29

467 34 2
                                        

Sementara itu, di sisi lain rumah, Jake merasa terjebak dalam dunia yang sama sekali berbeda. Kuliahnya yang semakin menumpuk, ditambah dengan tekanan dari ayah mereka untuk berprestasi, membuatnya merasa seperti berada di jalan buntu. Setiap kali ia berusaha untuk fokus, pikirannya selalu teralihkan oleh tugas-tugas yang semakin menumpuk dan tanggung jawab yang harus ia pikul. 



Jake mencoba untuk tidak memperlihatkan kekhawatirannya kepada orang lain, tetapi di dalam dirinya, rasa cemas itu semakin menggerogoti. Di ruang belajarnya, tumpukan buku dan catatan kuliah hampir tak ada habisnya. Ia duduk di meja, menatap layar laptopnya yang memuat tugas kuliah yang harus segera diselesaikan, namun entah kenapa pikirannya terasa kosong. 

"Kenapa semuanya begitu berat?" pikirnya sambil meremas rambutnya frustrasi. "Aku tidak bisa terus begini..."




Ia mencoba untuk melanjutkan membaca materi kuliah, tapi setiap kali matanya bergerak membaca kalimat-kalimat itu, kata-kata di layar tampak kabur dan tidak masuk ke dalam pikirannya. Ia merasa seperti otaknya sudah penuh dan tidak ada ruang lagi untuk hal baru. Tuntutan dari ayahnya untuk menjadi yang terbaik di segala hal, baik di dunia bisnis maupun di kuliah, semakin membebani dirinya. Jake menghela napas berat, mencoba meraih secangkir kopi yang sudah mulai dingin di meja. Namun, bahkan kopi itu pun sepertinya tidak cukup untuk membangkitkan energi yang hilang. Ia meraba-raba ponselnya, berharap ada pesan dari teman atau keluarga yang bisa mengalihkan pikirannya sejenak, tetapi tidak ada yang datang. 



Ponselnya bergetar, dan Jake segera membuka layar. Pesan dari ayahnya muncul di sana: "Pastikan kuliahmu tidak terhambat. Jangan mengecewakan keluarga." Baca pesan itu, Jake merasakan tenggorokannya tercekat. Ia tahu betul bahwa kata-kata itu bukan hanya pesan biasa, tetapi sebuah peringatan. Ayah mereka selalu menuntut yang terbaik, dan Jake merasa seperti dia selalu gagal memenuhi harapan itu. Akhirnya, ia menutup ponselnya dengan kasar, merasa cemas dan putus asa. Ia tahu, jika ia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik, ayahnya akan kecewa—dan itu adalah sesuatu yang tak bisa ia bayangkan. Namun, semakin ia berusaha, semakin ia merasa terperangkap dalam lingkaran kegagalan yang tak berujung.


Keesokan harinya, Jake duduk di ruang makan bersama Heeseung, Jay, dan ayah mereka. Suasana terasa canggung, seperti ada sesuatu yang menggelayuti di udara. Ayah mereka masuk ke ruangan, wajahnya tampak serius, dan langsung mengarahkan pandangannya pada Jake. 

"Jake, ayah sudah melihat nilai-nilai kuliahmu." Suara ayah mereka terdengar tegas, membuat Jake sedikit tercekat. "Nilai-nilaimu menurun sedikit, kan? Ini tidak seperti yang ayah harapkan." Jake menundukkan kepala, berusaha menahan kecemasan yang mulai merambat. "Iya, Ayah. Itu hanya sedikit penurunan. Tapi—"

"Tidak ada tapi!" ayah mereka menyela dengan nada yang keras. "Kau tahu betul, Jake, bahwa kita tidak bisa menerima penurunan sedikit pun. Jika kau ingin sukses, kau harus sempurna di segala hal, tidak peduli apa pun yang terjadi."

Mendengar itu, Jake merasa beban semakin berat. Ia tahu bahwa meskipun ia adalah salah satu mahasiswa berprestasi dengan nilai yang jauh lebih baik dibandingkan teman-temannya, ayah mereka tidak akan pernah puas. Bagi ayah mereka, tidak ada untuk kesalahan, apalagi untuk penurunan walau sedikit. 



Heeseung yang duduk di samping Jake bisa merasakan ketegangan itu. Ia tahu betul betapa kerasnya ayah mereka terhadap Jake, dan bagaimana itu membuat adiknya semakin tertekan. Namun, ia juga tahu bahwa jika ia ikut campur, itu hanya akan memperburuk situasi. 

Jake menarik napas panjang dan mencoba berbicara dengan tenang. "Jake akan berusaha lebih keras lagi, Ayah. Itu tidak akan terulang lagi." Ayah mereka hanya menatapnya dengan ekspresi datar, seolah tidak puas dengan jawaban itu. "Kau harus lebih dari itu, Jake. Tidak ada untuk penurunan sedikit pun. Aku harap kau mengerti."



Ayah mereka akhirnya berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apa-apa lagi. Jake hanya bisa menundukkan kepalanya, merasa semakin terkekang dengan tuntutan yang tak pernah berakhir. 
Heeseung melihat Jake dengan prihatin, tetapi tidak tahu harus berkata apa. "Jake, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Nilaimu masih sangat baik," katanya pelan, mencoba memberikan sedikit kenyamanan. 

Jake mengangguk tanpa banyak kata. Meskipun ia tahu bahwa Heeseung hanya berusaha menenangkan, ia tetap merasa tidak cukup. "Aku tahu, Hyung. Tapi, Ayah tidak akan pernah melihat itu. Tidak akan pernah cukup bagi dia." Jay yang duduk di sisi meja, juga merasakan hal yang sama. Tuntutan ayah mereka bukan hanya datang untuk dirinya atau Heeseung, tetapi juga untuk Jake. Mereka semua terjebak dalam dunia yang sama—dunia yang selalu mengharuskan mereka lebih, lebih, dan lebih lagi. 



Jake menghela napas, lalu bangkit dari kursinya. "Aku harus kembali belajar," ujarnya dengan suara datar. Meskipun hatinya penuh dengan kekhawatiran, ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah memenuhi harapan yang begitu tinggi itu—meskipun itu berarti ia harus terus merasakan tekanan yang semakin menumpuk.


____________________________________________________________


Berbeda dengan Jake, Heeseung, atau bahkan Jay, Sunghoon tampaknya tidak terlalu merasakan tekanan yang sama dari ayah mereka. Di mata sang ayah, Sunghoon adalah anak yang selalu memenuhi ekspektasi tanpa cela. Ia selalu tampil sempurna, baik dalam hal akademis maupun dalam urusan keluarga, dan itu membuat ayah mereka jarang memberikan perhatian khusus padanya—seakan-akan ia sudah memenuhi segala tuntutan tanpa perlu usaha ekstra.



Pada suatu pagi, saat mereka duduk bersama di meja makan, ayah mereka menatap Sunghoon dengan ekspresi bangga. "Lihat Sunghoon," katanya dengan nada hampir memuji, membuat yang lain di meja merasa canggung. "Hanya dia yang tidak membuat ayah marah-marah. Nilai selalu bagus di universitas, selalu mengerjakan apa yang ayah perintahkan."



Sunghoon hanya tersenyum tipis, tidak menunjukkan kegembiraan yang berlebihan. Ia tahu betul bahwa bagi ayah mereka, ia adalah contoh yang sempurna. Meskipun itu berarti ia mendapat pujian, ia juga menyadari bahwa ayah mereka tidak akan pernah puas jika ia berhenti berusaha. Namun, tidak seperti yang lain, Sunghoon sudah terbiasa dengan beban itu. Baginya, hidup seperti ini adalah sesuatu yang harus diterima. Ia lebih sering merasa seperti alat untuk menunjukkan betapa hebatnya keluarga mereka, dan kadang ia merasa seperti tidak punya ruang untuk menjadi dirinya sendiri.



Heeseung, yang duduk di sampingnya, hanya bisa menatap Sunghoon dengan sedikit iri. "Tentu, dia selalu berhasil memenuhi harapan." Heeseung tidak bisa menahan rasa frustrasinya. Terkadang ia merasa bahwa Sunghoon seolah tidak perlu berjuang sekeras mereka untuk mendapatkan pengakuan ayah mereka. 
Namun, Sunghoon hanya menatap ayah mereka dengan tenang, mencoba menjaga jarak emosional. "Terima kasih, Ayah. Sunghoon hanya berusaha melakukan yang terbaik." Ia tahu betul bahwa meskipun ayah mereka menghargai apa yang ia lakukan, ia tetap harus terus membuktikan dirinya. Seakan-akan, di balik pujian itu, ada sebuah harapan yang terus menuntut lebih banyak.



Jay yang duduk di seberang meja, mendengar percakapan itu, merasa sedikit kesal. "Tentu saja, dia tidak pernah mendapat tekanan seperti kita." Ia menatap Sunghoon sejenak, merasa seperti perbedaan perlakuan itu semakin mencolok. "Ya, dia memang tidak pernah membuat Ayah kecewa," gumam Jake dengan nada penuh kecemasan, mencoba menanggapi dengan nada santai meskipun hatinya terasa berat. "Tapi itu berarti semua harapan Ayah tertumpah padanya, kan?"



Sunghoon tersenyum tipis mendengar komentar dari Jake. Ia tahu bahwa saudaranya merasa seperti ada ketidakadilan dalam perlakuan ayah mereka. Tapi Sunghoon juga tahu bahwa meskipun ia tampaknya tidak mendapat tekanan yang sama, ia tetap merasa terperangkap dalam harapan dan tuntutan yang tak pernah berakhir. Kadang, beban itu bahkan lebih berat daripada yang bisa dilihat oleh orang lain.

"Aku hanya ingin menjalani hari-hari dengan tenang," pikir Sunghoon dalam hati, menatap kosong ke depan sambil menyantap sarapannya. Tetapi ia tahu, tekanan itu tidak akan hilang—dan selama ia ada di sini, ia harus terus memenuhi peran yang telah ditentukan untuknya dalam keluarga ini.






to be continue
4 Januari 2025






Thank you for your vote 🫶

PULANG | END ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang