Iya-iya tahu kalau lamaaaaaaa, tapi yang namanya ide itu kan munculnya kayak jodoh. dinanti-nanti eh, nggak dateng-dateng🥵
Terima kasih ya antusiasnya sampai di titik ini. Terima kasih udah nunguin cerita ini. Terimakasih sudah berlapang dada atas segala kekurangan yang ada di cerita ini.❤️💚
Siap untuk kondangan?
Atau siap untuk beli novelnya kalau terbit?
Mau tes ombak dong, mau nggak baca fisiknya? 👀
Nanti yang mau tak doain rezekinya seluas sawah Areksa🤗
🌾🌺
Akhirnya kita sudah sampai di titik emot padi sama bunga pink itu bersanding 🥺
Selamat membaca
🌾🌺
Burung-burung kecil berterbangan di sekitar pepohonan. Satu dua dari mereka berkicau kencang. Hari sudah mulai petang langit biru yang sejak siang tadi bersih tanpa awan kini mulai memerah dengan sorot matahari masih bulat penuh di ujung barat.
Berbeda dari hari-hari sebelumnya, Areksa kini telah duduk anteng di kursi teras. Rambutnya masih setengah basah setelah keramas tadi. Hari ini Areksa sudah mulai 'dikurung' oleh Bu Ningrum. Areksa tidak boleh menyentuh sawah, toko, maupun kandang.
Alhasil sore ini Areksa hanya diam memandangi setumpuk bahan makanan yang baru saja tiba. Di depannya, tepatnya di lantai teras kini banyak bahan makanan yang menumpuk. Motor roda tiga milik tukang sayur langganan ibunya baru saja pergi setelah meletakkan semua pesanan di teras.
Kentang, wortel, cabai, dan berbagai jenis bumbu serta sayuran lainnya nantinya akan dimasak dan dibagikan ke tetangga dan saudara. Hal itu akhirnya menandakan serangkaian acara pernikahannya dengan Nindya akan dimulai.
Teras rumah Pak Bambang sudah benar-benar bersih. Beberapa dahan pohon yang sekiranya akan menganggu sudah dipotong, pot tanaman yang biasa tertata sesuai tempatnya kini berkumpul menjadi satu di dekat pagar, dan besok akan ada kerja bakti untuk mendirikan tenda.
"Wah, udah datang!" Seru Bu Ningrum yang baru muncul dari dalam. "Ini udah semuanya, Le?"
"Katanya tadi udah, Bu," balas Areksa.
Bu Ningrum mengabsen semua barang sesuai dengan daftar yang ia kirimkan ke tukang sayur.
"Buncis segini kurang enggak ya, Le?" Bu Ningrum sesaat menjadi ragu apakah bahan-bahan yang sudah ada akan mencukupi kebutuhannya nanti.
"Enggak tahu, Bu. Kalau kurang beli lagi aja. Uang yang semalam tak kasih masih cukup kan?" Areksa ikut duduk di lantai bersama ibunya.
"Udah, wes cukup. Kamu nggak usah keluar duit lagi, Le. Pokoknya buat urusan sumbangan sama boyongan di sini nanti biar Bapak Ibu yang mikir. Uangmu udah cukup buat seserahan sama mahar."
"Maharnya bukan uang, Bu," koreksi Areksa.
"Wo iya. La tapi, masa maharnya nggak mau dihias, Le? Apa nggak di kasih pita atau apa gitu?"
Areksa tertawa singkat. "Udah dimandiin sama dua Chandra kemarin, Bu."
"Di kasih pita, Le!" Kukuh Bu Ningrum sambil beranjak berdiri dan membawa masing-masing satu keresek berukuran sedang di tangan kanan dan kirinya untuk dibawa masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romance[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)