Sumilir 44

41.5K 3.5K 449
                                        

Haloo, maaf sudah membuat kalian menunggu lama. Kesibukan dan faktor lainnya membuat aku nggak bisa mikir tentang cerita ini. Aku udah sempat ngabarin ke feed akun ini tapi mungkin nggak semua baca. Intinya, terima kasih telah menunggu dan bersabar demi Mas Areksa dan Nindya. daaaann, selamat ulang tahun untuk Sumilir! [walau udah telat, aslinya 3 Juni kemarin]

Selamat membaca semua. Jangan lupa pakai batik atau gamis🤗

🌺

"Dim... Dimas!"

"Bentar, Mbak! Duh panas!" Dimas mengaduh saat tangannya tidak sengaja menyenggol panci yang masih panas saat dirinya sedang memindahkan mie instan ke mangkok.

"Hati-hati, Dim," ingat Nindya. Perempuan yang sejak tadi berbicara tanpa henti itu pun memilih diam sejenak agar adiknya menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.

"Jadi, acaranya besok malam ya, Mbak?" Dimas kini sudah kembali ke kamar kosnya dan siap untuk mengobrol dengan kakaknya.

"Iya." Nindya pun salah fokus dengan mie yang tampak mengepul panas di depan adiknya. "Mie apa itu, Dim?"

"Ayam bawang."

"Minta."

"Ya, udah ke sini." Dimas melambaikan tangannya.

"Nggak ah, males," timpal Nindya sambil tersenyum. Sebenarnya dirinya sudah makan malam tadi.

"Minta bikinin Mas Areksa sana."

"Dih, apaan." Nindya mengernyitkan dahinya. Meski bagian atas wajahnya tampak tidak suka, kedua sudut bibirny terus tertarik ke atas dan membuat Dimas tampak muak melihat wajah kakaknya.

Dimas meniup mie dan menyeruputnya tanpa terpotong. Setelahnya, Dimas mengusap kedua sudut bibirnya sebelum berujar. "Nggak bisa pulang aku, Mbak. Maaf ya."

"Nggak papa. Emang aku sengaja ngasih tahu dadakan biar kamu nggak sempat pulang," canda Nindya.

"Asem." Dimas tertawa kecil. "Aku perlu ngamplop nggak nih?"

"Nggaklah. Ngapain? Cuma lamaran doang kok."

"Iya, udah cukup dibiayai sama Mas Areksa ya?" Goda Dimas.

Nindya memicingkan matanya. Cukup lama ia menahan rasa kesalnya hingga akhirnya ia berdecak. "Ah, jadi pengen mie." Lama-lama Dimas yang sedang makan itu terlihat begitu nikmat.

"Bikinlah," balas Dimas dengan sombong.

"Nggak mau, takut nanti pipiku tembem pas lamaran."

"Emang diacarani, Mbak? Nganggo dekor-dekor?" [... Pakai dekor-dekor?]

Nindya menggeleng. "Enggak. Kata Mas Areksa yang ikut cuma dikit kok."

"Siapa aja keluarga Mas Areksa?"

"Ya kalau keluarga besarnya belum tahu ya. Tapi besok yang ikut ada orang tuanya dua, adiknya, Pak RT, Kang Sabar, Gading, terus siapa lagi gitu, lupa. Pokoknya cuma belasan aja. Soalnya keluarga Pak Darman sama Bu Ningrum pada jauh, sayang aja kalau malah ngrepotin," Jelas Nindya. Beberapa hari belakangan ini ada banyak hal yang harus ia urus dan pikirkan disela-sela kesibukannya bekerja. Namun, demikian menikmatinya karena perlahan mulai tahu tentang keluarga Areksa.

"Lah lamaran itu dikit banget ya orangnya?" Dimas keheranan. "Dari keluarga kita berapa, Mbak?"

"Nah ini, Dim. Orang tua kita kan asalnya dari sini semua. Nanti banyak yang bantuin, Keluarganya Pakde Win, keluarganya Mas Farhan, belum lagi Ibu minta tolong sama tetangga kanan kiri buat masak. Apalagi ada Pak Sutardi yang kemarin tiba-tiba bantu Ayah beres-beres halaman depan."

Sumilir [Selesai | Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang