janji yang telah ia buat pada Ayahnya pagi tadi, tetapi di sisi lain, ia merasa lelah terus-menerus bergantung pada obat itu.
Ketukan pelan di pintu memecah lamunannya. “Ni-ki, boleh Hyung masuk?” suara Sunoo terdengar dari balik pintu.
“Masuk saja, Hyung,” jawab Ni-ki. Pintu terbuka, dan Sunoo melangkah masuk dengan senyum kecil di wajahnya. “Kau terlihat lelah,” komentar Sunoo sambil duduk di kursi dekat meja. “Apa kau baik-baik saja?”
Ni-ki hanya mengangguk, mencoba menyembunyikan rasa berat di hatinya. “Hyung, menurutmu... apa kita harus selalu melakukan apa yang Ayah mau?” tanyanya tiba-tiba.
Sunoo terdiam sejenak, pertanyaan itu menusuk ke dalam dirinya. “Hyung juga sering bertanya-tanya soal itu, Ni-ki,” jawabnya akhirnya. “Tapi untuk saat ini... mungkin kita hanya harus bertahan. Hyung tidak tahu apa ini cara yang benar, tapi aku harap kita bisa menemukan jawabannya bersama-sama.”
Ni-ki tersenyum tipis, merasa sedikit lebih ringan setelah mendengar kata-kata Sunoo. Meskipun hidup mereka penuh tekanan, setidaknya mereka masih memiliki satu sama lain. Dan itu, bagi Ni-ki, adalah alasan untuk terus bertahan.
Sunoo menatap Ni-ki yang masih memegang botol obat itu dengan tatapan penuh perhatian. Ia tahu, meskipun Ni-ki sering terlihat kuat dan ceria, ada banyak beban yang disimpan adiknya sendirian. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh bahu Ni-ki dengan lembut. “Kalau kau merasa butuh bicara, kau tahu Hyung selalu ada untukmu, kan?” kata Sunoo dengan suara hangat.
Ni-ki mengangguk kecil, meskipun pikirannya masih penuh keraguan. “Hyung, aku hanya ingin bebas... seperti anak-anak lain. Aku ingin hidup tanpa harus terus memikirkan apakah aku cukup baik untuk Ayah atau tidak,” katanya dengan suara yang sedikit bergetar.
Sunoo menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang mendesak di dadanya. “Hyung juga, Ni-ki. Tapi mungkin kebebasan kita belum datang sekarang. Kita harus tetap bertahan, setidaknya sampai kita bisa membuat keputusan sendiri,” jawab Sunoo, meskipun ia sendiri tidak yakin kapan saat itu akan tiba.
Tiba-tiba, ketukan lain terdengar di pintu. Kali ini, suara Heeseung yang terdengar. “Sunoo, Ni-ki, ayo turun. Bunda sudah menyiapkan makan malam untuk kita,” panggilnya. Ada nada lembut dalam suaranya, seolah-olah ia berusaha membuat suasana lebih ringan.
Sunoo berdiri dan mengulurkan tangannya ke Ni-ki, mengajaknya untuk ikut. “Ayo, kita makan dulu. Kau butuh energi untuk melawan Ayah,” candanya sambil tersenyum kecil, berusaha mencairkan suasana.
Ni-ki tertawa kecil, meskipun rasa sedih itu belum sepenuhnya hilang. Ia mengambil tangan Sunoo dan berdiri. “Baiklah, Hyung. Tapi setelah makan, kau harus bantu aku kerjakan PR,” katanya, mencoba mengalihkan pikirannya dari segala tekanan yang ia rasakan.
Mereka berjalan ke ruang makan bersama, di mana Heeseung, Bunda dan lainnya sudah menunggu. Malam itu, meskipun mereka semua tahu ketegangan dalam keluarga ini masih jauh dari selesai, setidaknya ada momen kecil di mana mereka bisa merasa seperti keluarga yang lebih utuh, meskipun hanya untuk sesaat.
to be continue
6 Januari 2025
Thank you for your vote 🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
