Malam itu, suasana makan malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ni-ki yang duduk di meja makan, menyadari betapa diamnya semua orang. Ayah mereka tampak sibuk dengan ponselnya, Heeseung hanya memandang makanannya dengan ekspresi datar, dan Sunoo lebih memilih memandang kosong ke luar jendela. Ni-ki yang tidak terbiasa dengan keheningan seperti itu merasa sedikit canggung dan berusaha mencari perhatian. Dengan senyum ceria, ia mencoba memecah kebekuan dengan mengalihkan perhatian ke sesuatu yang lebih ringan. "Heeseung Hyung, tadi Ni-ki dipuji loh karena bisa ngerjain matematika dengan benar," katanya dengan penuh semangat, berharap bisa membawa suasana menjadi lebih hidup.
Namun, meskipun Ni-ki berharap reaksinya bisa lebih positif, suasana tetap terasa datar. Heeseung hanya mengangguk tanpa ekspresi, dan ayah mereka hanya melirik sebentar sebelum kembali fokus pada ponselnya. Sunoo yang duduk di sebelah Ni-ki, meskipun tidak mengatakan apa-apa, dapat merasakan betapa terasa canggungnya situasi ini. Ni-ki yang terbiasa mendapat perhatian langsung dari orang-orang di sekitarnya, kini merasa seperti usahanya hanya membentur tembok. Ia tahu, meskipun ia ingin menjadi pusat perhatian, ada ketegangan yang tak bisa diabaikan di meja makan itu—ketegangan yang membuat suasana terasa kaku dan jauh dari kehangatan yang biasa mereka rasakan.
"Jangan lupa minum obatnya, Ki," kata sang ayah sambil menatap sekilas ke arah Ni-ki, lalu melanjutkan makannya dengan cepat. Tanpa menunggu respons lebih jauh, ayah mereka berdiri dan meninggalkan meja makan, menuju ke ruang kerja tanpa memberi kesempatan untuk melanjutkan percakapan. Ni-ki terdiam sejenak, bingung dan kecewa. Sebelumnya, ia berharap bisa mendapatkan lebih banyak perhatian, mungkin sedikit pujian atau bahkan sekadar percakapan ringan yang membuat suasana lebih hangat. Namun, tanggapan ayahnya yang datar dan terburu-buru justru meninggalkan rasa kosong dalam dirinya. Ia merasa seperti usahanya untuk menarik perhatian malah dianggap sepele, seperti sesuatu yang tak penting.
Heeseung, yang melihat adiknya tampak kehilangan semangat, dengan lembut mengelus kepala Ni-ki. "Mungkin ayah sedang lelah saja, Ki," katanya dengan suara yang tenang, berusaha memberi pengertian. Heeseung tahu betul bahwa ayah mereka bukanlah orang yang mudah menunjukkan emosi atau perhatian secara terbuka, terutama setelah seharian bekerja keras. Ia berusaha menenangkan Ni-ki yang mulai terlihat kecewa, menyadari bahwa meskipun ayah mereka tidak selalu menunjukkan kasih sayang dengan cara yang diinginkan, itu bukan berarti ia tidak peduli. "Ayah pasti punya banyak hal yang ada di pikirannya," lanjut Heeseung, berusaha memberi pengertian agar Ni-ki tidak terlalu merasa terabaikan. Meskipun niat baik Heeseung jelas, Ni-ki tetap merasa ada jarak yang sulit untuk dijembatani, dan perasaan kecewanya tak bisa begitu saja hilang.
Jay, yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan situasi, akhirnya memutuskan untuk mencoba menghibur adik bungsunya. Dengan nada santai dan penuh kehangatan, ia berkata, "Besok kan hari libur, gimana kalau kita jalan-jalan ke mall? Pasti seru, kan?" Ni-ki yang mendengar ajakan itu langsung tersenyum lebar, senang sekali mendengar tawaran itu. "Oke! Sunghoon Hyung yang traktir!" kata Ni-ki dengan penuh semangat, matanya berbinar-binar seakan sudah membayangkan keseruan jalan-jalan besok.
Namun, Sunghoon yang masih sibuk makan langsung tersedak mendengar permintaan Ni-ki. Ia terbatuk seketika, hampir membuatnya terjatuh dari kursinya. Ni-ki yang tampaknya tidak sadar akan reaksi Sunghoon malah tertawa geli, sementara Sunghoon hanya bisa mengusap dadanya dengan ekspresi kebingungan. Heeseung yang menyaksikan kejadian itu merasa lega, setidaknya Ni-ki masih bisa tersenyum ceria meskipun suasana di rumah terasa agak tegang. Ia juga merasa sedikit lebih ringan, mengetahui bahwa Ni-ki masih terlalu kecil untuk mengerti betapa rumitnya permasalahan yang ada di antara mereka. Dalam pikiran Heeseung, kehadiran Ni-ki yang penuh keceriaan seperti ini adalah penyegar, memberikan sedikit kehangatan di tengah ketegangan yang terus membayangi keluarga mereka.
Heeseung menatap Ni-ki dengan senyuman lembut, merasa sedikit lebih tenang melihat keceriaan adiknya. Ni-ki memang masih terlalu muda untuk memahami banyak hal, terutama konflik dan tekanan yang terjadi di antara keluarga mereka. Namun, Heeseung tahu bahwa masa kanak-kanak Ni-ki ini adalah hal yang berharga, dan ia ingin agar adiknya bisa menikmati kebahagiaan sederhana sejenak tanpa terbebani oleh permasalahan yang lebih besar. Ni-ki memang tidak tahu, tetapi senyum tulusnya bisa memberikan sedikit cahaya di tengah kegelapan yang menyelimuti mereka.
Jay yang duduk di sebelah Heeseung, melihat interaksi tersebut dengan senyum kecil. Ia tahu betul bagaimana cara untuk menghibur Ni-ki, bahkan dalam kondisi keluarga yang serba rumit seperti sekarang. "Jadi, Sunghoon Hyung, siap traktir besok?" Jay menggoda dengan nada santai, membuat suasana di meja makan sedikit lebih cair. Sunghoon yang masih terbatuk sedikit, akhirnya mengangguk dengan enggan, "Ya, ya... besok aku traktir," jawabnya, meskipun wajahnya masih terlihat agak canggung. Ni-ki kembali tertawa girang, dan Heeseung bisa merasakan kehangatan yang semakin mengalir di ruangan itu. Meskipun masalah keluarga mereka tidak bisa diselesaikan begitu saja, untuk saat ini, melihat Ni-ki bahagia adalah sesuatu yang membuat semuanya terasa sedikit lebih ringan.
Jake, yang sejak tadi hanya menyaksikan keramaian dengan senyum tipis, akhirnya menyentuh bahu Ni-ki dengan lembut, menarik perhatian adiknya yang tampaknya sedang sibuk dengan percakapan. "Minum dulu obatnya, jangan coba-coba menghindar," katanya sambil tersenyum meledek, tahu betul tabiat Ni-ki yang kadang suka menunda-nunda atau bahkan mencari alasan untuk tidak mengonsumsi obat. Ni-ki yang mendengar itu langsung mendengus, sedikit cemberut. "Aish, aku tahu, Jake Hyung," jawabnya kesal, tetapi dengan rasa enggan, ia akhirnya mengambil pil obat yang sudah disiapkan Jake dan menelannya dengan cepat, seolah ingin segera menuntaskan kewajiban tersebut.
Jake hanya tertawa ringan melihat ekspresi Ni-ki, tahu betul bahwa adiknya itu sering kali membuat wajah masam saat disuruh minum obat. "Kamu tahu, ini demi kesehatanmu," tambah Jake sambil mengelus rambut Ni-ki. Meskipun Ni-ki tidak terlalu menyukai obat, Jake tahu betul betapa pentingnya untuk menjaga kesehatan adiknya, apalagi dengan semua tekanan yang Ni-ki hadapi tanpa ia sadari. Sementara itu, Ni-ki hanya melirik ke Jake dengan tatapan malas, tapi sedikit tersenyum dalam hati, merasa sedikit lebih baik karena ada perhatian yang diberikan kepadanya. Sejenak, suasana di meja makan kembali menjadi lebih ringan, meskipun ketegangan dalam keluarga mereka masih menyelimuti, tetapi momen kecil seperti ini memberikan sedikit kelegaan.
to be continue
22 Desember 2024
Thank you for your vote 🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
