Sumilir 43

46.9K 3.6K 331
                                        

🌾

Kenapa di chapter sebelumnya nggak ada yang sebut asalku dengan benar? padahal aku lihat ada yang satu daerah sama aku.

Perkenalkan, aku Chocopurple, penulis amatir dari Yogyakarta🤝

Jadi, bahasa Jawa yang aku pakai di cerita ini bahasa Jawa orang Jogja ya, makanya buat kalian yang asalnya dari jawa tengah, jawa timus dan sekitarnya kadang merasa ada kata yang asing🤗

🌾

"Beneran nggak ada yang ketinggalan?" Areksa memastikan kelengkapan barang perempuan yang sedang sibuk menoleh ke belakang untuk meletakkan laptopnya di kursi belakang.

"Udah, Mas. Kan tadi udah dicek sama mbak-mbaknya juga."

"Oke."

Areksa segera memutar kemudi dan mengeluarkan mobil dari area parkiran menuju jalanan yang panas dan ramai khas perkotaan. Tak banyak percakapan yang terjadi, Areksa membiarkan Nindya mengotak-atik radio untuk menemukan saluran yang sesuai seleranya.

Saat Nindya sedang terhanyut dalam lantunan lagu yang terputar, Areksa perlahan menepikan mobilnya dan berhenti di kawasan parkir yang ramai dengan toko-toko besar.

"Loh? Sekarang banget, Mas?" Nindya melihat ke atas di mana ada sebuah bangunan besar dengan salah satu tokoh wayang sebagai ikonnya.

"Iya." Areksa membuka dasbor di depan lutut Nidnya dan menarik tas selempang pria warna hitam yang cukup tebal isinya.

"Wow, dari tadi mereka bersemayam di sini?" Nindya tidak menyangka Areksa akan menyimpan uang sebanyak itu di dasbor mobil.

"Iya." Areksa mendekatkan tasnya ke depan muka Nindya. "Coba cium, bau kandang nggak?"

"Iya, lho. Denger mbeekk aku." Mereka berdua tertawa renyah. "Laku berapa, Mas?"

"Kambing sembilan, sapi satu."

Nindya membulatkan bibirnya. Ia pun mengangkat kedua tangannya dan bersiap untuk menghitung. "Satunya berapa?"

Areksa tertawa dan menurunkan kedua tangan Nindya. "Nggak usah dihitung, nanti di dalam kamu cari aja apa yang kamu suka."

Nindya cengengesan. Lalu tawanya mereda dan tatapan matanya berubah menjadi lebih lembut saat menatap mata Areksa. "Kamu ngomong gitu aku jadi aneh, Mas. Biasanya cuma dijajanin makan, minum, atau tiket apa gitu sama cowok, sekarang udah mau cincin aja."

Nindya menunduk. Tangan kanannya diraih dan di genggam oleh laki-laki itu.

"Sebelum aku udah pernah ada yang nawarin beliin kamu cincin?" Tanya Areksa.

Nindya menggeleng. "Kamu yang pertama. Makanya aku ngerasa aneh. Kayak ngerasa belum tanggung jawab kamu aja buat beliin aku barang semahal itu."

"Kan ini jalan menuju aku ambil tanggung jawab atas kamu dari ayahmu, Yang. Pelan-pelan dibiasain ya."

Nindya menggigit bibir bawahnya. Dirinya tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Kalau ia buka mulut sedikit saja, pasti yang keluar adalah kata-kata yang tak beraturan.

Rona merah di pipi Nindya kembali muncul dan membuat Areksa tersenyum lebih lebar. "Yuk, turun."

Keduanya lantas masuk ke toko emas. Karena hari ini adalah hari libur bagi kebanyakan orang, pengunjung toko emas itu cukup ramai. Satu dua orang  memilih gelang dan kalung, beberapa perempuan ada di etalase anting, serta ada beberapa pasang laki dan perempuan yang sedang memilih cincin.

Sumilir [Selesai | Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang