Sumilir 14

42.6K 3.1K 73
                                        

"Bukan tentang benar atau salah, tapi tentang pilihan."

-Anindya Nasywa Ayudisha-

🌺

kayaknya banyak pendatang baru, tahu Sumilir dari mana?

Tumben update siang?

Ini draf tadi malam. Sengaja di tunda biar nggak keliatan kalau aku kalong (kelelawar)

🌺

Nindya tersenyum menatap satu setel pakaian yang telah ia setrika dengan mulus dan wangi. Setelah itu terdiri dari kemeja biru langit dengan aksen tali panjang yang ia rangkai menjadi pita di bagian dada dan celana hitam. Ia juga tidak lupa menggantung ikat pinggang hitam ke hanger.

"Masih juga sore udah siap banget mau kerja," goda ibunya.

Nindya tersenyum semakin lebar. Rasanya ketika tahu bahwa ia diterima kerja di Ageman lebih menyenangkan daripada saat ia diterima bekerja di perusahaan besar dulu. Dahulu ia hanya mengedepankan ambisi agar memiliki karir yang cemerlang di kota. Ambisi tersebut tentu tidak salah. Ia semangat menjalaninya meski pada akhirnya ia memilih pulang dengan segala pertimbangannya.

"Aku cuma setrika doang kok, Bu. Kalau nanti malam takut males terus kelupaan."

"Besok mau bekal apa?"

Nindya tersadar jika besok dan seterusnya ia bisa menjalani hari kerja dengan lebih mudah berkat ada ibunya. Ia tidak perlu memusingkan menu apa yang akan ia makan hari ini. Ia tidak perlu menghadapi kekosongan kamar kosnya setelah seharian bekerja. Ia sudah pulang. Meski jarak tempuh kantor barunya lebih jauh dari jarak kos dengan kantor lamanya, ia akan baik-baik saja saat pulang ke sebuah bangunan yang sejak kecil ia sebut rumah itu.

"Terserah Ibu, deh. Ibu masak apa, bakal aku bawa."

"Udang mau? Tadi pagi di pasar ada yang nawari."

"Diapain, Bu?"

Kini mereka berdua mulai berjalan ke dapur. Ibu menunjukkan satu plastik udang dengan ukuran sedang yang is simpan di freezer.

"Dioseng karo tahu, ro jipang?"

"Boleh."

"Besok bangun lebih pagi ya. Mau pake air anget nggak besok?"

Mereka berdua berpindah ke ruang tengah. Ruangan itu tidak terisi sofa atau kursi lainnya. Hanya sebuah karpet dengan toples peyek di tengahnya dan di atas toples itu ada remote televisi.

Nindya berbaring tengkurap sementara ibunya bersandar di tembok.

"Besok nek aku bangun dulu, aku aja yang rebus."

Nindya cengengesan. Ia tidak yakin dengan kalimatnya sendiri. Saat SMA pun ia sudah sering berjanji akan merebus air sendiri di pagi hari. Namun, kenyataannya tidak demikian. Setiap kali ia buka mata, ayahnya telah lebih dulu duduk di depan tungku perapian dengan panci berisi air yang sudah hampir mendidih. Air di panci itu nantinya akan cukup untuk Nindya dan Dimas mandi sebelum berangkat sekolah.

"Di atas kamu yang bangun pagi masih ada Ayah yang bangun lebih pagi." komentar Ibu. Ibu tiba-tiba beranjak berdiri. Berjalan ke kamar Dimas yang telah kosong sejak kemarin karena sang pemilik kamar telah kembali ke perantauan.

Ibu menyalakan lampu kamar itu. Rutinitas itu berjalan lagi seperti saat sebelum Dimas pulang. Setiap hari Ibu akan menyalakan dan mematikan lampu sesuai waktunya di kamar Dimas, begitupun di kamar anak perempuannya saat masih di perantauan.

Sumilir [Selesai | Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang