[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana]
Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ini bukan akhir bahagia kita, Sayang, tapi ini akan menjadi awal dari banyak bahagia yang akan datang ke keluarga kecil kita nanti. Jadi, nanti kita sama-sama tangkap bahagia itu satu persatu ya?"
-Areksa Mahendra-
🌺🌺❤️🌺🌺
❕Sumilir : Bubaran Tarup bukan cerita baru melainkan ekstra part dari Sumilir❕
🌺🌺❤️🌺🌺
Areksa mengganti posisi tidurnya dari yang semula menghadap ke kanan menjadi telentang. Tangan kirinya pun ia hempaskan ke sisi kiri kasurnya hingga mengenai sebuah benda yang lunak namun bukan kasur. Matanya seketika terbuka dan dengan cepat Areksa lantas menengok ke arah kiri. Ia langsung disuguhi dengan pemandangan rambut hitam panjang yang terurai berantakan lengkap dengan sesosok tubuh perempuan yang memunggunginya. Areksa menghela napas. Areksa baru teringat jika malam ini ia memiliki teman tidur yang baru selain bantal dan guling.
Areksa meraih ponselnya dan melihat jam yang tertera di layar. Gelapnya kamar membuatnya tidak bisa melihat jam yang menempel di dinding kamarnya. Tak lama kemudian, terdengar suara dari pengeras suara masjid yang mengumandangkan adzan subuh. Alhasil dengan mata masih menyipit, rambut yang mencuat kesana kemari, dan kaos yang banyak lipatan, Areksa bangkit dari kasur dan keluar untuk ke kamar mandi.
Areksa meninggalkan istrinya yang masih begitu nyenyak itu ke masjid. Areksa tidak tega untuk membangunkannya lebih awal karena semalam mereka baru memejamkan mata ketika jam sudah melewati pukul dua belas. Acara boyongan mereka berakhir pada setengah sebelas. Kemudian keduanya masih meladeni beberapa sanak saudara yang belum pulang. Areksa pun harus mendampingi Nindya saat perempuan itu merasa aneh dan tidak nyaman saat kedua orang tuanya berpamitan pulang. Padahal jarak mereka hanya beda dusun.
Malam pertama mereka berakhir dengan Nindya yang tertidur lebih dulu setelah membersihkan diri. Saat Areksa masuk kamar, ia sudah mendapati istrinya tidur meringkuk dengan ponsel yang menyala. Tampak wajah Nindya begitu lelah rambutnya pun masih belum kering sepenuhnya karena harus keramas tengah malam untuk menghilangkan efek hair spray yang sebelumnya ia pakai.
"Nindya masih tidur, Le?" Bu Ningrum muncul dengan daster batik berwarna biru tua. Rambutnya yang sudah semi memutih tampak tergulung seadanya menggunakan ikat rambut.
"Iya, Bu. Nanti aja ya banguninnya. Kelihatannya masih nyenyak banget." Areksa baru saja melepas sarung dan baju batik yang digunakan untuk ke masjid.
Bu Ningrum menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat. "Gimana Le, rasanya tidur sama istri?"
Areksa membalasnya dengan tersenyum kecil. Suasana rumahnya mulai ramai. Paklik, dan Buliknya sudah terbangun sementara para sepupunya yang kemarin ikut memeriahkan acara pernikahan masih ada yang terlelap dengan bermacam posisi tidurnya. Mereka semalaman tidur bersama di depan televisi dengan beralaskan kasur lipat.