Heeseung terkejut saat merasakan ponselnya bergetar di saku celananya. Dengan perlahan, ia mengeluarkannya dan melihat layar. Sebuah pesan singkat dari ayahnya muncul, membuat dadanya semakin berat. Pesan itu berbunyi: "Jangan lupa besok ada rapat penting." Heeseung menatap pesan itu dalam diam, merasakan beban yang semakin menambah di pundaknya. Rapat itu pasti akan menuntut perhatian penuh, dan ia tahu betul bahwa tidak ada ruang untuk kelalaian, apalagi setelah percakapan tadi. Tanpa ada pilihan lain, Heeseung menghapus pesan itu dan meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan pikirannya, namun semakin ia berusaha untuk meredakan stres, semakin jelas terasa betapa tekanan itu menguasai hidupnya. Besok adalah hari yang penuh dengan tantangan baru, dan ia harus siap untuk menghadapinya, tak peduli betapa lelahnya ia merasa.
Namun, Heeseung tahu bahwa ia tak bisa begitu saja mengabaikan tanggung jawabnya. Meski tubuhnya terasa lelah dan pikirannya kosong, ia harus mempersiapkan diri untuk rapat besok. Dengan malas, ia bangkit dari tempat tidur dan membuka laci meja kerjanya. Di dalamnya, beberapa dokumen penting tersusun rapi, menunggu untuk dipelajari. Dengan desahan panjang, Heeseung mengambil tumpukan dokumen itu dan meletakkannya di meja. Ia membuka lembar pertama, memaksakan diri untuk fokus meskipun mata terasa berat. Setiap kalimat yang dibacanya seperti melayang tanpa memberikan pemahaman yang jelas, namun ia terus memaksakan diri untuk menyerap informasi tersebut. Ia tahu betul, jika ia tidak mempersiapkan diri dengan baik, rapat besok bisa berujung buruk, dan itu berarti semakin banyak tekanan yang akan ia terima. Dengan perasaan yang bercampur aduk, ia terus membaca, berharap bisa menemukan sedikit kekuatan untuk menyelesaikan semuanya.
Namun, semakin lama Heeseung membaca, semakin sulit untuk mempertahankan fokus. Kata-kata dalam dokumen itu mulai tampak kabur di matanya, seolah pikiran dan tubuhnya saling menuntut untuk berhenti. Ia meremas pelipisnya, mencoba mengusir rasa kantuk yang menyerang, namun seakan tak ada cara untuk menghindarinya. Dalam keheningan malam itu, hanya suara detakan jam dinding yang terdengar jelas, menambah berat rasa di dadanya. Dengan malas, ia meletakkan dokumen itu kembali ke meja dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Heeseung tahu, meski ia merasa kelelahan yang luar biasa, ia tidak bisa mengabaikan rapat besok. Setiap keputusan yang diambilnya besok akan berpengaruh besar pada masa depan perusahaan, dan sebagai anak pertama, ia tak bisa mengecewakan ayahnya. Akhirnya, dengan susah payah, ia membuka dokumen lagi, mencoba untuk menyerap informasi secepat mungkin meskipun pikirannya berlarian ke tempat lain. Ia hanya berharap bisa menyelesaikan semuanya dengan baik, meski dalam hati, rasa lelah dan tekanan itu semakin menumpuk.
Setelah beberapa saat berjuang untuk tetap terjaga, mata Heeseung semakin berat. Pikirannya mulai melayang, dan meskipun ia berusaha keras untuk tetap fokus pada dokumen-dokumen di depannya, tubuhnya tidak bisa lagi menahan rasa lelah yang menguasai dirinya. Perlahan, ia tertidur di atas meja kerjanya, dengan kepala tertunduk dan dokumen yang belum selesai dibaca tergeletak di sekitarannya. Suasana di kamar itu seolah terhenti sejenak, hanya suara napasnya yang terdengar, mengisyaratkan kelelahan yang tak terbendung lagi. Heeseung, yang selalu merasa tertekan oleh tanggung jawab, akhirnya membiarkan dirinya jatuh dalam kelelahan itu, meskipun ia tahu ada banyak hal yang menantinya besok. Tidur itu seolah menjadi pelarian terakhir bagi tubuh dan pikirannya yang sudah terlalu lelah untuk terus bertahan.
Pagi berikutnya, Heeseung terbangun dengan perasaan pusing dan tubuh yang kaku. Ia terkejut mendapati dirinya tertidur di meja, dengan dokumen yang berserakan di sekitarnya. Jam menunjukkan waktu yang sudah hampir siang, dan rasa panik mulai merayap di benaknya. Ia segera bangkit, merapikan dokumen-dokumen yang hampir terlupakan semalam, dan bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Setiap gerakan terasa berat, namun ia tahu, rapat penting yang sudah ditunggu itu tidak bisa ditunda. Setelah mandi dan berpakaian dengan cepat, Heeseung menatap dirinya di cermin, mencoba mengumpulkan kekuatan dari dalam dirinya. Dia tahu, meskipun kelelahan dan stres menguasai dirinya, ia tidak bisa membiarkan apapun menghalangi tanggung jawab yang sudah diembannya. Dengan satu tarikan napas dalam, Heeseung keluar dari kamarnya, siap untuk menghadapi tantangan baru yang menunggunya.
