Setelah puas bermain, mereka akhirnya duduk bersantai, menikmati keheningan yang menyelimuti ruangan. Heeseung dan Jay yang bertugas membereskan kekacauan yang ditinggalkan, sementara yang lainnya memilih untuk beristirahat di sofa, menenangkan diri setelah aktivitas yang menguras energi. Heeseung menatap adik-adiknya dengan senyum puas, melihat mereka tampak bahagia dan santai setelah seharian penuh kebersamaan. Meskipun kelelahan, hatinya merasa tenang mengetahui mereka semua menikmati waktu bersama, jauh dari segala tekanan yang sering mengelilingi hidup mereka.
Setelah selesai membereskan semuanya, Jay dan Heeseung bergabung dengan yang lain di sofa. Mereka duduk berdampingan, menikmati kehangatan dan kenyamanan suasana yang tercipta. Heeseung menghela napas panjang, merasa lega setelah seharian penuh kegiatan. Jay, yang biasanya lebih pendiam, tersenyum tipis saat melihat adik-adiknya tertawa bersama, seolah segala beban yang mereka hadapi sejenak terlupakan. Meski peran mereka dalam keluarga sering kali penuh tanggung jawab, momen seperti ini membuat mereka merasa lebih dekat satu sama lain, memperkuat ikatan yang sulit terungkapkan dengan kata-kata.
"Selesai mainnya?" suara ayah mereka yang tiba-tiba memecah keheningan, membuat semua orang kompak menoleh. Sang kepala keluarga berdiri di ambang pintu, dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Ni-ki, ke kamar dulu. Mandi, lalu istirahat. Keluar saat makan malam," perintahnya dengan nada yang tegas namun penuh perhatian. Ni-ki hanya mengangguk, kemudian melangkah pergi, sesekali melirik Heeseung sebelum menghilang di balik pintu. Setelah memastikan Ni-ki sudah berada di kamarnya, sang kepala keluarga duduk di sofa dengan raut wajah serius yang tak bisa ditebak. "Kalian tahu kan kalau Ni-ki tidak boleh kelelahan? Dia berbeda dengan kita semua," ujarnya, suaranya rendah dan penuh peringatan. Semua yang ada di ruangan itu hanya diam, terdiam oleh ketegasan dalam suara ayah mereka, merenungkan kata-katanya yang menggantung di udara.
"Bagaimana kalau dia kelelahan lalu jatuh sakit lagi? Bunda kalian sedang tidak ada di sini, jangan membuat masalah," ujar ayah mereka dengan nada yang lebih serius, menambah ketegangan di ruangan itu. Suasana menjadi hening, tak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun, hanya terdengar detakan jam dinding yang menghiasi keheningan. Lama dalam keheningan yang memuncak, akhirnya ayah berkata lagi, "Yang bertanggung jawab atas hal ini, menghadap ke ruang kerja ayah setelah makan malam nanti." Kalimat itu terucap dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat, membuat setiap orang yang mendengarnya merasa tertekan. Setelah mengatakan itu, sang kepala keluarga berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan Heeseung dan yang lainnya yang masih terdiam, mencerna perkataan ayah yang berat itu. Semua tahu, bahwa setelah ini, konsekuensinya tidak akan mudah dihindari.
Setelah makan malam, suasana yang semula tenang kini terasa lebih tegang. Heeseung akhirnya menghadap sang ayah, langkahnya terasa berat meski ia berusaha tampak tenang. Ketika duduk di hadapan ayahnya, matanya bertemu dengan tatapan tajam yang penuh harapan dan juga peringatan. Heeseung menghela napas sejenak sebelum memulai penjelasannya. "Ayah, Heeseung mengajak Ni-ki bermain sebagai tebusan karena tidak bisa mengajaknya ke Mall seperti yang sebelumnya sudah direncanakan," ucapnya, suara sedikit terbata-bata meskipun ia berusaha keras untuk terdengar meyakinkan. "Heeseung tahu itu mungkin membuatnya lelah, tapi itu hanya ingin membuatnya senang, agar dia tidak merasa kecewa." Heeseung menundukkan kepala, menunggu reaksi ayahnya, mengetahui bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya sekarang akan menentukan bagaimana sikap sang ayah terhadapnya.
Sang ayah menatap Heeseung dengan tajam, jelas terlihat bahwa ia sedang berusaha menahan amarahnya. "Tak bisakah dengan cara yang lain?" katanya dengan suara yang dipenuhi ketegangan. "Ingat Heeseung, kau yang paling tertua, jadi harus bisa memberikan contoh yang baik untuk yang lainnya." Kata-kata itu seperti petir yang menyambar, membuat Heeseung terdiam sejenak. Ia tahu betul bahwa sebagai anak sulung, ia harus menjadi teladan bagi adik-adiknya, namun terkadang ia merasa tertekan dengan semua tanggung jawab yang harus dihadapinya.
Setelah percakapan yang penuh ketegangan itu selesai, Heeseung keluar dari ruang kerja ayah dengan langkah yang berat. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, perasaan cemas yang sulit untuk dihilangkan. Tanpa berkata apa-apa pada adik-adiknya yang tengah berkumpul di ruang tengah, Heeseung langsung menuju kamarnya. Begitu sampai, ia menutup pintu dengan perlahan, lalu menguncinya, seolah memberi tanda bahwa ia sedang tidak ingin diganggu. Duduk di tepi tempat tidur, Heeseung menatap kosong ke arah lantai, memikirkan setiap perkataan ayahnya yang terus terngiang di telinganya. Ketegangan yang ia rasakan bukan hanya karena teguran itu, tetapi juga karena beban yang semakin berat untuk dipikul sebagai seorang kakak yang selalu diharapkan menjadi contoh yang sempurna.
Belum lagi beban yang harus dipikul Heeseung di perusahaan ayahnya, yang seolah tidak pernah berakhir. Setiap langkah yang diambilnya selalu diawasi, dan ia dituntut untuk sempurna dalam segala hal, terutama pekerjaan. Tidak ada ruang untuk kesalahan atau kelalaian, karena segala keputusan yang diambilnya akan langsung berdampak pada reputasi keluarga dan perusahaan. Seringkali, tekanan itu membuatnya merasa seperti berada di bawah bayang-bayang besar ayahnya yang selalu menuntut lebih. Setiap kali ada masalah, Heeseung merasa seperti harus memikul beban itu sendirian, tanpa bisa berbagi dengan siapa pun. Di luar pekerjaan, ia juga harus menjadi kakak yang bijak dan penyayang, namun tak jarang peran ganda itu membuatnya merasa tercekik, seolah hidupnya telah terprogram sedemikian rupa tanpa kesempatan untuk sekadar beristirahat atau mengejar impian pribadinya.
to be continue
3 Januari 2025
thank you for the vote 🫶
maaf baru update 🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
