Sumilir 41

38.7K 3.3K 214
                                        

"..."

-Areksa Mahendra-

🌾

Spoiler kemarin kurang ajar kan🤣

Ingat, kalau mau nunggu update sambil ngintip spoiler, bisa follow ig dan tiktok aku yang namanya sama kayak akun Wattpad inii🤗

ini 3000 kata, cukup lah ya🔪

🌾

Tak banyak yang berubah dari keseharian Areksa pasca niat baiknya ditolak Nindya. Meski sedikit menelan kekecewaan dan berujung melewati malam panjang tanpa rasa kantuk, Areksa lantas menjalani aktivitasnya seperti biasa. Ia menyibukkan dirinya dengan urusan kandang, toko pakan, dan sawah yang mulai ia perhatikan lagi secara langsung.

Areksa sengaja memberi waktu untuk dirinya dan Nindya agar bisa sama-sama memikirkan kembali tentang diri mereka masing-masing dan juga hubungan mereka ke depannya. Areksa ingin mereka bertemu dengan membawa jawaban yang dibutuhkan dari segala pertanyaan yang muncul, contohnya bagaimana perasaan mereka dan apa yang mereka cari dari satu sama lain.

Untungnya meski rumah mereka masih cukup dekat, Areksa berhasil untuk tidak bertemu baik sengaja maupun tidak sengaja dengan Nindya. Selain itu, meski Nindya terus mengirim pesan setiap hari, perempuan itu tidak nekat datang ke rumah dan membuat ibunya tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara keduanya. Alangkah repotnya dunia jika ibunya sudah tahu bahwa dirinya sempat mengungkapkan niat baiknya pada Nindya.

Areksa menarik napas panjang dengan perlahan. Ia memenuhi paru-parunya dengan udara sejuk di pagi hari ini. Matahari masih menyorot lembut, langit dipenuhi gumpalan awan tipis berwarna putih bersih, dedaunan masih basah akan embun pagi yang segar.

Areksa tak hanya berkeliling di sepanjang jalanan aspal atau cor lagi. Sudah beberapa hari ini rute jalan paginya hanya berupa tanah yang ditumbuhi rumput liar yang menjadi batas antara satu sawah dengan sawah lain. Rata-rata tumbuhan padi yang ada di sawah dekat rumahnya masih hijau dan tegak menantang angin. Setiap langkahnya, kaosnya selalu bersentuhan dengan padi dan menimbulkan suara gesekan lembut yang telah lama tidak ia dengar.

Setelah berjalan cukup jauh dari jalan aspal. Areksa menghentikan langkahnya. Kali ini ia sendirian, Pak Darman memilih melerai dua ayam jago yang lepas dari sekat dan sudah berkelahi sejak subuh tadi.

Areksa melihat ke sekeliling. Masih belum ada orang yang ke sawah sepagi ini. Areksa bebas berkali-kali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya bersama dengan rasa campur aduk yang memang berhari-hari ini ia pendam.

Sejujurnya ia sudah kepalang merindukan Nindya. Ia rindu akan suara perempuan itu. Ia rindu membahas banyak hal ringan dengan perempuan itu. Ia juga rindu menyaksikan pipi bersih Nindya perlahan bersemu hingga merah itu menjalar sampai ke telinga. Dua minggu adalah waktu yang cukup lama untuk tak bertemu. Bahkan setelah dijalani rupanya terasa lebih panjang dari yang ia pikirkan pada awalnya.

Sebuah notifikasi pesan berbunyi dari dalam saku celana pendek Areksa. Laki-laki itu tak langsung mengecek, ia lebih memilih menunggu barang satu dua detik kemudian. Tebakannya dalam hati benar, ada beberapa notifikasi serupa yang menyusul.

"Pasti Nindya," gumam Areksa. Ia pun membuka ponselnya.

Nindya

|Ini hari ke berapaaa?
|Perasaan udah dua minggu?
|Yang kamu maksud dua hari minggu kan, Mas?
|Lama banget sumpah!
|Udah kangen Kipli jugaa
05.51

Sumilir [Selesai | Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang