[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana]
Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ngapunten wis tak apusi wingi, hehe
saiki tenan kok:)
🌺
"Welcome home, Penghuni Rahim Ibu Bekas Aku!"
-Anindya Nasywa Ayudisha-
🌺
"Mas."
Panggilan dari si pengendara motor membuat seseorang yang duduk di belakangnya lantas mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Nggih, Pak?" jawab laki-laki itu.
"Lho, tak kira njenengan niku tiyang kutha ta, Mas." [Lho, saya kira kamu itu orang kota, Mas.] Ujar si pengendara saat menyadari aksen yang digunakan laki-laki dibelakangnya cukup kental.
Laki-laki yang membonceng di belakang itu tertawa sambil tetap memegangi tali helm yang sulit untuk dikaitkan. Angin kencang di sepanjang jalan ini membuatnya takut helm hitam di kepalanya akan terbang.
"Kula asli mriki, Pak. Lagi setahunan niki kula ten kutha." [Saya asli sini, Pak. Lagi setahunan ini saya di kota.]
"Ngerti ngono mau rasah nganggo Bahasa Indonesia ta, Mas." [Tahu gitu tadi nggak usah pakai Bahasa Indonesia, Mas.]
"Nggih nyuwun ngapunten, Pak. Wau njenengan riyin sing ngangge Bahasa Indonesia." [Ya maaf, Pak. Tadi kamu duluan yang pakai Bahasa Indonesia."
Benar juga, Bapak-bapak yang berprofesi sebagai tukang ojek ini yang memulai percakapan menggunakan Bahasa Indonesia dengan menanyakan darimana laki-laki itu dan tujuannya mau ke mana.
"La rupamu kaya bagus nemen e, Mas." [Ya wajahmu kayak ganteng banget, Mas.]
"Wah, ampun dialem ngoten, Pakde. Mangke kula ndak mebur." [Wah jangan dipuji gitu, Pakde. Nanti saya malah terbang.] Si Bapak yang di depan pun tertawa renyah. Sangat ramah dan semangat untuk ukuran tukang ojek yang tadinya sempat mengeluh sepi orderan hari ini.
Setelah beberapa kilometer motor itu berjalan, pengemudi ojek itu pun lantas memelankan laju motornya.
"Sek pundi, Mas?" [Yang mana, Mas.]
"Sek wetan niku, Pak." [Yang timur itu, Pak.
Motor berbelok sesuai arahan dan berhenti tepat di depan jalan masuk ke pekarangan sebuah rumah. Rumah di desa rata-rata tidak memiliki pintu pagar. Semua pekarangan rumah terbuka lebar untuk semua orang. Hanya beberapa rumah yang pagarnya ditutup, salah satunya rumah yang sudah tak berpenghuni. Karena desa itu memiliki tingkat kriminalitas yang rendah. Sekalinya ada kemalingan warga akan gotong royong untuk berjaga setiap malam dengan sistem bergilir.