Heeseung melangkah keluar dari kamar dengan perasaan cemas yang semakin menggerogoti. Meskipun ia berusaha untuk terlihat tenang, pikirannya terus berputar tentang rapat yang akan segera dimulai. Ia tahu bahwa ayahnya tidak akan mentolerir ketidaksiapan, dan setiap kesalahan bisa berakibat fatal. Di ruang makan, ia melihat adik-adiknya yang sudah selesai sarapan, namun mereka semua tampak sibuk dengan urusan masing-masing, seolah tidak menyadari betapa beratnya yang sedang ia rasakan.
Heeseung mengambil sepiring sarapan ringan, namun bahkan makanan itu terasa hambar di lidahnya. Setiap suapan seolah hanya menambah rasa berat di dadanya. Setelah beberapa saat, ia menghabiskan sarapannya dan berdiri untuk bersiap menuju kantor ayahnya. Sebelum pergi, matanya sempat bertemu dengan mata Ni-ki yang sedang duduk di meja, wajahnya terlihat lebih segar setelah tidur yang cukup. Namun, Ni-ki hanya tersenyum ringan, seakan tidak mengetahui beban yang sedang dipikul Heeseung.
Dengan langkah mantap, meski dalam hati masih ada kegelisahan, Heeseung menuju mobil, meninggalkan rumah dengan tekad untuk menghadapi rapat itu. Ia tahu, apapun yang terjadi, ia harus tetap berdiri tegak dan menunjukkan bahwa ia bisa mengemban tanggung jawab yang besar ini.
Sesampainya di kantor ayahnya, Heeseung merasakan atmosfer yang berbeda. Di dalam ruang rapat yang sudah dipenuhi oleh orang-orang penting, semua tampak serius dan siap untuk memulai. Heeseung masuk dengan langkah cepat, namun tetap berusaha untuk tidak menunjukkan betapa cemasnya ia. Semua mata sejenak tertuju padanya saat ia memasuki ruangan, dan ia bisa merasakan tekanan yang datang dari semua arah.
Ayahnya duduk di ujung meja, wajahnya datar dan penuh kewibawaan, seolah menunggu Heeseung untuk mengambil peran sebagai pemimpin dalam rapat ini. Heeseung menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum akhirnya duduk di tempat yang telah disediakan. Begitu rapat dimulai, ia langsung terjun ke dalam pembicaraan, mengikuti setiap detail yang dibahas meski pikirannya masih teralihkan oleh perasaan lelah dan kekhawatiran.
Namun, seiring rapat berlangsung, Heeseung mulai merasa sedikit lebih tenang. Tugas dan peran yang dihadapinya, meskipun berat, membuatnya kembali fokus dan melupakan sementara tekanan yang mengikutinya. Setiap kali ia memberikan pendapat atau menjawab pertanyaan, ia bisa merasakan bahwa ayahnya mengamati setiap gerak-geriknya. Heeseung tahu, ini adalah ujian untuknya—ujian untuk membuktikan bahwa dia bisa memimpin, meskipun di dalam hatinya, ia merasa tidak cukup kuat.
Rapat berlangsung panjang, dengan setiap pembahasan semakin memadat dan menuntut ketelitian. Heeseung, meskipun lelah dan tertekan, tetap berusaha memberikan kontribusi terbaiknya. Ia mencatat poin-poin penting, memberikan ide-ide yang dianggap berguna, dan menjawab setiap pertanyaan dengan percaya diri meskipun di dalam dirinya ada rasa cemas yang terus membebani. Setiap kali ia selesai berbicara, matanya mencari pandangan ayahnya, menunggu respons yang akan memberi tahu apakah ia telah memenuhi harapan atau justru mengecewakan.
Saat rapat mulai mereda, sang ayah akhirnya membuka mulut. "Heeseung, kamu melakukannya dengan baik hari ini," ujarnya, suara tegas namun tidak terlalu keras. Heeseung merasa sedikit lega mendengar pujian itu, meski ia tahu itu bukan berarti ia bisa beristirahat. Ayahnya masih menuntut lebih banyak, dan itu adalah beban yang tak akan pernah hilang.
Setelah rapat selesai, Heeseung kembali ke ruang kerjanya dengan langkah yang terasa lebih ringan. Ia duduk di kursinya dan menatap layar komputernya, merasakan segala kelelahan yang akhirnya menguasai tubuhnya. Namun, meskipun fisiknya terasa kosong, ada sedikit kepuasan yang muncul—dia berhasil melewati satu lagi ujian yang diberikan oleh ayahnya. Tetapi di balik itu semua, perasaan bahwa ia belum sepenuhnya memenuhi harapan ayahnya tetap menghantuinya, seolah ia harus selalu lebih dari apa yang ia capai sekarang.
to be continue
3 Januari 2025
Thank you for your vote 🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
Fiksi PenggemarTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
