"Pengenku jane gur siji. Panen sesuk iso melu ngarit:("
-Areksa Mahendra-
🌾
Kalian tahu cerita ini dari mana?
Terus udah baca sepanjang ini, masih nggak mau follow sama like? Kejam banget:(
Tau gitu mending aku ikut ngarit Kang Sabar aja daripada lanjutin cerita ini.
🌾
"Mbak Nin."
Suara ketukan yang dibarengi oleh suara yang memanggilnya, membuat Nindya yang baru saja terlelap lantas tersentak kaget dan mengerang kesal.
"Apa..?" balasnya dengan malas.
"Tak masuk ya, Mbak?" Tanpa menunggu persetujuan, Dimas pun langsung masuk ke dalam kamar.
"Ayo lari."
Ajakan itu tentu membuat Nindya semakin kesal. Ia ingin kembali tidur dengan tenang. Bahkan mukena yang ia pakai tadi masih melekat di badannya untuk menghalau udara dingin pagi.
"Lari sendiri sana!" usir Nindya.
"Ayo kancani. Ana sepatu anyar iki."
"Ha?" Nindya menoleh malas. Matanya yang tertutup perlahan terbuka dan memfokuskan pandangannya pada sosok laki-laki yang berdiri menjulang menhalau cahaya yang menerobos masuk dari pintu yang terbuka.
"Nih, oleh-oleh. Ukurannya masih sama kan?" Dimas mendekat, meletakkan sebuah kotak di atas perut kakaknya.
"Dimas!"
Nindya memekik terkejut saat ia sudah bisa membaca merek yang tertera di kardus itu berkat cahaya lampu dari luar kamarnya. Perempuan itu terperanjat dari posisi berbaring dan langsung duduk tegap. Ia cepat-cepat membuka kotak sepatu itu meski sedikit kesulitan akibat mukena yang menutupi tangannya.
"Aaa, Dimas..." Nindya merengek kecil saat melihat sepatu yang ada di dalam kotak itu memiliki model yang ia sukai. Apalagi kombinasi warnanya sangat cantik.
"Dim, ini mahal." Setelah Nindya puas mengamati sepatu baru itu, ia pun mulai menyadari berapa kiranya harga dari sepatu itu. Matanya berkaca-kaca saat melihat Dimas yang masih beridri dihadapannya dengan senyum puas karena berhasil memberikan oleh-oleh yang cocok untuk kakaknya.
"Makanya ayo lari." Tanpa menyanggah ucapan kakaknya, ia kembali mengemukakan maksud dan tujuannya kembali. Suasana haru itu lantas berubah dalam sekejap, Nindya langsung melempar asiknya dengan boneka katak miliknya.
"Dasar, nggak bisa diajak mellow dikit!"
"Ayo ta, selak panas." [Ayolah, keburu panas.]
Dengan sedikit menggerutu, Nindya pun menyingkir kotak sepatu yang ada di pangkuannya dan membuka mukenanya dengan gerakan tidak santai.
"Keluar sana. Mbak mau ganti."
Dimas langsung keluar tanpa diperintah dua kali. Sementara Nindya pun berganti baju dan mencuci muka terlebih dahulu sebelum memakai sepatu baru yang adiknya belikan itu.
Sepasang anak Pak Bambang itu mulai berlari santai setelah melakukan pemanasan. Berbeda dengan Dimas yang masih rutin berlari, Nindya sudah lama tidak melakukan olahraga itu. Terakhir kali Nindya jogging adalah ketika ia masih bersama mantan pacarnya. Bersama dengan laki-laki yang kini menjadi masa lalunya itu, Nindya sering jogging bersama di alun-alun kota. Joggingnya tidak seberapa, jajannya yang beberapa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romansa[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)