Perasaan iri yang meluap itu mulai menguasai Sunoo. Ia berdiri dengan cepat, berusaha menghindari tatapan ayah dan Jungwon, meskipun ia tahu mereka tidak akan memperhatikannya. Dengan langkah cepat, Sunoo menuju kamarnya, menutup pintu dengan keras di belakangnya. Di dalam kamar, ia mulai meronta dengan emosi yang tak terkendali. Semua yang sudah ia lakukan, semua kursus yang diikuti, dan setiap jam belajar yang ia habiskan terasa sia-sia di matanya. Ia merasa tidak pernah bisa memenuhi harapan ayahnya, meskipun telah berusaha lebih keras dari siapa pun. Dan kini, melihat Jungwon yang dengan mudah mendapatkan pujian, ia merasa usahanya bahkan tidak diakui.
Sunoo duduk di tepi ranjang, mengubur wajahnya dalam kedua telapak tangannya, mencoba menenangkan diri. Tetapi, rasa kecewa itu terlalu dalam. “Kenapa dia yang selalu dipuji? Kenapa bukan aku?” Sunoo berbisik pada dirinya sendiri. Rasanya sulit untuk menerima kenyataan bahwa meskipun ia sudah berjuang mati-matian, semua itu tidak berarti di mata ayah mereka. Perasaan kalah itu mulai merayap, dan Sunoo merasa dirinya semakin terisolasi. Ia ingin meledak, tetapi tak ada orang yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri. Namun, di balik perasaan itu, ada benih perasaan yang lebih dalam—sebuah kebingungan tentang apa yang sebenarnya ia cari: pengakuan dari ayahnya, ataukah hanya kebanggaan dari dirinya sendiri.
Sunoo terdiam beberapa saat, matanya kosong menatap dinding kamar yang sunyi. Meski hatinya dipenuhi dengan rasa marah dan frustasi, ada juga rasa lelah yang mulai menggerogoti pikirannya. Ia sadar bahwa perasaannya ini tidak hanya tentang Jungwon atau pujian ayah mereka, tetapi lebih kepada perjuangan batinnya yang tak pernah berhenti. Ia merasa seolah-olah ia selalu berusaha memenuhi standar yang ditetapkan orang lain, bukan hanya untuk dirinya sendiri, dan itu membuatnya semakin hilang arah. “Apa yang sebenarnya aku inginkan?” pikirnya dengan tatapan kosong. Pujian ayah yang seharusnya menjadi hal yang membanggakan, malah terasa begitu jauh dan tak terjangkau.
Tak lama setelah itu, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Sunoo tahu itu pasti Heeseung, yang mungkin datang untuk mengecek kondisinya setelah kejadian tadi. Sunoo menghela napas panjang dan berusaha menenangkan diri sebelum membuka pintu. "Sunoo, aku tahu kamu marah," kata Heeseung dengan lembut, melihat wajah adiknya yang masih terlihat tertekan. "Tapi kamu harus tahu, jalan hidupmu itu milikmu sendiri. Tidak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain." Sunoo hanya terdiam, menatap Heeseung dengan tatapan kosong. Meskipun kata-kata itu masuk ke dalam hatinya, rasa iri dan kecewa yang menggerogoti pikirannya masih sulit untuk dilepaskan. Namun, di tengah semua perasaan kacau itu, Sunoo mulai menyadari satu hal: mungkin inilah waktunya untuk mencari jalan hidupnya sendiri, tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan yang lain. Tapi untuk saat ini, perasaan itu masih terlalu berat untuk dihadapi seorang diri.
Di sisi lain, meskipun Jungwon menerima pujian dari ayah mereka dengan senyum bangga, di dalam hatinya ia merasa ada yang ganjil. Ia tidak sepenuhnya merasa puas dengan pujian yang diberikan. Tentu saja, ia tahu betapa besar harapan ayah mereka terhadap dirinya, namun entah mengapa, ada perasaan kosong yang ia rasakan setelah mendapatkan pengakuan itu. Ayah mereka memang memujinya, tapi Jungwon mulai merasa bahwa pujian itu tidak sepenuhnya ditujukan untuk dirinya sebagai individu, melainkan lebih pada citra yang diinginkan oleh ayah mereka—seorang anak yang sempurna, yang selalu berhasil memenuhi harapan keluarga.
Jungwon pun menyadari betapa beratnya tekanan yang ia rasakan. Ia tidak pernah merasa benar-benar dipahami, bahkan ketika orang-orang menganggapnya sebagai anak yang sukses. Ia tahu ayahnya bangga, tapi sering kali, ia merasa seperti hanya menjadi alat untuk memenuhi ambisi ayah mereka, bukan sebagai pribadi yang dihargai atas usaha dan keinginannya sendiri. Perasaan seperti ini justru membuatnya semakin tertekan, dan ia mulai meragukan apakah pujian itu benar-benar untuk dirinya atau hanya sebuah ekspektasi yang harus dipenuhi. Dalam hatinya, Jungwon merindukan pengakuan yang lebih tulus, yang tidak hanya datang dari pencapaian akademis, tetapi juga dari penerimaan dirinya sebagai individu. Namun, ia tahu itu adalah sesuatu yang sulit didapatkan, terutama ketika ayah mereka hanya melihat angka dan prestasi, bukan perasaan dan perjuangan di baliknya.
Hari demi hari, senyum bangga yang ia tampilkan mulai pudar, digantikan dengan perasaan hampa yang sulit ia ungkapkan. Ia merasa seperti menjalani kehidupan yang bukan miliknya, dipaksa untuk mengikuti jalur yang sudah ditentukan oleh orang lain, terutama ayahnya. Setiap pencapaian akademis atau keberhasilan yang ia raih seolah tak memberi dampak jangka panjang bagi dirinya. Jungwon akhirnya menyadari bahwa kesenangan yang datang dari pujian tersebut hanyalah pelipur lara sementara. Tidak ada kepuasan yang mendalam, hanya rasa lelah dan keinginan untuk mencari sesuatu yang lebih berarti—sesuatu yang bisa memberikan kebahagiaan yang lebih tulus dan bukan sekadar pengakuan dari orang lain. Namun, meskipun ia tahu ada sesuatu yang lebih besar yang ia cari, ia tetap merasa terjebak dalam lingkaran harapan dan ambisi yang tidak pernah bisa terpuaskan.
Akhirnya, Jungwon sadar bahwa ia harus membuat pilihan yang sulit: apakah ia akan terus mengejar kebahagiaan ayahnya dengan mengorbankan dirinya sendiri, ataukah ia akan berhenti memenuhi ekspektasi tersebut dan mencari kebahagiaan yang sejati, meskipun itu berarti mengecewakan ayahnya. Perasaan terjebak antara dua dunia itu semakin menggerogoti pikirannya. Di satu sisi, ia tahu ayahnya menginginkan dirinya menjadi penerus yang sempurna, tetapi di sisi lain, ia merasa semakin kehilangan dirinya sendiri dalam proses itu. Jungwon mulai mempertanyakan apakah kesuksesan yang didambakan ayahnya benar-benar sejalan dengan apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa untuk menemukan kedamaian batin, ia harus berani membuat pilihan yang sulit—apakah ia akan terus menuruti jalan yang telah ditentukan untuknya, ataukah ia akan mencari jalan hidup yang bisa membuatnya merasa utuh, meskipun itu berarti harus berhadapan dengan kekecewaan orang yang paling ia cintai.
to be continue
22 Desember 2024
Thank you for your vote 🫶
don't be a silent reader, please
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
