Sunoo selalu merasa tertekan untuk membuktikan dirinya di mata ayahnya yang sangat menuntut kesempurnaan. Dalam upayanya untuk merebut perhatian dan pengakuan, ia fokus pada prestasi akademis yang sangat baik. Ia menghabiskan berjam-jam di ruang belajar, mempelajari materi yang terkadang sulit dimengerti, hanya untuk memastikan nilai-nilainya selalu berada di atas rata-rata. Sunoo tahu, jika ia bisa menunjukkan hasil yang luar biasa, mungkin ayahnya akhirnya akan melihatnya sebagai anak yang lebih dari sekadar bayangan saudaranya yang lain.
Namun, semakin lama, Sunoo merasa seperti terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah berakhir. Setiap saudaranya berlomba untuk mendapatkan perhatian ayah mereka, dan Sunoo tidak mau kalah. Ia selalu melihat bagaimana Heeseung, sang hyung tertua, selalu mendapatkan pengakuan atas segala pencapaiannya, baik di dunia bisnis maupun keluarga. Sunoo merasa ingin berada di posisi yang sama, diterima dan dihargai seperti Heeseung. Tapi meskipun usahanya keras, ia mulai merasakan betapa beratnya beban yang harus dipikul untuk mencapai pengakuan yang selama ini ia idam-idamkan.
Untuk memperkuat usahanya, Sunoo tak hanya bergantung pada waktu belajar di rumah, tetapi juga memutuskan untuk mengikuti kursus tambahan. Ia menyadari bahwa di dunia yang kompetitif ini, usaha lebih saja belum cukup. Dengan kursus di bidang-bidang yang mendukung studinya, seperti matematika dan bahasa asing, Sunoo berharap bisa meningkatkan kemampuannya dan membuktikan bahwa ia juga layak mendapatkan pengakuan. Setiap sore, setelah sekolah, ia pergi ke tempat kursus dengan tekad untuk memahami hal-hal yang sulit baginya dan memperdalam pengetahuannya.
Meskipun merasa kelelahan, Sunoo terus melangkah maju. Baginya, setiap nilai ujian yang tinggi dan pemahaman yang semakin dalam akan menjadi bukti bahwa ia juga bisa bersinar di mata ayahnya, seperti Heeseung yang selalu jadi contoh utama dalam keluarga. Namun, dalam hati, Sunoo juga menyadari bahwa pencapaian akademisnya tidak hanya untuk ayahnya, tapi juga sebagai bentuk pembuktian pada dirinya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar anak yang selalu berusaha mengejar bayang-bayang saudaranya, dan dengan kursus tambahan itu, Sunoo berusaha membangun jalannya sendiri menuju pengakuan dan kebanggaan keluarga.
Namun, seiring berjalannya waktu, beban yang dipikul Sunoo semakin terasa berat. Meskipun ia terus berusaha keras dalam belajar dan mengikuti kursus tambahan, rasa kewalahan mulai menggerogoti dirinya. Tugas yang terus menumpuk, ujian yang semakin mendekat, dan ekspektasi yang tinggi dari ayahnya membuat Sunoo merasa terjebak dalam rutinitas yang tak ada habisnya. Tidur yang kurang, waktu untuk diri sendiri yang terbatas, dan tekanan untuk selalu tampil sempurna mulai merusak keseimbangan hidupnya. Ia merasa seperti sedang berlari dalam sebuah lomba yang tak pernah ada garis finish-nya.
Sunoo mulai meragukan kemampuannya sendiri, meskipun ia sudah memberikan yang terbaik. Setiap kali ia melihat nilai-nilai ujian yang sedikit menurun atau gagal memenuhi standar yang ditetapkan ayahnya, rasa cemas dan takut akan kekecewaan semakin menguasainya. Ia merasa tidak cukup, seolah usahanya selalu kalah dibandingkan dengan Heeseung, yang selalu tampil lebih unggul dan diterima dengan baik oleh ayah mereka. Perlahan, rasa lelah fisik dan mental yang menggunung membuat Sunoo mempertanyakan apakah segala usaha ini layak dilakukan, atau apakah pengakuan yang ia harapkan benar-benar akan datang.
Heeseung, sebagai anak tertua yang selalu merasa bertanggung jawab atas adik-adiknya, mulai menyadari bahwa Sunoo sudah terlalu keras pada dirinya sendiri. Melihat Sunoo yang semakin kelelahan, baik fisik maupun mental, Heeseung mencoba mendekatinya. Ia tahu betul bagaimana perasaan tertekan itu bisa menghancurkan, karena ia sendiri pernah merasakannya. Dengan niat baik, Heeseung mencoba memberi nasehat, mengingatkan Sunoo untuk tidak terlalu membebani dirinya dan untuk mencari keseimbangan dalam hidup. "Kamu harus belajar untuk merelakan sedikit, Sunoo. Tidak perlu selalu menjadi yang terbaik di segala hal," kata Heeseung dengan nada lembut, berharap adiknya bisa memahami.
KAMU SEDANG MEMBACA
PULANG | END ✅
FanfictionTujuh bersaudara hidup di bawah tekanan ayah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan di segala aspek. Di balik topeng keluarga ideal, mereka bergulat dengan luka batin, depresi, dan kelelahan mental. Akankah mereka melawan atau hancur dalam tuntutan...
