"Heran, orang yang sebenarnya nggak siap nikah malah ngebet nikah. Giliran orang yang udah malah nggak nemu jalannya."
-Areksa Mahendra-
🌾
"Rai kaya galengan we nggleleng!" [Muka kayak pematang sawah aja sok keren!] seru Gading sambil membanting korek yang ia gunakan untuk mematik rokok yang baru ia beli tadi ke meja.
"Sapa?" tanya Cungkring. Pemuda itu telah menanggalkan kaosnya dan ia sampirkan begitu saja di bahu kanannya.
Sore ini kandang dan tempat penggilingan padi sudah sepi. Tersisa Cungkring, Gading, dan Areksa yang masih ada di sana. Areksa masih menunggu jemputan sementara Cungkring dan Gading setia menemaninya. Sebenarnya selain mereka, masih ada satu dua petani yang ada di lumbung. Biasanya sore hari mereka mengembalikan semua alat yang tadinya mereka gunakan di sawah seperti semprotan, cangkul, atau bahkan benda besar seperti pembajak sawah.
"Aku mau kan tuku rokok nang warung. Bali ndene arep ditabrak bojone Rahma. Cenanangan banget le nunggang motor. Ngono we ming mlirik tok, Cok! Ora duwe suba sita!" [Aku tadi kan beli rokok di warung. Balik ke sini mau ditabrak suaminya Rahma. Sembarangan banget naik motornya. Gitu pun cuma melirik doang! Nggak punya sopan santun!"
"Sek endi ta, bojone ki?" [Yang mana sih, suaminya itu?]
"Pokoke nek kowe sesuk ketemu wong lanang nom tur ketuwan raine, kui bojone!" [Pokoknya kalau kamu besok ketemu laki-laki muda yang mukanya ketuaan, itu suaminya!]
"Ha?" Sahut Cungkring. Sementara Areksa pun turut menggelengkan kepalanya. Gading memang cenderung lebih ceplas-ceplos orangnya ketika ia merasa tidak suka dengan seseorang.
"Jare nang ngomah yo gur tura-turu! Dikon melu nyawah ora gelem. Ngirim nang sawah, cerete wutah nang dalan." [Katanya di rumah juga cuma tidur-tiduran! Disuruh ikut ke sawah nggak mau. Mengirim (makanan) ke sawah, ceret (tempat minum) tumpah di jalan.] Gading begitu menggebu-gebu menceritakan hal yang sempat ia dengar beberapa waktu lalu.
"Woo...jebule lanangan modal..." [Woo.. ternyata laki-laki modal...] Cungkring melirik ke arah Areksa dan mendapati laki-laki itu telah mengernyitkan kedua alisnya. Hal itu merupakan tanda jika kata yang akan terucap selanjutnya dipastikan tidak di sukai oleh juragannya itu.
"...modal...modal awak tok!" [..modal...modal badan doang!] Untungnya ia menemukan kata pengganti yang tepat.
Areksa menghela napas. "Makane kowe biyen pas arep rabi tak takoni ta, wis siap makani anake maratuamu apa durung," [Makanya kamu dulu pas mau nikah aku tanyain kan, udah siap ngasih makan anak mertuamu belum,] ujarnya kemudian pada Gading.
Gading mengangguk, tersenyum tak enak saat mengingat masa-masa ia terlalu mabuk cinta dan ingin segera menikah. Untungnya saat itu ia benar-benar telah siap dan hingga kini pernikahan berjalan lancar. Mungkin sedikit bumbu omelan istrinya sering memarahinya karena air di bak kamar mandi selalu dibiarkan tersisa sedikit tanpa inisiatif mengisinya setelah ia mandi.
"Nek aku kira-kira wis siap rabi rung, Mas?" [Kalau aku kira-kira udah siap nikah belum, Mas?]
"Haa.. nek kowe, bojomu sesuk pakanane odot," [Haa... kalau kamu, istrimu besok makanannya (rumput) odot," gurau Gading sambil terus mengepulkan asap putih ke sisi kanannya agar tidak mengenai Cungkring dan Areksa.
"Cangkeme..!" [Mulutnya..!] Cungkring mengibaskan kaosnya ke paha Gading.
"Iyuh.. teles!" [Iyuh...basah!] seru Gading.
"Rabi ki ora kudu duwe duwit akeh banget, tur kudu siap wae." [Nikah itu nggak harus punya uang banyak banget, tapi harus siap aja.] Areksa mulai membuka suaranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romance[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)