Malam itu, saat mereka semua duduk bersama di meja makan, suasana terasa berbeda. Biasanya, ayah akan duduk di ujung meja dengan ekspresi serius, matanya tajam menilai setiap kata yang keluar dari mulut anak-anaknya, terutama saat membicarakan pekerjaan dan masa depan mereka. Namun, malam ini, ia duduk dengan santai, tersenyum kecil sesekali, dan lebih sering berbicara dengan nada yang jauh lebih lembut daripada yang biasa mereka dengar.
Heeseung yang duduk di sampingnya, merasa ada yang aneh, tetapi tidak ingin langsung menanyakan. Ia melirik adik-adiknya yang juga merasakan perubahan itu, bahkan Ni-ki yang biasanya selalu khawatir saat Ayahnya berbicara, terlihat sedikit lebih tenang. Mereka semua saling berpandangan, mencoba mencari tahu apa yang telah terjadi pada Ayah mereka, yang biasanya penuh tekanan.
"Bagaimana harimu, Heeseung?" tanya ayah dengan suara yang jauh lebih ringan, hampir seperti sebuah pertanyaan biasa yang tidak mengandung beban. "Apakah ada yang menarik di kantor?"
Heeseung, yang terbiasa dengan pertanyaan tentang hasil kerja atau laporan ketat dari Ayahnya, merasa terkejut mendengarnya. "Tidak ada yang spesial, Ayah. Hanya pekerjaan biasa," jawabnya dengan sedikit kebingungan, namun mencoba menyesuaikan diri dengan suasana yang baru ini.
"Bagus, jangan terlalu stres," jawab ayah dengan senyum tipis, mengangguk pelan. "Kalian semua bekerja terlalu keras. Jangan lupa untuk menikmati hidup juga."
Jungwon, yang merasa semakin bingung, memutuskan untuk bertanya dengan hati-hati. "Ayah, ada apa denganmu? Kenapa terlihat lebih santai malam ini?"
Ayah terdiam sejenak, seolah mencari jawaban yang tepat. Kemudian ia tersenyum dengan lembut. "Mungkin ayah hanya sadar, ada hal-hal yang lebih penting daripada kerja keras tanpa henti. Aku ingin kalian tumbuh menjadi orang yang bahagia, bukan hanya orang yang sukses."
Mendengar itu, anak-anaknya saling pandang dengan terkejut, merasakan ada pergeseran besar dalam sikap Ayah mereka. Heeseung merasa beban yang biasa ada di udara sekarang sedikit menghilang. Meskipun ia tahu perubahan ini baru saja dimulai, ada harapan bahwa mereka bisa mulai menjalani hidup dengan cara yang berbeda—cara yang lebih penuh dengan kasih sayang daripada tekanan.
Malam itu, mereka makan bersama dengan lebih banyak tawa dan obrolan ringan untuk pertama kalinya. Meski perasaan canggung masih ada, ada sesuatu yang baru—sesuatu yang memberi mereka harapan bahwa perubahan yang mereka harapkan mungkin akan datang, perlahan.
END 🫶
Akhirnya selesai juga 💪
semoga kalian suka, kalau ada kritik dll bisa komen atau DM aja yaa ✨
maafkan aku yang sempat menghilang lama, sebab aku selingkuh dengan book yang lain 🤣
book selanjutnya yang akan aku publish genrenya misteri/thriller yaa, jangan lupa cek profil aku 🫶🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
