Heeseung hanya bisa menghela napas panjang melihat adiknya yang masih terisak di dalam kamar. Ia tahu betul betapa kerasnya ayah mereka jika sudah memutuskan sesuatu. Namun, ia juga paham bahwa Ni-ki hanya anak kecil yang sulit menerima kenyataan ketika keinginannya tidak terpenuhi.
"Heeseung, kamu jangan ikut membujuk. Ni-ki harus belajar menerima," ujar sang ayah dengan nada tegas sambil menatap Heeseung yang berdiri di ambang pintu.
Heeseung tak menjawab. Dia tahu membantah hanya akan memperpanjang masalah. Dengan langkah pelan, ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Tapi pikirannya tak tenang. Ni-ki sedang bersedih, dan bunda jauh di Jepang karena mengurus kakek yang sakit. Setelah beberapa saat, Heeseung memutuskan untuk masuk ke kamar adiknya. Dengan hati-hati, ia mengetuk pintu. "Ni-ki, boleh Hyung masuk?" tanyanya lembut. Tidak ada jawaban, hanya terdengar isak kecil dari balik pintu.
Perlahan, Heeseung membuka pintu dan mendekati adiknya yang masih terbenam di selimut. Ia duduk di pinggir ranjang dan mengusap kepala Ni-ki. "Maaf ya, adik kecil Hyung ini sedih banget. Tapi tahu nggak, kalau bunda ada di sini, pasti dia juga nggak mau lihat Ni-ki nangis seperti ini." Ni-ki mengintip dari balik selimut, matanya yang sembab menatap Heeseung. "Tapi Ni-ki kangen bunda, Hyung. Ayah jahat banget nggak kasih kita ke Mall," katanya dengan suara serak.
Heeseung tersenyum tipis. "Hyung tahu. Ayah nggak jahat, dia cuma khawatir sama kamu Ni-ki. Tapi bagaimana kalau kita bikin hari ini tetap seru, tanpa harus ke Mall?" Ni-ki mengerutkan alisnya, masih belum yakin. "Seru gimana? Kita kan cuma di rumah."
Heeseung mengusap dagunya, pura-pura berpikir keras. "Hmm, bagaimana kalau kita bikin benteng dari selimut di ruang tengah? Kita bisa main seolah-olah kita sedang berpetualang ke hutan ajaib. Hyung juga punya beberapa makanan ringan, kita bisa pura-pura piknik."
Ni-ki mulai terlihat tertarik, meski masih enggan menunjukkan senyum. "Benaran bisa kayak gitu?"
"Tentu saja! Hyung kan jago bikin permainan seru," jawab Heeseung sambil mengedipkan mata.
Setelah beberapa menit, Ni-ki akhirnya turun dari ranjangnya dan mengikuti Heeseung ke ruang tengah. Mereka mulai menyusun selimut dan bantal menjadi benteng, memasang lampu-lampu kecil untuk suasana, dan mempersiapkan berbagai camilan. Tawa pelan mulai terdengar, dan untuk sesaat, kesedihan Ni-ki teralihkan.
Dari jauh, sang ayah mengamati keduanya dengan senyum kecil. Meski ia tidak mengungkapkan dengan kata-kata, ia tahu bahwa Heeseung adalah kakak yang luar biasa, mampu menenangkan adiknya meski situasi tidak sesuai keinginan. Dan di bawah cahaya hangat lampu benteng mereka, Ni-ki perlahan melupakan kesedihannya. Sambil tertawa kecil, ia berkata, "Hyung, kalau bunda pulang, Ni-ki mau cerita soal hutan ajaib kita ini."
Heeseung tertawa sambil mengangguk. "Tentu saja. Kita harus kasih tahu bunda kalau kita juga bisa bikin petualangan seru di rumah."
Jay melirik Jake dengan senyum geli. "Oh ya? Tapi dari tadi Hyung lihat Jake curi-curi pandang ke benteng mereka. Jangan-jangan kamu mau ikutan, tapi gengsi, ya?" goda Jay sambil menyikut lengan Jake pelan.
Jake mendengus dan berpura-pura tidak peduli, meskipun matanya masih sesekali melirik ke arah benteng selimut yang mulai ramai. Jungwon dan Sunoo sudah bergabung dengan Heeseung dan Ni-ki, mereka semua tertawa keras saat Ni-ki dengan penuh semangat mengarahkan mereka untuk "melawan monster hutan" yang dibayangkan olehnya.
Sunghoon, yang duduk santai di sofa, menatap Jake dengan alis terangkat. "Ayolah, tidak ada salahnya bersenang-senang. Lagipula, kita semua tahu kamu juga suka main seperti itu waktu kecil." Jake menggeleng cepat. "Aku? Nggak mungkin. Aku sudah dewasa, tahu." Tapi Jay dan Sunghoon hanya saling pandang dan tertawa kecil, karena tahu Jake sebenarnya mulai tergoda.
Di sisi lain, Ni-ki berdiri di dalam benteng dengan tongkat kayu kecil yang dipegangnya seperti pedang. "Ayo cepat, monster besar akan datang! Kita harus bersiap!" serunya sambil menunjuk ke arah imajiner di luar benteng. Sunoo berpura-pura panik. "Apa? Monster besar? Di mana? Aku nggak siap!" Ia berlari berkeliling dengan lucu, membuat Ni-ki tertawa keras. Jungwon ikut berakting dengan serius, seolah-olah dia adalah ksatria pemberani yang akan melindungi benteng.
Jake menghela napas panjang, lalu akhirnya bergabung dengan yang lain. Tak lama, Sunghoon juga ikut, meski awalnya ia hanya berdiri di pinggir sambil tersenyum melihat kekacauan yang terjadi di benteng. "Heeseung Hyung, aku jadi monster aja, ya!" seru Jay tiba-tiba, lalu pura-pura mengaum keras sambil mengejar mereka. Ni-ki berteriak heboh, campuran antara takut dan senang, sambil berlari mencari perlindungan di belakang Heeseung.
"Kita harus bekerja sama untuk mengalahkan monster Jay!" seru Heeseung sambil memimpin "pasukannya" dengan gaya dramatis. Semua anak laki-laki terlibat penuh, bahkan Jake yang tadi sok dewasa kini tak ragu berlari-lari sambil berteriak seperti anak kecil.
Hari yang awalnya penuh kekecewaan untuk Ni-ki berubah menjadi salah satu hari terbaiknya. Benteng mereka menjadi medan tawa dan kebahagiaan, mengingatkan mereka semua bahwa kebahagiaan tak selalu harus datang dari hal besar—kadang cukup dari permainan sederhana bersama orang-orang terdekat.
to be continue
24 Desember 2024
Thank you for your vote 🫶🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
