Halo semua, lama ya?
Aku di sini nggak akan membela diri. Aku mengaku salah karena sudah menghilang selama satu bulanan ini dan membuat kalian menunggu.
Aku baik-baik saja, hanya sedikit writer block dan dilanjut sakit gigi lalu cabut gigi bungsu. Tenang, sudah sembuh kok. Makanya sekarang nulis lagi😅
Terima kasih sudah menunggu selama itu... dan selamat membaca💚
🌾🌺
Kipli berkedip malas bahkan sesekali mahkluk manja itu menguap lebar. Kucing kuning itu berbaring santai menghadap babu kesekiannya yang sedang sibuk menjalankan benda panas di atas papan yang biasa ia gunakan untuk tidur.
Kipli bukannya setia menemani, melainkan menunggu giliran supaya tubuh gembulnya bisa segera berbaring nyaman di atas busa tipis itu.
"Udah, Yang. Setrikanya jangan banyak-banyak."
Kedua telinga Kipli seketika berdiri. Ia menengok ke sumber suara. Areksa mengintip ke area tempat Nindya sedang berkutat dengan setumpuk pakaian kerja miliknya sendiri juga baju batik dan koko yang biasa digunakan Areksa untuk ke masjid.
Kipli mengangkat kepalanya, seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Areksa. Kucing itu memilih bangkit dari tidurnya dan menanti agar perempuan yang merebut tempat tidurnya itu segera pergi.
"Nanggung, Mas. Mumpung niat."
Setelah mandi dan mengangkat jemuran, Nindya tadi tiba-tiba mendapat semangat untuk menyetrika baju-bajunya. Oleh karena itu, perempuan itu kini tidak dapat diganggu gugat sekalipun itu suaminya.
"Lanjut besok aja. Kata Ibu kamu dari tadi belum istirahat." Areksa mendekati Nindya dan berdiri di belakang perempuan yang sedang duduk bersila.
"Bayangan kamu nutupi lampu, Mas," gerutu Nindya. Akibat bayangan Areksa, ia tidak bisa melihat dengan jelas mana permukaan baju yang sudah halus ataupun yang masih kusut.
Areksa bergeser satu langkah. "Tak bantu ya?"
"Masih nutupin. Kamu mending minggir aja deh. Nonton Upin-Ipin aja sana!" Titah Nindya sambil mengibaskan tangannya.
Kipli menatap dua orang itu dengan malas. Kapan ia bisa tidur di singgasana yang direbut itu?
"Padahal aku mau ngajak kamu ke rumah kita, Yang." Areksa memilih duduk di sofa dan menyalakan televisi.
"Sekarang?" Nindya memutar tubuhnya.
Areksa mengangguk. "Meja rias kamu udah sampai."
Mereka memutuskan untuk membeli meja rias baru setelah Pak Bambang melarang mereka untuk memboyong perabotan yang ada di kamar Nindya. Ayah Nindya itu bersikeras agar kamar anak perempuannya tidak ada yang berubah dan memilih menawarkan uang untuk membeli meja rias yang baru. Alasannya agar ketika Nindya dan Areksa menginap, mereka tidak kesulitan beraktivitas karena keterbatasan perabotan. Sebagai seorang suami sekaligus menantu yang baik, Areksa memutuskan untuk menolak uang dari Pak Bambang dan memilih membelikan istrinya meja rias sendiri menggunakan uangnya. Meja rias itu didesain sesuai selera Nindya dan kini sudah mengisi tempat di kamar tidur mereka di rumah baru.
"Mau lihat!" Seru Nindya.
Areksa tergelak. Umpannya tepat sasaran. "Ya udah. Ayo beresin dulu bajunya."
Nindya buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan dengan dibantu oleh Areksa, ia membereskan tumpukan pakaian yang ada.
Tanpa memperdulikan sepasang suami istri yang sedang bekerja sama membereskan pakaian mereka, Kipli dengan tak acuh menguap lebar dan segera meringkuk di atas alas setrika yang masih hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romance[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)