28

440 38 0
                                        

Hari itu, waktu terasa berjalan begitu lambat bagi Jay. Dokumen-dokumen yang menumpuk di mejanya seperti tembok tinggi yang sulit ia daki. Setiap kali ia mencoba membaca atau mencatat, pikirannya selalu kembali ke satu pertanyaan: sampai kapan ia harus menjalani semua ini? Ketika akhirnya waktu rapat tiba, Jay berjalan ke ruang rapat dengan langkah berat. Di sana, ayahnya sudah duduk di kursi utama, dikelilingi oleh beberapa eksekutif perusahaan. Heeseung juga ada di sana, duduk dengan tenang, memeriksa dokumen di tangannya. Begitu Jay masuk, semua mata tertuju padanya, dan ia bisa merasakan beban ekspektasi semakin menekan. 



"Jay, kau sudah siap?" tanya ayahnya tanpa basa-basi. Jay mengangguk, meski hatinya berdebar kencang. "Ya, Ayah," jawabnya, mencoba terdengar percaya diri. 



Rapat pun dimulai. Heeseung memimpin presentasi pertama, dengan lancar menjelaskan rencana perusahaan ke depan. Semua orang tampak terkesan, termasuk ayah mereka. Namun, saat giliran Jay tiba, suasana ruangan berubah tegang. Jay berusaha sebaik mungkin untuk menyampaikan ide-idenya, tetapi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa goyah dan tidak meyakinkan. Ayahnya menghela napas panjang di tengah-tengah presentasi Jay, lalu menyela dengan nada dingin. "Jay, ini bukan level yang kuharapkan darimu. Jika kau ingin berada di sini, kau harus bisa lebih dari ini. Mengerti?" Jay menundukkan kepala, merasa malu dan marah pada dirinya sendiri. "Maaf, Ayah. Jay akan berusaha lebih baik," katanya pelan. 



Setelah rapat selesai, Jay langsung keluar dari ruangan, mencoba menghindari tatapan orang-orang. Heeseung menyusulnya beberapa saat kemudian, langkahnya cepat. "Jay, tunggu," panggil Heeseung. Jay berhenti di lorong, tapi tidak berbalik. "Apa lagi, Hyung?" tanyanya lelah. "Jangan terlalu memikirkan apa yang Ayah katakan tadi," kata Heeseung, berdiri di sampingnya. "Kau melakukan yang terbaik, dan itu sudah cukup." Jay menggeleng pelan. "Tidak, Hyung. Tidak ada yang cukup untuk Ayah. Aku selalu gagal. Aku selalu jadi beban."



Heeseung menatap adiknya dengan sedih. Ia ingin mengatakan bahwa semua ini bukan salah Jay, tapi ia tahu kata-kata itu tidak akan cukup untuk menghapus rasa sakit yang Jay rasakan. "Jay, kau tidak sendiri. Kalau kau butuh bantuan, aku selalu di sini," ujar Heeseung akhirnya. Namun, Jay hanya tersenyum tipis, lalu berjalan pergi. Di dalam hatinya, ia tahu Heeseung tulus ingin membantu, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa ia masih terjebak dalam lingkaran yang sama—lingkaran ekspektasi yang terus menghancurkannya sedikit demi sedikit.


Malam itu, Jay kembali ke kamarnya dengan kepala yang terasa seperti ingin pecah. Semua ucapan ayahnya di ruang rapat terus terulang di pikirannya, seperti rekaman rusak yang tidak bisa dimatikan. Ia menutup pintu, mengunci diri dari dunia luar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya kosong, menatap langit-langit yang gelap. Di atas meja kecil di depannya, ponselnya bergetar, tetapi Jay tidak mengangkatnya. Ia tahu itu mungkin Heeseung, mencoba memastikan dirinya baik-baik saja, tetapi untuk saat ini, ia tidak ingin berbicara dengan siapa pun. 



"Apa aku benar-benar tidak berguna?" gumamnya pelan, suara itu hampir seperti bisikan yang hilang di udara. Jay merasa dirinya berada di titik terendah. Rasa kecewa pada dirinya sendiri bercampur dengan keputusasaan yang perlahan menggerogoti mentalnya.  Ia melirik dokumen-dokumen yang masih tertumpuk di mejanya, bukti nyata dari tuntutan yang tidak pernah selesai. Tangannya bergerak meraih salah satu dokumen, tetapi sebelum membukanya, ia melemparnya kembali ke meja dengan frustrasi. "Aku tidak bisa melanjutkan ini..."



Jay memutuskan untuk keluar ke balkon kamarnya, berharap udara malam bisa sedikit menenangkan pikirannya. Ia menatap langit, mencoba mencari kedamaian di antara bintang-bintang yang berkelap-kelip. Namun, pikirannya tetap penuh dengan suara-suara—suara ayahnya, suara dirinya sendiri yang penuh kritik, suara keraguan yang tidak pernah hilang. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, dan untuk pertama kalinya, Jay merasa bahwa ia berada di ambang kehancuran. Ia meremas pagar balkon dengan kuat, mencoba mengendalikan emosi yang membanjiri dirinya. Ia tidak ingin menangis, tetapi air mata itu tetap mengalir, seolah menjadi satu-satunya cara tubuhnya untuk meluapkan semua yang ia rasakan. 



Sementara itu, di kamar sebelah, Heeseung yang mendengar suara samar-samar dari balkon Jay merasa semakin khawatir. Ia tahu bahwa adiknya sedang berjuang dengan sesuatu yang lebih besar dari apa yang terlihat di luar. Dengan hati-hati, Heeseung mengetuk pintu kamar Jay. "Jay, kau di dalam?" tanyanya dengan suara lembut. Jay tidak menjawab. Ia hanya berdiri di balkon, membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang basah oleh air mata. Heeseung mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras. "Jay, buka pintunya. Hyung hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."



Akhirnya, Jay menghapus air matanya dan berjalan ke pintu. Ia membuka kunci, membiarkan Heeseung masuk. "Aku baik-baik saja," katanya singkat, meskipun jelas dari wajahnya bahwa ia baru saja menangis. Heeseung tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menepuk bahu adiknya dengan lembut, lalu duduk di sofa. "Kau tidak perlu berpura-pura di depanku, Jay. Aku tahu kau tidak baik-baik saja." Jay terdiam, menundukkan kepala. Ia ingin menyangkal, tetapi tidak ada gunanya. "Aku lelah, Hyung," akhirnya ia mengaku dengan suara bergetar. "Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa seperti ini." Heeseung menarik napas panjang, menahan emosinya sendiri. "Kau tidak sendiri, Jay. Aku akan membantumu sebisaku. Apa pun yang terjadi, kau punya aku." Kata-kata itu, meskipun sederhana, terasa seperti selimut hangat di malam yang dingin. Untuk pertama kalinya, Jay merasa sedikit lebih ringan.


Setelah mendengar kata-kata Heeseung, Jay perlahan duduk di sampingnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada ruang kecil dalam beban berat di dadanya. "Hyung, kenapa semua ini terasa begitu sulit?" tanyanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.  Heeseung menatap adiknya, mencoba mencari jawaban. "Karena kita dibesarkan dengan cara seperti ini," jawabnya jujur. "Ayah selalu menuntut kesempurnaan, dan itu membuatnya kita lupa bahwa kita juga manusia biasa. Tapi kau harus tahu, Jay, tidak apa-apa merasa lelah. Tidak apa-apa tidak sempurna."
Jay menggeleng, air mata kembali menggenang di matanya. "Tapi Ayah tidak akan pernah menerima itu. Aku selalu merasa gagal.  Apa pun yang aku lakukan, tidak pernah cukup."



Heeseung menghela napas panjang, lalu menatap Jay dengan serius. "Jay, dengar. Aku tahu Ayah tidak akan pernah berubah, tapi kita harus menemukan cara untuk melindungi diri kita sendiri. Kita tidak bisa terus hidup hanya untuk memenuhi ekspektasinya. Aku tidak ingin kehilanganmu karena ini." Jay terdiam. Kata-kata Heeseung menyentuh hatinya, tetapi ia masih merasa sulit untuk melepaskan diri dari rasa takut dan beban yang selama ini ia pikul. Namun, ada sesuatu dalam nada suara Heeseung yang membuatnya merasa sedikit lebih kuat, meskipun hanya untuk saat ini. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya dengan suara kecil. 



"Langkah pertama adalah menerima bahwa kau tidak perlu sempurna," jawab Heeseung. "Dan kau harus belajar untuk jujur pada dirimu sendiri. Kalau kau merasa tidak bisa, katakan. Jangan memaksakan diri sampai kau hancur, Jay. Aku di sini untuk membantu." Jay hanya mengangguk pelan, meskipun ia tahu bahwa perjalanan menuju perubahan itu tidak akan mudah. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ada sedikit harapan. Mungkin, hanya mungkin, ia bisa belajar untuk menjalani hidup dengan caranya sendiri—perlahan, satu langkah pada satu waktu. Heeseung menepuk punggung Jay sebelum berdiri. "Istirahatlah, Jay. Besok kita hadapi lagi bersama."



Setelah Heeseung meninggalkan kamar, Jay kembali duduk di balkon, tetapi kali ini, pandangannya sedikit lebih jernih. Ia menatap bintang-bintang di langit, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi hari-hari berikutnya. Dalam hati, ia berbisik kepada dirinya sendiri: "Aku akan mencoba. Untuk diriku sendiri."







to be continue
4 Januari 2025







Thank you for your vote 🫶

PULANG | END ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang