30

495 32 1
                                        

Sunoo duduk di sudut ruang tamu dengan wajah lelah, seragam sekolahnya masih menempel meski waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rutinitasnya hari ini sama seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya—pulang dari sekolah, langsung menuju tempat les, dan kembali ke rumah saat malam telah larut. Tidak ada waktu untuk sekadar beristirahat, apalagi menikmati masa remajanya seperti teman-teman sebayanya. Semua tuntutan itu datang dari ayah mereka, sosok yang tidak pernah mengenal kata cukup ketika menyangkut prestasi dan pencapaian anak-anaknya. Bagi Sunoo, kehidupan ini lebih seperti sebuah perlombaan tanpa garis akhir, dan dia hanyalah pelari yang dipaksa terus berlari.



Melihat kondisi saudaranya yang lain, Sunoo sadar bahwa dia bukan satu-satunya yang terjebak dalam lingkaran tuntutan ini. Kakak-kakaknya juga menghadapi tekanan yang sama, bahkan mungkin lebih berat. Namun, tidak ada yang berani berbicara, seolah-olah suara mereka telah dirampas oleh otoritas sang ayah. Sunoo merasa hatinya memberontak, tapi tubuhnya terlalu lelah untuk melawan. Dia hanya bisa menghela napas panjang, menatap tumpukan buku di meja belajarnya yang menunggu untuk dibaca. Di balik semua kesibukan ini, Sunoo menyimpan satu harapan kecil—mimpi untuk hidup tanpa beban, meskipun dia tahu bahwa impian itu terasa seperti angan-angan belaka.


Ketika Sunoo sedang melamun, langkah berat terdengar mendekat. Ia mengangkat wajahnya perlahan, dan mendapati sang ayah berdiri di depannya. Wajah tegas pria itu terlihat dingin seperti biasa, tanpa secuil kelembutan yang pernah Sunoo harapkan. “Kenapa belum mulai belajar?” suara ayahnya terdengar datar, namun cukup untuk membuat Sunoo merasa tubuhnya menegang. “Ujian sudah dekat, Sunoo. Aku tidak mau melihatmu gagal. Kau tahu apa yang aku tuntut dari kalian,” lanjutnya tanpa menunggu jawaban.



Sunoo menundukkan kepala, menahan gejolak dalam dirinya yang ingin melawan. Namun, kata-kata itu hanya terjebak di tenggorokannya. Ia tahu, tidak ada gunanya berbicara. Ayah mereka bukanlah tipe orang yang menerima alasan atau keluhan. Dengan langkah berat, Sunoo berdiri, berjalan menuju kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata. Begitu pintu tertutup, air mata yang ditahannya akhirnya jatuh. Dalam kesunyian kamar, Sunoo bertanya-tanya sampai kapan dirinya harus hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan ekspektasi yang seolah tidak pernah cukup ini.


Sunoo duduk di meja belajarnya, menatap buku-buku tebal yang bertumpuk di hadapannya tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya melayang ke momen-momen singkat ketika ia bisa merasa bebas—tertawa bersama teman-temannya di sekolah atau sekadar menikmati udara segar tanpa beban. Namun, kenangan itu terasa seperti ilusi yang semakin memudar. Ia tahu bahwa semua ini bukan hanya tentang ujian atau nilai sempurna. Ini tentang membuktikan sesuatu kepada ayahnya, meskipun Sunoo sendiri tidak pernah memahami apa yang sebenarnya mereka coba buktikan.



Beberapa jam berlalu, dan jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Sunoo masih terjaga, memaksa dirinya membaca meski kelopak matanya terasa berat. Ia tahu bahwa kegagalan bukanlah pilihan. Ayahnya tidak pernah menerima kata "tidak bisa" atau "tidak sanggup." Namun, di dalam hati kecilnya, Sunoo mulai merasa lelah—bukan hanya fisik, tetapi juga jiwanya. Dia ingin berhenti, ingin merasakan kebebasan seperti remaja lainnya. Tapi dia sadar, dalam keluarga ini, kebebasan adalah sesuatu yang mustahil. Ia hanya bisa menatap cermin di depannya, melihat bayangan dirinya yang semakin asing, seolah-olah dia sedang berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenal lagi.


Jungwon berhenti sejenak di depan pintu kamar Sunoo, melihat cahaya lampu yang masih menyala meski waktu sudah mendekati pukul tiga dini hari. Dengan hati-hati, ia mengetuk pintu sebelum membukanya perlahan. Di dalam, ia melihat Sunoo duduk di meja belajarnya, kepala tertunduk di atas buku yang terbuka. “Hyung… belum tidur?” tanya Jungwon pelan, suaranya penuh kekhawatiran. Ia melangkah masuk, mendekati Sunoo yang terlihat sangat lelah.



Sunoo mengangkat kepalanya perlahan, memaksakan senyum kecil meskipun matanya merah dan lingkaran hitam menghiasi bawah matanya. “Aku harus belajar, Jungwon. Ujian tinggal beberapa hari lagi,” jawab Sunoo, suaranya terdengar serak. Jungwon menggeleng pelan, menatap kakaknya dengan tatapan prihatin. “Hyung, kau tidak bisa terus seperti ini. Istirahatlah dulu, aku yakin Ayah tidak akan tahu kalau kau tidur sebentar,” ujarnya, mencoba membujuk. Namun, Sunoo hanya menghela napas panjang. “Kau tahu dia akan tahu, Wonnie. Dia selalu tahu,” ucapnya lirih, nada putus asa tersirat jelas dalam suaranya. Jungwon terdiam, menyadari bahwa tidak ada kata-kata yang bisa menghapus ketakutan Sunoo terhadap ayah mereka.


Jungwon menghela napas, menatap kakaknya yang tampak semakin lelah. "Tapi, Hyung, besok kau harus sekolah. Kau perlu tidur yang cukup. Kalau terus begini, kau bisa sakit," katanya dengan nada penuh kekhawatiran. Ia mencoba menarik tangan Sunoo, memaksanya untuk berdiri dan beristirahat. Namun, Sunoo tetap duduk diam di kursinya, hanya menatap adiknya dengan mata sayu.



“Lalu, kau kenapa belum tidur juga?” balas Sunoo dengan nada lelah, membuat Jungwon terdiam. Pertanyaan itu menghentikan langkahnya, dan ia hanya bisa menundukkan kepala. “Aku... hanya tidak bisa tidur,” jawab Jungwon pelan, hampir seperti bisikan. Sunoo menatapnya, mengenali ekspresi yang sama seperti yang sering ia lihat di cermin—ekspresi seseorang yang terjebak dalam ketakutan dan tekanan. “Kau juga merasakannya, kan? Semua ini terlalu berat untuk kita,” ucap Sunoo lirih, suaranya penuh kegetiran. Jungwon hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Untuk pertama kalinya, mereka saling menyadari bahwa beban ini tidak hanya milik salah satu dari mereka, tapi milik mereka semua.


Sunoo menatap Jungwon dengan alis yang sedikit terangkat, hatinya mencelos mendengar pernyataan itu. “Ayah ingin kau masuk SMA yang sama seperti kami?” ulangnya, mencoba memastikan apa yang baru saja didengarnya. Jungwon mengangguk pelan, matanya menatap lantai seolah takut bertemu pandang dengan Sunoo. “Dia bilang itu adalah satu-satunya sekolah terbaik untuk membentukku menjadi ‘seseorang yang pantas’,” Jungwon melanjutkan dengan nada getir, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.



Sunoo menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri meski dadanya dipenuhi amarah. “Kau tahu apa yang terjadi pada kami di sana, Jungwon. Sekolah itu bukan tentang belajar atau tumbuh, itu tentang menjadi boneka sesuai keinginan Ayah,” kata Sunoo, suaranya sedikit bergetar. Jungwon mengangkat wajahnya, melihat kakaknya dengan tatapan yang penuh keraguan dan ketakutan. “Tapi aku tidak punya pilihan, Hyung. Aku harus melakukannya… sama seperti kalian.” Sunoo ingin membantah, ingin memberontak, tetapi kata-katanya terasa tertahan. Dalam diam, mereka berdua menyadari betapa rapuhnya harapan untuk keluar dari lingkaran tuntutan ini.


Suara Heeseung yang tiba-tiba terdengar dari ambang pintu membuat Sunoo dan Jungwon menoleh bersamaan. Kakak tertua mereka berdiri di sana, bersandar di kusen pintu dengan ekspresi lelah namun tetap penuh wibawa. “Kalian kenapa belum tidur juga?” tanyanya sambil melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya untuk menjaga percakapan mereka tetap pribadi.



Sunoo dan Jungwon saling melirik sejenak, ragu untuk menjawab. Heeseung duduk di tepi tempat tidur Sunoo, melirik tumpukan buku yang berserakan di meja. “Sunoo, kau bahkan belum berganti pakaian. Dan Jungwon, seharusnya kau sudah di kamar sejak tadi,” lanjut Heeseung dengan nada tegas, tetapi lembut.



Sunoo akhirnya angkat bicara, suaranya lemah. “Kami hanya… memikirkan semua ini, Hyung. Tekanan dari Ayah, sekolah, dan sekarang Jungwon juga harus menghadapi hal yang sama,” ucapnya sambil melirik Jungwon. Heeseung menghela napas panjang, ekspresinya berubah menjadi lebih serius. “Aku tahu ini berat. Kita semua merasakannya. Tapi kalian harus ingat, kita hanya punya satu sama lain. Kalau kalian hancur, aku juga hancur. Kita harus kuat, bersama,” katanya pelan, suaranya sarat dengan ketulusan yang jarang mereka dengar darinya.







to be continue
5 Januari 2025






Thank you for your vote 🫶

PULANG | END ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang