"Dit, tolongin, Dit."
-Anindya Nasywa Ayudisha-
🌺
Jujurly aku takut setelah ini kalian nggak suka sama Nindya 👉👈
Tapi mari kita simak dulu ya, di akhir nanti tolong kasih feedback.
Jangan lupa follow ig dan tiktok aku yaw, nanti aku kasih spoiler di sana. namanya kayak akun ini, profilnya juga sama akun ini. Jangan lupa diramein dan di repost🥵
🌺
Mobil yang Areksa kendarai sudah meninggalkan rumahnya beberapa saat yang lalu. Hujan telah turun menghapus jejak ban mobil Pak Darman yang ada di jalan masuk halaman rumah Pak Bambang. Dua gelas kotor bekas teh hangat Pak Bambang dan Areksa telah dibawa masuk dan langsung dicuci oleh Pak Bambang. Waktu telah berputar seperti sedia kala. Hanya Nindya yang merasa perputaran waktu di hidupnya seketika menjadi kusut bak benang hasil jahitannya sendiri di celana bagian selangkangan.
"Masuk, Nin. Mas Areksa juga udah nggak kelihatan. Malah kamu nanti yang dilihatin tetangga yang lewat lho." Bu Dewi menyentuh pundak anaknya.
Nindya menoleh dengan wajah yang tertekuk. Matanya merah, hidungnya merah, pipinya lembab, riasan wajahnya sebagian menghilang.
"Bu," panggil Nindya.
"Dalem."
"Kalau Mas Areksa putusin aku gimana?" Tanya Nindya.
Bu Dewi terdiam tanpa membalas. Wanita yang memiliki dua anak itu berpikir sebentar sebelum akhirnya bersuara, "kayaknya enggak deh. Mas Areksa Ibu lihat bukan laki-laki yang kayak gitu."
"Terus kita nanti gimana?"
Bu Dewi mengerutkan keningnya. "Kamu ini pernah pacaran nggak ta?"
Nindya mengangguk.
"Tapi belum ada yang sampai mau melamarmu ya?"
Nindya kembali mengangguk.
Bu Dewi tersenyum memaklumi. "Nggak usah di pikir terlalu dalam dulu. Sekarang mending kamu ganti baju, bersih-bersih, terus istirahat. Pikir besok lagi. Ibu ngerti ini nggak bisa sembarangan kamu pilih iya atau nggak kayak ditawari makanan."
Nindya berjalan gontai masuk ke dalam rumah sementara ibunya menutup dan mengunci pintu depan. Satu persatu lampu yang tidak terlalu berguna sudah mulai padam, tanda jika malam sudah semakin larut dan memasuki jam tidur.
Nindya melempar tas selempang dan ponselnya dengan sembarangan. Ia duduk di pinggir kasur dengan kepala menoleh ke arah cermin. Perempuan gila mana itu yang terlihat di pantulan cermin rias kamarnya?
"Alah-alah, ayune bar nangis..." [Cantiknya habis nangis...]
Pak Bambang muncul dan bersandar di kusen pintu kamar Nindya.
"Ayah tadi ngomong apa aja sama Mas Areksa?"
"Embuh. Lali Ayah." [Nggak tahu. Lupa Ayah.] Pak Bambang mengangkat bahunya dengan santai dan balik badan untuk menyusul istrinya yang sudah masuk ke kamar lebih dahulu.
"Yah," Nindya berjalan cepat ke arah pintu.
Pak Bambang memutar badannya. "Apa? Nggak terima wawancara, udah ngantuk. Mending sekarang kamu bersih-bersih terus tidur juga, capek matamu itu."
Setelah berkata demikian, Pak Bambang pun menghilang di balik pintu kamarnya.
Meski kedua orang tuanya telah mengatakan hal yang sama. Nindya tetap tidak bisa berhenti memikirkan jawaban yang ia berikan pada Areksa tadi. Pakaian memang telah berganti. Nindya tak lagi memakai celana panjang dan kemeja. Kini perempuan itu berbaring di tengah-tengah kasur dengan daster hitam. Matanya terus berkedip menatap langit-langit kamarnya. Lampu kamar memang telah ia padamkan, obat nyamuk elektrik telah ia pasang, tapi otaknya dan hatinya tak kunjung lelah memikirkan perihal kencan yang berakhir tidak manis tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Roman d'amour[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)