"Sunoo, ayah sudah mendaftarkan kamu ke tempat kursus untuk persiapan masuk universitas. Itu tempat terbaik, Sunoo pasti bisa kan?" kata ayah dengan penuh keyakinan. Sunoo dengan cepat mengangguk mengiyakan, penuh semangat. Dia tahu betapa pentingnya kesempatan ini, dan dorongan dari ayahnya membuatnya merasa lebih bersemangat dari sebelumnya. Semenjak saat itu, Sunoo benar-benar tenggelam dalam persiapannya. Dia mulai belajar dengan giat, menghabiskan berjam-jam di meja belajarnya, menyelesaikan soal-soal latihan, dan mempelajari materi tambahan. Semangatnya meluap, tetapi kadang-kadang sulit membedakan antara semangat dan obsesi. Keinginan untuk membuktikan dirinya membuat Sunoo hampir lupa untuk berhenti sejenak dan beristirahat.
Bunda yang melihat anaknya terlalu keras bekerja merasa khawatir dan sedih. Ia tahu betul betapa besar tekad Sunoo, tetapi juga sadar bahwa berlebihan bisa membuatnya kelelahan. "Nak, pasti capek ya? Istirahat dulu, ini bunda buatkan jus kesukaan Sunoo," kata bunda dengan lembut, sambil menatap anaknya yang tampak semakin letih. Sunoo terdiam sejenak, menyadari bahwa tubuhnya memang mulai terasa lelah, meskipun semangatnya masih berkobar. Dia tersenyum kecil dan menerima jus yang dibuatkan bunda, merasakan kehangatan dalam setiap tegukan.
"Jangan terlalu didengar apa kata ayah, Sunoo," kata bunda dengan lembut, meletakkan tangan di bahu Sunoo yang terlihat kelelahan. "Sunoo jangan memaksakan diri, semampunya saja. Nanti bunda ngomong ke ayah biar tidak terlalu banyak menuntut," lanjutnya dengan penuh perhatian, berusaha menenangkan anaknya yang sedang berada di bawah tekanan. Bunda tahu bahwa meskipun ayah memiliki niat baik, terkadang tuntutan yang terlalu besar bisa membebani Sunoo, dia hanya ingin Sunoo tahu bahwa ia memiliki ruang untuk bernafas, untuk tidak merasa terjebak dalam ekspektasi yang terlalu tinggi.
Sunoo terdiam sejenak, meresapi kata-kata bunda. Di satu sisi, ia merasa bangga karena ayah begitu percaya padanya, tetapi di sisi lain, ia juga merasa ketakutan jika ia gagal memenuhi harapan itu. "Tapi, bunda... Sunoo ingin membuktikan kalau juga bisa diandalkan seperti yang lain," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar. Bunda tersenyum lembut, membelai rambut Sunoo dengan penuh kasih. "Bunda tahu, nak. Tapi kamu juga harus ingat, tak ada salahnya jika Sunoo berjalan dengan langkah sendiri, dengan kecepatan yang kamu rasa nyaman. Sunoi sudah luar biasa, dan itu yang paling penting." Kata-kata bunda membuat Sunoo merasa sedikit lebih tenang. Ia mulai memahami bahwa meskipun dia ingin mencapai banyak hal, dirinya sendiri dan kesehatannya harus tetap menjadi prioritas.
"Aku hanya ingin membuat ayah bangga," gumam Sunoo, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Bunda menatapnya dengan penuh kasih sayang, merasakan pergolakan di dalam hati Sunoo. "Ayah bangga padamu, Sunoo. Tapi ayah juga ingin kamu bahagia dan sehat. Kamu tak perlu menjadi sempurna, Sunoo hanya perlu menjadi diri sendiri," kata bunda dengan lembut, memegang tangan Sunoo erat-erat.
Beberapa minggu setelah itu, Sunoo mulai belajar untuk lebih bijak dalam mengatur waktu dan energinya. Setiap hari, dia membagi waktunya antara belajar dan beristirahat dengan lebih terstruktur. Dia tidak lagi menghabiskan berjam-jam tanpa henti di meja belajar. Sesekali, ia berhenti untuk berjalan-jalan sebentar, berbicara dengan teman, atau sekadar menikmati secangkir teh. Meskipun semangatnya untuk belajar tetap tinggi, ia mulai merasa lebih seimbang dan kurang tertekan. Sunoo juga merasa lebih percaya diri, karena ia tahu dirinya sudah memberikan yang terbaik dengan cara yang lebih sehat.
to be continue
6 Desember 2024
Thank you for your vote 🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
