"Tulang rusukmu udah mulai tulang tulung."
-Anindya Nasywa Ayudisha-
🌺
Aku sejujurnya kesulitan membangun suasana antara Mbak Nin sama Mas Areksa karena lagi kurang inspirasi. Tapi tetep aku usahain untuk kapel kebanggaan Bu Ningrum ini. Mohon masukannya ya sayang-sayangkuh.
Selamat malam Sabtu..!
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN BANYAK-BANYAK!
Yang besok masih kerja atau sekolah, semangat ya. Jangan tidur malam-malam!
🌺
"Jadi ikut, Nin?" tanya Ayah saat melihat anak perempuannya keluar kamar dengan baju yang berbeda.
"Jadi, Yah."
Tangan kiri Nindya masih sibuk menggenggam rambutnya di belakang, sementara tangan kanannya kini sedang merapikan poni samping yang tak seberapa tebal itu. Ia kemudian menjepit rambutnya dengan jedai berwarna emas yang tampak kontras dengan warna rambutnya.
"Nin, Ayah boleh tanya sebentar nggak?"
Ayah kini sedang duduk di teras bersama Nindya. Dua motor sudah siap di depan, pintu garasi pun telah terkunci dengan baik. Mereka hanya perlu menunggu Ibu yang masih bersiap di dalam.
"Tanya apa, Yah?" Nindya mengambil tempat di samping ayahnya.
"Kamu sama Areksa dekat ya?"
Nindya menoleh dengan cepat. Raut wajah terkejutnya lantas membuat Ayah tertawa kecil. "Mukamu cepet banget jawabnya, Nin."
"Ayah tahu dari mana? Mas Areksa bilang pa?"
Ayah menggeleng. "Ayah cuma nebak aja."
Keduanya lantas terdiam, memandangi pelataran rumah dan kebun di seberang yang tampak gelap. Untungnya di sepanjang jalan telah dipasangi lampu yang terang sehingga seumur hidup Nindya tinggal di rumah itu, Nindya tidak pernah merasa takut dengan kebun itu.
"Nin." Nindya menoleh, merespon panggilan itu.
"Kamu udah dewasa buat mikir ke depannya. Pesan Ayah masih sama kayak dulu, kalau dekat sama cowok tahu batasan ya. Kalau memang udah mantap, jangan cuma jalan berdua terus."
"Belum jalan bareng kok, Yah," sangkal Nindya.
"Mas Areksa..." Nindya menautkan jemari tangannya di pangkuan. "...baru kemarin-kemarin ini minta izin buat deket."
"Masuk itu!" Ayah berseru senang sambil menepuk bahu anaknya.
"Ayah..." Nindya terkejut dengan respon itu.
"Terus kamu terima? Pacaran dong sekarang?"
"Ya belum lah..." Nindya balas berseru.
"Lha terus?"
"Ya baru mau saling kenal aja," balas Nindya seadanya.
Ayah mengangguk paham. Sambil menepuk pahan anaknya, ia berujar. "Ayah nggak mau ngatur kamu mau sama siapa nantinya. Tapi, yang ini tolong diusahain sampai jadi."
Ayah tertawa diakhir kalimatnya. Hal itu membuat Nindya menggeleng malu dan membantah, "apa sih, Yah."
Ibu pun muncul dari dalam dan langsung mengunci pintu depan. "Pada bicarain apa?"
"Ayah keburu laper, Bu," sela Nindya dengan cepat, untuk membelokkan topik pembicaraan. Nindya pun langsung dihadiahi tatapan tak terima dari ayahnya.
"Ngawur!" Ayah lantas mengacak puncak kepala Nindya. Berkat hal itu, Nindya langsung beranjak menyingkir dari jangkauan ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romance[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)