14

530 44 0
                                        

Jake akhirnya mulai serius lagi dengan kuliahnya, bertekad untuk memperbaiki nilai-nilainya yang sempat menurun. Setiap hari, ia menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan dan mengikuti kelas dengan lebih fokus. Perubahan ini tidak datang dengan mudah, namun dengan usaha dan komitmennya, nilainya perlahan mulai berangsur membaik. Meski ayahnya masih terlihat marah dan kecewa, Jake merasa ada sedikit harapan baru dalam perjalanan akademisnya.



Di sisi lain, ia tidak sendirian dalam menghadapi semua kesulitan yang ia hadapi. Saudara-saudaranya dan Bunda selalu ada untuk memberi dukungan tanpa henti. Meskipun tidak selalu mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata, kehadiran mereka memberi Jake kekuatan untuk terus maju. Dukungan mereka memberikan rasa aman dan kepercayaan diri, meyakinkannya bahwa ia tidak perlu menghadapi semua ini seorang diri, bahkan ketika hubungan dengan ayahnya semakin rumit.


Akhirnya, setelah berbulan-bulan berjuang, Jake merasakan kepuasan yang luar biasa. Usahanya untuk membuktikan dirinya kepada ayahnya mulai membuahkan hasil. Nilai-nilai yang dulu buruk kini hampir sempurna, dan Jake merasa bangga dengan pencapaiannya. Ia tidak hanya membuktikan kemampuannya kepada diri sendiri, tetapi juga kepada ayah yang selama ini meragukannya.


Pada suatu hari, saat Jake menerima penghargaan atas prestasinya di kampus, ia melihat ayahnya duduk di kursi penonton. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya—senyuman tulus ayahnya. Ketika Jake kembali ke rumah, ayah menepuk bahunya dan berkata dengan lembut, “Kerja bagus, nak. Ayah bangga. Terus seperti ini, kalau bisa lebih baik lagi.” Mendengar kata-kata itu, Jake tak dapat menahan senyum bahagia. Rasa bangga yang ia rasakan semakin mendalam, bukan hanya karena ia berhasil mencapai tujuannya, tetapi juga karena ia akhirnya bisa membuat ayahnya bangga.


Namun, meskipun semua euforia keberhasilan Jake terasa manis, dampaknya tidak sepenuhnya positif. Semakin banyak pujian yang diterimanya, semakin besar tekanan yang ia rasakan untuk terus mempertahankan prestasinya. Jake semakin giat belajar, menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk kuliah dan mengerjakan tugas. Bahkan, ia mulai melewatkan makan malam dan hanya tidur tiga jam sehari, merasa bahwa waktu untuk beristirahat adalah waktu yang terbuang. Meskipun nilainya semakin membaik, tubuh dan pikirannya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.



Heeseung, sebagai kakak tertua yang selalu menjaga adik-adiknya, mulai khawatir dengan kondisi Jake. Ia melihat perubahan drastis dalam diri Jake—dari yang dulu santai dan ceria, kini menjadi lebih pendiam dan mudah tersinggung. Heeseung tahu bahwa Jake sedang berjuang dengan tekanan yang tak terlihat oleh orang lain, dan ia merasa perlu untuk berbicara dengan adiknya. Dengan hati-hati, Heeseung mencoba mendekati Jake dan berbicara tentang agar ia tak berlebihan "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Jake. Prestasi itu penting, tapi kesehatanmu lebih penting," kata Heeseung dengan nada khawatir, berharap Jake bisa mendengar dan memperhatikan dirinya sendiri sebelum semuanya terlambat.


Suatu malam, ketika mereka berdua berada di rumah dan Jake kembali melewatkan makan malam, Heeseung mengajak Jake duduk bersama di meja makan. "Jake, aku tahu kamu ingin membanggakan ayah, dan aku bangga padamu juga. Tapi kamu juga harus ingat bahwa nggak bisa terus seperti ini. Ambil waktu santai untuk dirimu sendiri," kata Heeseung dengan penuh perhatian.







to be continue
5 Desember 2024






Thank you for your vote 🫶

PULANG | END ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang