"Ya ampun, tingkahmu..."
-Areksa Mahendra-
🌾
Ini hadiah buat yang bangun sahur ya:)
Dan bahasa jawa di awal bab 26 itu isinya cuma permintaan maaf karena kemarin aku alam update karena nggak enak badan, sama mau ngucapin selamat berpuasa aja kok. Cuma buat seru-seruan. Besok-besok aku usahain langsung ada terjemahannya yaa...😘
Aku nggak tahu alur bab ini bagus atau nggak, tapi aku gak sabar buat update lagi. Mau coba nyamain time line di real life. Areksa juga udah tak buat lancar jalan biar makin aur-auran Mase Aneska itu.
Salah ketik mohon tandai, ini aku udah ngantuk bgt nulisnya
🌾
Areksa meletakkan gelasnya ke meja setelah ia tandaskan isinya. Teh panas buatan Ibu membuat badannya menjadi kembali segar sekaligus menjadi gerah. Areksa kemudian mengumpulkan tiga biji kurma bekasnya di salah satu platik yang menang disediakan untuk mengumpulkan sampah di atas meja makan. Setelah ia menghabiskan segelas teh panas, tiga biji kurma, juga satu bakwan bikinan Aneska yang kurang garam, Areksa pun bangkit berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju kamarnya sembari membuka kaosnya utnuk bisa segra berganti pakaian lebih rapi untuk pergi ke masjid.
Tepat ketika ia berjalan keluar dari halaman rumahnya, iqamah pun terdengar dari pengeras suara masjid.
"Duluan aja, Pak," ujar Areksa pada Bapak yang setia menyamai langkah pelannya.
"Alah, pasti yang imamnya Mbah Adi. Lama itu Al-Fatihahnya," Bapak berujar dengan enteng.
Riuh ramai masjid oleh orang-orang pun perlahan menghilang dan berganti dengan suasana yang lebih tenang. Sama seperti yang Bapak ucapkan, imam saat ini adalah Mbah Adi. Namun, keduanya tetap tertinggal satu rakaat. Bapak tidak banyak berkomentar, ia hanya bergegas menarik satu kursi lipat untuk anaknya dan ia letakkan di samping tempatnya. Bapak mematikan anaknya duduk dengan nyaman sebelum memulai salat.
[aneh bgt terharu sama tulisan sendiri:(]
Selepas salat maghrib selesai semua orang mulai pulang ke rumah mereka satu persatu. Di suasana ramadhan seperti ini adalah waktu bagi anak-anak kecil berkeliaran di jalanan desa selepas petang tanpa takut dimarahi orang tua. Dengan sepeda kebanggaan mereka masing-masing, anak-anak laki-laki pun menalungkan sarung mereka di bahu dan saling membalap dengan gelas plastik yang sengaja diselipkan di jeruji ban sepeda mereka.
Para orang tua pun berbondong-bondong berjalan kaki bersama untuk pulang, termasuk Bapak yang sedang mengobrol di sepanjang jalan bersama dengan tetangganya. Mereka berdua membahas perihal rencana penanaman padi. Di depan Bapak, terdapat anaknya yang berjalan begitu hati-hati.
"Nek nggenne njenengan kapan?" [Kalau punya kamu kapan?] Tanya Bapak.
"Nggen kula tasih suwe. Wong sikik nggene njenenang le winih." [Punyaku masih lama. Orang duluan punya kamu pembenihannya."
Mereka berdua bukan bermaksud untuk tidak mengikutsertakan Areksa dalam percakapan itu, hanya saja percakapan itu terjadi secara spontan ketia dua pria paruh baya itu sama-sama memakai sendal di depan pintu masjid.
"Wo nggih, nek ibu-ibu sampun do sela, gek ngabari mawon. Mangke uba rampene ben disiapke cah-bocah." [Ya, kalau ibu-ibu sudah pada luang/siap, langsung ngabarin aja. Nanti perlengkapannya biar disiapin anak-anak.]
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romance[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)