Sunoo selalu menjadi sosok yang ceria dan penuh energi, tetapi belakangan ini, ia mulai menunjukkan perubahan yang cukup mencolok dalam kesehariannya. Di sekolah, ia sering kesulitan untuk tetap fokus saat guru menjelaskan materi, matanya mudah tertarik ke jendela atau perbincangan teman-temannya. Tugas yang seharusnya diselesaikan dengan tenang sering terbengkalai karena ia terus-menerus teralihkan. Bahkan dalam kegiatan sehari-hari di rumah, Sunoo sering kali lupa meletakkan barang-barang penting seperti buku atau ponselnya. Ketika diajak berbicara, terkadang Sunoo tampak kesulitan untuk menyelesaikan satu kalimat tanpa terganggu oleh pemikiran atau hal lain yang tiba-tiba muncul.
Selain itu, Sunoo sering kali merasa gelisah dan tak bisa duduk tenang. Ketika berkumpul dengan teman-temannya, ia tak jarang tampak melompat-lompat atau menggerakkan tubuhnya tanpa henti, bahkan ketika tidak ada kegiatan fisik yang memerlukan gerakan tersebut. Dia juga cenderung berbicara dengan cepat dan sering kali menyela percakapan orang lain tanpa sadar. Meski biasanya ia sangat ramah, kini Sunoo menjadi lebih mudah marah atau frustrasi ketika ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya.
Meskipun kesulitan fokus dan sering teralihkan, Sunoo selalu menunjukkan dedikasi yang luar biasa saat mengerjakan tugas-tugas yang ia anggap penting. Ia cenderung memulai pekerjaan dengan penuh semangat, bahkan jika harus melakukannya dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan teman-temannya. Kecepatan berpikirnya yang cepat sering kali memberinya keuntungan dalam menyelesaikan soal-soal ujian, dan ia dapat menghasilkan jawaban yang tepat meskipun dalam keadaan terburu-buru. Hal ini membuatnya sering mendapatkan juara satu dalam berbagai kompetisi akademik, dan nilainya selalu memuaskan di setiap mata pelajaran.
Namun, di balik keberhasilannya itu, Sunoo sering kali merasa kelelahan mental. Meski ia mampu meraih hasil yang gemilang, ia tidak jarang merasa cemas atau kewalahan dengan tugas-tugas yang menumpuk. Ketidakmampuannya untuk mengatur waktu dan fokus sering membuatnya merasa stres. Namun, berkat semangat dan kemampuannya dalam beradaptasi, Sunoo tetap mampu meraih prestasi tanpa mengorbankan kualitas serta hasilnya.
"Sunoo, ayah bangga padamu," kata sang ayah suatu hari, matanya penuh kebanggaan melihat hasil ujian Sunoo yang sangat memuaskan. Nilai-nilai yang selalu cemerlang memang tak pernah mengecewakan, namun ada harapan yang lebih besar di balik pujian itu. "Ayah akan lebih bangga kalau kamu bisa masuk universitas terbaik, Sunoo," lanjut ayahnya dengan nada yang penuh harap, meskipun terdengar sedikit mengintimidasi. Sunoo bisa merasakan tekanan dalam kata-kata ayahnya, namun ia juga tahu bahwa harapan itu datang dari kasih sayang dan keinginan agar ia bisa sukses di masa depan.
"Sunoo akan berusaha, ayah, jangan khawatir," jawab Sunoo dengan tekad, meskipun ada keraguan yang menggelayuti hatinya. Sunoo berjanji untuk memberikan yang terbaik, berusaha mengelola waktu dan perhatiannya dengan lebih baik, meskipun ia tahu itu akan memerlukan banyak usaha dan kesabaran. Dalam dirinya, Sunoo memiliki keinginan kuat untuk tidak hanya membuat ayah bangga, tetapi juga untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa melewati segala rintangan, apapun bentuknya.
Namun, meskipun Sunoo bertekad untuk memenuhi harapan ayahnya, dia sering merasa tertekan oleh tuntutan yang ada. Kadang-kadang, beban itu terasa begitu berat, terutama ketika dia merasa kesulitan untuk mengatur waktunya antara belajar, beristirahat, dan kegiatan lainnya. Saat itulah ia merasa frustasi dan cemas, takut jika ia gagal memenuhi harapan tinggi yang ditanamkan ayahnya. Sunoo sering kali meragukan dirinya sendiri, berpikir apakah dia cukup mampu untuk mencapai semuanya.
to be continue
6 Desember 2024
Thank you for your vote 🫶
don't be a silent reader, please ✨
btw, gak ada kah yang mau marah ke "ayah" ? 🤣
atau karakter nya kurang greget?
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
