Sebelum pulang ke rumah, mereka memutuskan untuk singgah ke restoran untuk makan malam. Udara malam yang sejuk dan lampu-lampu restoran yang temaram memberikan suasana yang nyaman, sempurna untuk mengakhiri hari yang melelahkan. Makanan datang satu per satu, aroma lezat dari hidangan yang dihidangkan membuat semua orang semakin lapar. Mereka pun menikmati setiap suapan dengan lahap, berbincang tentang berbagai hal ringan, dan terkadang tertawa bersama.
Namun, di tengah kebersamaan itu, Jungwon, anak SMP yang biasanya ceria, terlihat tidak begitu tertarik dengan hidangan di depannya. Meskipun sudah ada banyak pilihan yang menggugah selera, dia hanya menatap piringnya tanpa ada niat untuk memulai. Di pantai tadi saja, dia hanya makan cemilan secukupnya, dan itu pun tidak banyak. Matanya terlihat kosong, seolah ada yang mengganggu pikirannya, tapi dia memilih untuk tetap diam.
Melihat Jungwon yang tampak tidak seperti biasanya, Ni-ki mencoba berbicara padanya dengan lembut, bertanya apakah dia merasa tidak enak badan atau ada masalah lain. Namun, Jungwon hanya menggeleng pelan, tidak ingin membebani orang lain dengan apa yang sedang dia rasakan. Meskipun suasana makan malam ini penuh dengan canda tawa, ada ketegangan kecil yang terasa di antara mereka, seperti ada sesuatu yang belum terungkap, yang membuat Jungwon enggan untuk menikmati makanannya.
"Jungwon Hyung, kenapa gak dimakan makanannya?" tanya Ni-ki penasaran, sambil sibuk memasukkan potongan daging ke mulutnya. Meskipun suasana sekitar mereka riuh, Ni-ki tetap memperhatikan Jungwon yang tampak terdiam. Dia tahu, Jungwon tidak pernah melewatkan kesempatan untuk makan dengan lahap, apalagi makanan di restoran ini begitu menggoda.
Jungwon mengalihkan pandangannya, mencoba menghindari tatapan Ni-ki yang penuh tanya. "Hyung kekenyangan, Ki," jawabnya sambil tersenyum pelan, namun senyuman itu tidak cukup meyakinkan. Ni-ki merasa ada yang tidak beres, namun dia memilih untuk tidak memaksa. Bagaimanapun, Jungwon lebih tua dan sering kali menyembunyikan perasaan atau masalahnya sendiri.
Namun, suasana hatinya yang tampak berat tidak luput dari perhatian Heeseung, yang duduk di ujung meja. Dia memperhatikan Jungwon dengan cermat, matanya tajam, seolah-olah bisa membaca apa yang sedang terjadi di balik sikap tenang adiknya. Tentu saja, Heeseung sudah terbiasa dengan cara Jungwon yang suka menutupi perasaan, tetapi dia tahu saat-saat seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Makanannya dibungkus saja ya, Won, makan di rumah. Nanti bunda bilang ke pelayanannya," ucap bunda dengan suara lembut, mencoba mengerti kondisi Jungwon yang tampak kehilangan selera. Namun, beda halnya dengan sang ayah yang lebih tegas. "Biarkan saja, Bun. Jungwon selama ini nafsu makannya tak terkontrol. Berat badannya jadi gak ideal untuk anak seusianya," katanya dengan nada serius, seolah-olah ingin memberikan peringatan kepada Jungwon.
Heeseung yang duduk di sebelah Jungwon segera ikut menyela, mencoba membela adiknya. "Tapi Jungwon sedang masa pertumbuhan, wajar kalau makannya banyak. Jungwon juga tidak segemuk yang ayah pikirkan," ujarnya, mencoba meluruskan kesalahpahaman yang mungkin terjadi. "Ayah, Jungwon masih anak-anak. Bukan hanya tentang makan, tapi juga soal bagaimana tubuhnya berkembang dengan baik."
Jungwon hanya diam mendengar percakapan itu. Walaupun niatnya untuk menghindari perhatian tampaknya tidak berhasil, dia merasa canggung berada di tengah pertentangan kecil itu. Pandangannya kembali teralihkan ke piringnya, ada hal-hal yang lebih sulit untuk dia ungkapkan.
"Dia terlalu banyak makan, sehingga suka mengantuk dan malas belajar. Lihat saja nilainya sangat jelek," kata sang ayah lagi, nada suaranya kini lebih keras, seolah menegaskan kekhawatirannya yang sudah lama terpendam. "Jika terus begini, bagaimana dia bisa sukses? Makanan itu harusnya jadi energi, bukan justru membuatnya jadi tidak produktif." Ayah Jungwon menatapnya dengan tatapan serius, seolah ingin Jungwon menyadari betapa pentingnya kontrol diri dalam segala hal.
Jungwon merasa jantungnya berdegup kencang, sedikit cemas dengan kata-kata ayahnya yang begitu tajam. Dia tahu bahwa ayahnya hanya ingin yang terbaik, namun terkadang, kata-kata itu terasa seperti beban yang semakin menambah tekanan dalam hidupnya. Di sisi lain, Heeseung yang merasa tidak adil dengan pernyataan ayahnya segera berbicara, "Ayah, jangan terlalu keras pada Jungwon. Semua anak di usia segitu memang cenderung mencari makan untuk menenangkan diri. Nilainya memang bisa lebih baik, tapi jangan sampai ayah menambah tekanan yang membuatnya semakin terpuruk."
Jay yang mendengar percakapan itu juga merasa cemas, namun dia mencoba untuk meredakan ketegangan di meja makan. "Jungwon pasti bisa, kok. Semua ada waktunya," katanya dengan suara lembut, memberi dukungan kepada adiknya. Jungwon merasa sedikit lebih tenang dengan kata-kata Jay, meskipun dia tahu masalahnya lebih kompleks dari sekadar makan dan nilai sekolah.
"Jungwon sudah bisa kontrol agar tidak makan berlebihan, ayah tenang saja," kata Jungwon berusaha menenangkan hati sang ayah. Meskipun suaranya terdengar yakin, di dalam hatinya masih ada rasa cemas. Dia tahu ayahnya khawatir, tapi Jungwon merasa dia sudah cukup dewasa untuk mengatur pola makan dan menjaga kesehatannya.
"Namun dari pagi, Hyung cuman makan snack, itu juga sedikit. Mana bisa jadi energi?" oceh Ni-ki, sambil melirik Jungwon dengan ekspresi serius. Meskipun dia yang paling kecil di antara mereka, terkadang jalan pikirannya terasa lebih dewasa dari umurnya. Ni-ki selalu memperhatikan detail, dan kali ini dia melihat betul apa yang terjadi pada Jungwon. "Kamu harus makan yang lebih bergizi, Hyung. Kalau terus begini, pasti kamu cepat capek."
Jake yang selama ini hanya diam, akhirnya membuka suara dengan sangat pelan, namun cukup untuk didengar oleh mereka semua. "Ayah selalu menuntut, padahal setiap anak punya keistimewaan tersendiri," katanya dengan nada yang penuh makna. Kata-katanya sederhana, tapi mengandung perasaan yang mendalam. Semua mata tertuju padanya, dan suasana sejenak menjadi hening.
to be continue
9 Desember 2024
Thank you for your vote 🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanficTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
