"Kenapa nggak dari kemarin?"
-Anindya Nasywa Ayudisha-
🌺
Dari bab kemarin aku dapet pelajaran kalau nulis cepet itu ada nggak baiknya, alias aku jadi bingung nyambunginnya ke bab sekarang. Tapi, yah.. ini seadanya ya? Besok kita...
🌺
Nindya perlahan mendekat ke meja di kamar orang tuanya. Ia tetap celingak-celinguk meski ia telah memastikan jika kedua orang tuanya telah pergi ke masjid untuk tarawih.
Ya, Nindya sedang menstruasi hari ini. Perjuangannya bangun pagi buta untuk sahur sampai ketiduran selepas subuh berakhir batal dengan kehadiran bercak merah di celananya saat pulang kerja tadi.
Sungguh Nindya ingin marah dan mengumpat. Namun, entah siapa yang harus ia marahi sekarang. Masa iya Nindya akan memarahi organ reproduksinya sendiri? Salah-salah seperangkat organ reproduksinya itu akan ngambek saat ia menikah nanti dan ia tidak bisa hamil. Uh, jangan sampai!
Nindya mencari ponsel ayahnya yang biasa tergeletak begitu saja di meja. Begitu ia menemukan benda itu, Nindya pun menghidupkan benda itu.
"Aduh, terang banget!" Nindya seketika menyipit saat matanya tidak siap menerima terpaan cahaya dari layar bergambar anak kambing itu.
Nindya mencoba bertahan dengan kesilauan itu dan bergegas membuka galeri. Di antara banyaknya foto anak kambing dan sapi dari berbagai sudut, ia menemukan foto dirinya meringkuk di sajadah dan masih menggunakan mukena.
Nindya langsung memperbesar tampilan foto itu. Mata sipitnya seketika terbuka lebar dan meneliti apakah ada hal buruk dari dirinya yang tertangkap kamera. Rasanya foto itu tidak begitu buruk. Ia meringkuk dengan cantik. Mulutnya tertutup rapat. Matanya pun tidak setengah terbuka. Tidak ada jejak saliva yang keluar sepanjang ia mengamati foto itu.
"Cantik gini kok," komentarnya pada fotonya sendiri.
Nindya pun berganti membuka aplikasi obrolan yang paling laris dipakai. Ia menggulir satu persatu nama hingga ia menemukan kontak Areksa.
Areksa
📷|
Putri 😴|
Nang sajadah wae merem. Sok nek rewel pindah kandang wae. [Di sajadah aja (bisa) tidur. Besok kalau nakal pindah kandang aja.]|
04.37
"Astaghfirullahaladzim..." Nindya syok bukan main melihat ketikan ayahnya itu. Sungguh Ayah yang melempar anaknya sendiri ke jurang.
|Ampun, Pak. Man eman😅 [Jangan, Pak. Sayang😅]
05.19
Diawali dengan masam dan diakhiri dengan mesem [senyum], itulah yang sedang terjadi pada Nindya.
Perempuan yang baru hari pertama menstruasi itu lantas melompat ke kasur orang tuanya dan menghentakkan kedua kakinya sambil tengkurap. Cukup lama ia menahan diri di kasur. Ia menutup kedua mukanya yang semakin memerah sampai semua rambut yang sengaja ia gerai menempel di mukanya.
Setelah berhasil mengendalikan diri lagi, Nindya kembali meraih ponsel ayahnya yang ia letakkan begitu saja di meja. Sambil berlari kecil ke kamarnya, ia membuka kembali gawai ayahnya dan ia foto ruang obrolan itu menggunakan ponselnya sendiri.
Ia pun langsung mengirimi Areksa pesan setelah ia mengembalikan ponsel ayahnya ke tempat semula tanpa perubahan sedikit pun.
Mas Areksa
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romansa[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)