32

508 37 2
                                        

Sesampainya di bandara, suasana di sekitar mereka tampak sibuk dengan orang-orang yang datang dan pergi. Namun, bagi Ni-ki dan Heeseung, hari itu terasa berbeda. Di tengah kebisingan itu, ada rasa harap yang tumbuh dalam diri mereka, menunggu sosok yang sudah lama mereka rindukan. Ni-ki berjalan dengan langkah lebih cepat, matanya melirik ke setiap gerbang kedatangan, mencari tanda-tanda kedatangan ibunya yang dari Jepang.



"Hyung, Bunda pasti sudah hampir sampai, kan?" tanya Ni-ki dengan suara penuh harap, meskipun sedikit ragu. Heeseung mengangguk sambil menatap layar informasi penerbangan yang tertera di dekat mereka. "Iya, sebentar lagi. Dia pasti keluar dari pintu ini."

Tak lama kemudian, suara pengeras suara mengumumkan kedatangan penerbangan dari Jepang. Ni-ki merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia tahu, meskipun ibunya tidak bisa sepenuhnya mengubah keadaan di rumah, kedatangannya selalu bisa membuatnya merasa sedikit lebih baik, seolah ada yang bisa diajak berbicara dengan lebih bebas tanpa penilaian yang keras.



Akhirnya, dari balik pintu kedatangan, Ni-ki melihat sosok wanita yang telah lama ia rindukan. Bunda, dengan senyum hangat yang selalu membuatnya merasa tenang, berjalan mendekat. Tanpa ragu, Ni-ki langsung berlari ke arahnya dan memeluknya erat, seakan-akan ingin menghilangkan seluruh beban yang ada di pundaknya. “Bunda...” ucap Ni-ki dengan suara yang agak terputus, merasakan air mata yang ingin keluar meskipun ia berusaha menahannya.



Bunda membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang, mengelus kepala Ni-ki dengan lembut. "Bunda pulang, Nak. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir," kata Bunda dengan suara lembut, mencoba menenangkan perasaan anaknya. Heeseung, yang berdiri di samping mereka, juga tersenyum kecil, meskipun ia tahu beban mereka semua belum sepenuhnya hilang. Namun, saat itu, ia merasa sedikit lebih ringan, karena setidaknya, untuk sementara, mereka bisa merasa seperti keluarga yang utuh kembali.


Bunda melepaskan pelukan Ni-ki dan memandangnya dengan penuh perhatian, matanya dipenuhi keprihatinan. “Maafkan Bunda karena lama di Jepang, Nak. Kakek kalian baru saja membaik, jadi Bunda harus menemani dia sebentar,” kata Bunda dengan nada penuh penyesalan, meskipun Ni-ki tahu betapa pentingnya bagi ibunya untuk ada di sisi kakek mereka. Heeseung hanya mengangguk pelan, memahami alasan Bunda meskipun ia juga merasa sedikit kesepian tanpa kehadiran ibu mereka.



Namun, perhatian Bunda segera terfokus pada Ni-ki. “Ni-ki, Bunda dengar kamu tidak minum obatnya. Kenapa?” tanyanya dengan suara lembut namun mengandung kekhawatiran. Ni-ki terdiam sejenak, matanya menatap ke lantai, tidak tahu harus berkata apa. Setelah beberapa saat, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, tidak bisa langsung menjawab. "Hanya bosan, Bunda," ucap Ni-ki akhirnya, suara yang terdengar lemah. “Lagipula, Ni-ki sudah merasa sehat...”



Bunda menatapnya lebih intens, seakan ingin membaca setiap pikiran di dalam kepala Ni-ki. “Tapi, Nak, obat itu penting. Kesehatanmu—kamu tahu itu,” kata Bunda dengan penuh kekhawatiran. Ni-ki mengangkat wajahnya, mencoba tersenyum meskipun di dalamnya ada rasa yang tak terungkapkan. "Tapi Ni-ki sudah janji sama Ayah kalau akan minum obat lagi, kok," jawabnya pelan, berusaha meyakinkan ibunya meskipun hatinya sedikit terbebani.



Bunda menatapnya dengan lembut, lalu menghela napas panjang. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Nak. Bunda tahu semua ini tidak mudah, tapi jangan lupakan kesehatanmu. Ayah mungkin tidak selalu mengerti, tapi Bunda akan selalu di sini untukmu.” Kata-kata itu memberi sedikit kenyamanan bagi Ni-ki, meskipun ia tahu tak semua masalah bisa diselesaikan dengan mudah. Namun, setidaknya untuk saat ini, ia merasa sedikit lebih baik di hadapan ibunya yang penuh kasih sayang.


Bunda beralih menatap Heeseung setelah menenangkan Ni-ki, namun ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Kalau kamu bagaimana, Hee?" tanya Bunda pelan, matanya mencari kejujuran di balik wajah Heeseung yang terlihat sedikit lelah. Heeseung terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan senyum tipis yang tidak sepenuhnya mencapai matanya. "Baik saja, seperti biasa," jawabnya singkat, mencoba menutupi kelelahan yang sudah bertumpuk di dalam dirinya.



Bunda menatapnya dengan mata yang penuh rasa sayang namun juga penuh penyesalan. Ia tahu bahwa Heeseung, sebagai anak tertua, harus menanggung banyak beban yang seharusnya tidak perlu ia pikul sendirian. Ia merasakan ada kekosongan yang sangat dalam di mata Heeseung, sebuah rasa lelah yang begitu terlihat meskipun ia berusaha menahannya. “Maafkan Ayah kalian…” kata Bunda dengan suara yang nyaris pecah, seolah-olah beban itu juga ada di pundaknya.



Heeseung hanya diam, tak tahu bagaimana harus merespon kata-kata itu. Ia sudah terlalu sering mendengar permintaan maaf dari Bunda dan ayahnya, tetapi tidak pernah ada perubahan nyata. Meskipun hatinya merasa sedih, ia juga tahu bahwa kata-kata maaf dari orangtuanya tidak akan bisa menghapus semua luka yang telah terjadi. "Sudah, Bunda. Jangan khawatirkan kami lagi. Kami baik-baik saja," jawabnya, meskipun dalam hatinya ada rasa hampa yang sulit diungkapkan.



Bunda menghela napas panjang, lalu menarik Heeseung dan Ni-ki ke dalam pelukannya. "Aku akan selalu ada untuk kalian. Jangan biarkan apapun menghalangi kebahagiaan kalian," katanya dengan penuh kasih, mencoba meyakinkan keduanya bahwa apapun yang terjadi, ia akan selalu ada di samping mereka. Namun, meskipun kata-kata itu terdengar manis, Heeseung dan Ni-ki tahu bahwa tidak ada jaminan apapun dalam keluarga ini. Mereka hanya bisa berharap, semoga suatu hari, segala tekanan dan beban ini bisa berakhir.


Setelah beberapa detik dalam pelukan Bunda, suasana menjadi sedikit lebih tenang. Namun, meskipun kehangatan itu hadir, rasa cemas dan kekhawatiran tetap melingkupi mereka bertiga. Heeseung dan Ni-ki merasakan kenyamanan dalam pelukan Bunda, tetapi juga ada perasaan yang berat—perasaan bahwa meskipun mereka saling mencintai, masalah yang mereka hadapi tidak akan mudah hilang hanya dengan kehadiran orang yang mereka cintai.



Bunda akhirnya melepaskan pelukan itu, mengusap kepala Ni-ki dengan lembut. "Jangan terlalu banyak memikirkan ayah kalian, Nak. Bunda tahu, dia terkadang keras. Tapi Bunda percaya, di balik itu semua, dia hanya ingin kalian kuat." Suara Bunda mencoba menenangkan, meskipun ia sendiri merasa tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapinya.



Ni-ki menatap Bunda dengan mata yang masih penuh kebingungan. "Tapi, Bunda... kenapa ayah selalu begitu? Kenapa kami harus selalu sempurna? Aku hanya ingin hidup seperti anak-anak lain," kata Ni-ki, suaranya sedikit pecah. Heeseung menatap adiknya dengan tatapan prihatin, namun ia tidak tahu harus berkata apa. Mereka sudah terlalu lama terbiasa dengan tekanan ayah mereka, dan kadang-kadang, pertanyaan seperti itu muncul begitu saja, memicu rasa frustasi yang dalam.



Bunda menarik napas dalam-dalam, lalu memandang kedua anaknya dengan penuh kasih. "Aku tahu, Nak. Aku tahu. Tapi apapun yang terjadi, kalian harus ingat satu hal... kalian bukanlah alat untuk memenuhi harapan orang lain. Kalian berhak menentukan jalan hidup kalian sendiri. Bunda mungkin tidak bisa mengubah banyak hal, tapi Bunda akan selalu ada untuk kalian, untuk mendukung apapun pilihan kalian."



Mendengar kata-kata itu, ada rasa lega yang sedikit mengalir dalam hati Ni-ki, meskipun ia tahu bahwa kenyataan tetap takkan mudah berubah. Namun, setidaknya, ia merasa sedikit lebih kuat, tahu bahwa Bunda akan selalu menjadi sandaran baginya. Heeseung juga merasa sedikit lebih ringan, meskipun ia tahu perjalanan mereka masih panjang. Tapi dengan Bunda di sisi mereka, mereka bisa sedikit lebih berharap—bahwa suatu hari, semua tekanan ini akan menghilang, dan mereka bisa hidup dengan cara mereka sendiri.







to be continue
5 Januari 2025







Thank you for your vote 🫶

PULANG | END ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang