19

542 41 1
                                        

Sejak hari itu, Jungwon semakin susah makan. Setiap kali makanan ada di depan mata, ada perasaan cemas yang menghalangi selera makannya. Jika pun makan, itu karena terpaksa, seperti yang terjadi pada suatu hari ketika Heeseung mengetahui bahwa Jungwon seharian tidak makan sama sekali. Heeseung yang khawatir langsung memaksa Jungwon untuk makan lebih banyak. "Kamu harus makan, Won. Jangan seperti ini," kata Heeseung dengan nada tegas, tak membiarkan adiknya pergi sebelum menghabiskan makanannya.



Jungwon memang makan banyak, tapi itu hanya karena diawasi Heeseung. Setelah itu, ia langsung bergegas ke kamar mandi. Di sana, tanpa bisa menahan lagi, ia memuntahkan semuanya. Setiap suapan yang masuk terasa berat di perutnya, dan meskipun ia tahu itu salah, rasa takutnya jauh lebih besar. Ia takut menjadi malas, takut nilai-nilainya semakin buruk, dan yang paling menakutkan, ia takut menjadi seperti yang ayahnya bilang—bodoh karena makan terlalu banyak. Dalam pikirannya, makanan adalah penghalang untuk mencapai apa yang diinginkan ayahnya, yang selalu menuntut lebih dari dirinya.


Jungwon berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap dirinya sendiri dengan tatapan kosong. Air mata perlahan mengalir, tapi ia cepat-cepat menghapusnya. Tidak ada yang bisa tahu apa yang sebenarnya ia rasakan, karena ia merasa harus menjaga penampilannya di depan keluarga. Baginya, tidak ada tempat untuk kelemahan. Jika ia tidak bisa memenuhi ekspektasi ayahnya, maka ia merasa dirinya gagal. Namun, meskipun ia berusaha keras untuk mengikuti aturan yang ada, hatinya semakin terhimpit oleh rasa cemas yang tak kunjung hilang.

Setelah itu, Jungwon merasa semakin terperangkap dalam lingkaran yang tak pernah berujung. Setiap hari, ia merasa seperti ada beban besar yang menekan dadanya. Makan bukan lagi tentang memuaskan rasa lapar, tetapi tentang memenuhi ekspektasi yang terpendam. Saat ia duduk di meja makan bersama keluarganya, meskipun makanan enak di depannya, perasaan takut dan cemas selalu hadir. Takut jika makan terlalu banyak, ia akan menjadi malas, takut jika tidak cukup pintar, ayahnya akan kecewa.


Beberapa hari setelah insiden itu, Heeseung mulai memperhatikan perubahan yang terjadi pada Jungwon. Adiknya yang biasanya ceria kini semakin sering menghindari makanan. Heeseung mulai khawatir, terutama setelah melihat bagaimana Jungwon selalu tampak lesu dan tidak bertenaga. "Won, kamu gak bisa terus seperti ini," ujar Heeseung dengan nada yang lebih lembut, mencoba mendekati adiknya. "Makanan itu penting, bukan hanya untuk tubuh, tapi untuk pikiran juga. Jangan sampai kamu justru merusak dirimu sendiri dengan ketakutan itu."


Jungwon menundukkan kepala, merasa cemas jika akhirnya Heeseung tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Aku gak bisa... Heeseung Hyung, aku gak mau jadi seperti yang ayah bilang. Aku takut jadi bodoh kalau makan banyak." Suara Jungwon hampir berbisik, penuh keraguan. "Aku cuma gak ingin mengecewakan ayah."


Heeseung terdiam sejenak, menatap Jungwon dengan pandangan penuh pengertian. Dia tahu betapa kerasnya Jungwon berjuang, meskipun tidak semua orang bisa melihatnya. "Won, kamu bukan harus jadi seperti yang ayah mau, atau seperti yang kamu pikirkan. Kamu hanya perlu jadi dirimu sendiri. Kamu gak harus menahan rasa lapar dan cemas hanya untuk memenuhi ekspektasi. Kamu berharga, apapun yang terjadi," kata Heeseung, suaranya penuh empati.


"Heeseung menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Jangan terlalu mendengarkan apa kata ayah, Won. Kita semua tahu ayah memang tipikal yang suka menuntut anak-anaknya agar menjadi yang ia mau." Suaranya lembut, namun tegas, mencoba meyakinkan Jungwon bahwa tak perlu terlalu keras pada diri sendiri hanya untuk memenuhi standar yang selalu ditetapkan ayah. "Ayah memang selalu ingin yang terbaik untuk kita, tapi bukan berarti kita harus mengorbankan diri kita untuk itu. Kamu punya cara dan waktumu sendiri untuk berkembang, Won."


Jungwon terdiam sejenak, kata-kata Heeseung berputar di pikirannya. Entah mengapa, ada rasa lega yang perlahan muncul di dalam dada, meskipun masih ada keraguan yang belum sepenuhnya hilang. "Tapi... aku takut, Hyung. Takut kalau aku gak bisa memenuhi harapan dia." Jungwon menunduk, suaranya hampir tidak terdengar.


Heeseung menepuk pelan bahu adiknya, memberikan dukungan yang selama ini selalu ada, meski kadang tersembunyi dalam diam. "Won, kita semua punya kelemahan dan kekuatan kita sendiri. Tidak ada yang sempurna. Kamu gak perlu menjadi orang yang ayah mau agar bisa merasa dihargai. Cukup jadi dirimu sendiri, dan kami semua akan selalu mendukungmu, apapun yang terjadi."


"Lalu, bagaimana dengan Hyung? Bukankah Hyung juga keras dengan diri sendiri?" ucap Jungwon, tepat sasaran. Pertanyaan itu menggantung di udara, menyentuh bagian yang jarang dibicarakan di antara mereka. Heeseung terdiam sejenak, terkejut oleh pertanyaan yang begitu langsung, tapi di saat yang sama, ada sedikit senyum tersirat di wajahnya, seperti dia sudah tahu bahwa Jungwon pasti akan menyadari hal itu.






to be continue
9 Desember 2024





Thank you for your vote 🫶

PULANG | END ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang